INVESTORTALK.ID — Penerima beasiswa TELADAN tercatat 27 persen lebih mungkin mendapatkan pekerjaan dibanding lulusan lain, menurut studi Tanoto Foundation di Journal of Further and Higher Education. Temuan itu sekaligus mengonfirmasi bahwa kesiapan karier lulusan lebih banyak ditentukan faktor non-akademik seperti ketangguhan, komunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan mandiri.
Tanoto Foundation mengidentifikasi tiga akar kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Ketiganya menjadi dasar program beasiswa TELADAN (Teaching Leadership, Advancing the Nation) yang dijalankan sejak 2006.
Studi berjudul What Drives Graduate Employability? menemukan bahwa kesiapan kerja lulusan tidak semata ditentukan nilai akademik. Faktor seperti grit, kemampuan menetapkan tujuan, kolaborasi, dan pengambilan keputusan mandiri justru lebih dominan.
Dampaknya terukur. Penerima beasiswa TELADAN dua kali lebih mungkin mengalami mobilitas sosial ke atas, bahkan menyamai atau melampaui pendapatan orang tua mereka dalam satu tahun pertama bekerja.
Karyawan Andal Terbentuk dari Pengalaman Nyata
Fondasi akademik tetap penting untuk karier jangka panjang. Namun di ruang kerja, seseorang dituntut mampu menjelaskan gagasan, berkolaborasi dengan beragam karakter, merespons situasi tidak pasti, dan mengambil keputusan cepat.
Kemampuan itu tidak muncul instan. Proyek, magang, kegiatan organisasi, keterlibatan komunitas, mentoring, hingga kesediaan menerima masukan menjadi jalur pembentukannya.
Ketimpangan Akses Pengalaman Jadi Penghambat
Tidak semua mahasiswa punya akses setara untuk memperkaya CV dengan pengalaman relevan. Magang, program pertukaran, organisasi ekstrakurikuler, dan kesempatan membangun jejaring masih jadi barang mewah bagi sebagian kampus.
Padahal masa kuliah dianggap waktu ideal membangun pengalaman tersebut. Jejaring profesional dan eksposur ke calon pemberi kerja turut menentukan siapa yang lebih menonjol di antara para lulusan.
Karena itu, mentoring terstruktur, magang, dan eksposur profesional menjadi kunci memperluas peluang kerja. Tanpa intervensi, kesenjangan ini cenderung melebar.
Mulai dari Semester Awal, Bukan Rencana Kaku
Memulai lebih awal bukan berarti mahasiswa harus menyusun rencana lima tahun yang paten. Kuliah adalah periode eksplorasi minat, kekuatan, nilai pribadi, dan area yang masih perlu dikembangkan.
Yang terpenting adalah kemauan mencoba berbagai jalan, mengambil tanggung jawab baru, belajar dari kegagalan, dan membuat pilihan yang makin terarah. Semakin dini proses ini dimulai, semakin matang bentuknya saat memasuki dunia kerja.
Ekosistem TELADAN Selama 3,5 Tahun
Program TELADAN memberi dukungan biaya kuliah penuh dan tunjangan hidup bulanan. Penerimanya, yang disebut Tanoto Scholars, juga mendapat pengembangan kepemimpinan terstruktur selama 3,5 tahun, dari semester dua hingga semester delapan.
Pengembangan itu diperkuat ekosistem lebih luas: Tanoto Scholars Association, inisiatif Pay It Forward, Tanoto Scholars Gathering, kesempatan magang, eksposur global, hingga jaringan alumni di dalam dan luar negeri.
Sejak 2006, lebih dari 8 ribu Tanoto Scholars tersebar di 10 universitas mitra. Pendekatannya holistik, mulai dari kepemimpinan diri, kepemimpinan kolaboratif, hingga persiapan langsung menuju dunia profesional.