INVESTORTALK.ID — Sebanyak 85,8% pengembang game Jepang kini memakai AI generatif dalam proses produksi mereka, melonjak dari 51% pada tahun sebelumnya. Survei terbaru CESA yang dipaparkan di Tokyo Game Show 2026 menunjukkan adopsi AI di industri game Jepang tumbuh lebih dari 70% dalam setahun. Lonjakan ini menegaskan AI bukan lagi alat eksperimental, melainkan bagian tetap dari alur kerja studio-studio besar.
Asosiasi Produsen Hiburan Komputer (CESA) merilis hasil survei yang dipresentasikan di ajang Tokyo Game Show 2026. Dari seluruh responden, 85,8% menyatakan memakai AI generatif sebagai bagian dari proses pengembangan game mereka.
Angka itu melonjak drastis dibanding survei tahun lalu, ketika baru 51% pengembang yang melaporkan penggunaan AI, baik secara rutin maupun sesekali. Artinya, adopsi AI di industri game Jepang tumbuh lebih dari 70% hanya dalam satu tahun.
Hampir Dua Pertiga Pengembang Pakai AI Setiap Hari
Intensitas pemakaian juga terungkap dalam survei tersebut. Sebanyak 63% responden mengaku menggunakan alat AI setiap hari, sementara 22,8% lain memakainya hanya sesekali.
Temuan ini memperkuat gambaran bahwa AI telah menjadi perkakas harian di ruang kerja pengembang, bukan sekadar teknologi pelengkap yang dicoba sesekali.
Efisiensi Jadi Alasan Utama, Bukan Penggantian Tenaga Kerja
CESA mencatat sejumlah alasan yang paling sering disebut responden. Manfaat utama yang dikutip adalah peningkatan efisiensi operasional dan produktivitas.
Dua alasan berikutnya adalah siklus pengembangan yang lebih pendek serta biaya pengembangan dan operasional yang lebih rendah. Ketiganya mengarah pada satu benang merah: tekanan industri untuk merilis game lebih cepat dengan sumber daya terbatas.
Hampir seluruh responden membantah memakai output AI generatif langsung di dalam kode mereka. Alat AI disebut hanya dipakai untuk debugging, koreksi kesalahan, dan pengujian otomatis.
Para pengembang menegaskan bahwa setiap penggunaan AI tetap "dikonfirmasi, dimodifikasi, dan diawasi" oleh manusia untuk mencegah penyalahgunaan. Studio-studio juga dilaporkan membatasi jenis alat AI yang boleh dipakai dan seberapa luas penggunaannya.
Keputusan kreatif dan penilaian kualitas akhir tetap berada di tangan manusia. Pembatasan ini penting karena menyangkut hak kekayaan intelektual atas karya yang dihasilkan.
Capcom hingga Square Enix Ikut Disurvei
Survei ini digelar awal tahun ini dengan melibatkan pengembang dari sejumlah perusahaan anggota CESA. Di antaranya Capcom, Sega, Level-5, Konami, Square Enix, Koei Tecmo, dan Sony.
Direktur Eksekutif CESA Tsutomu Masuda menyatakan laporan tahun ini menyoroti meningkatnya penggunaan AI generatif di lingkungan pengembangan. Ia mengingatkan bahwa adopsi teknologi baru tidak boleh mengorbankan hak kekayaan intelektual.
CESA baru merilis versi pratinjau dari survei lengkapnya. Laporan rinci dijadwalkan terbit pada Desember mendatang.
Versi pratinjau belum mengungkap secara persis bagaimana pengembang menyisipkan AI ke dalam alur kerja mereka. Namun data yang ada sudah cukup menunjukkan arah industri: AI semakin sulit dipisahkan dari proses produksi game modern.
Tren ini sejalan dengan adopsi AI yang meluas di kalangan software engineer lintas industri. Alat bantu coding berbasis AI kini dianggap bagian penting untuk mempercepat pengembangan aplikasi maupun game.