JPMorgan Setop Prediksi Harga Minyak, Yield US Treasury 10 Tahun Sentuh 5%

Minggu, 20 September 2026 | 09:00:00 WIB
JPMorgan Setop Prediksi Harga Minyak, Yield US Treasury 10 Tahun Sentuh 5%

INVESTORTALK.ID — JPMorgan Chase & Co. resmi menghentikan prediksi dasar harga minyak dunia, langkah langka yang belum pernah dilakukan bank terbesar Amerika Serikat itu. Keputusan diambil setelah perang AS-Israel melawan Iran memanjang tanpa kejelasan arah penyelesaian. Yield Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun ikut menyentuh level psikologis 5%, memicu kecemasan di Wall Street dan Washington.

Tim analis JPMorgan menyatakan tidak lagi sanggup memodelkan arah harga komoditas paling krusial di dunia tersebut. Mereka menyebut manuver mendadak Presiden AS Donald Trump sebagai faktor utama yang membuat model pasar minyak mereka tak lagi berguna.

"Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara memodelkan akhir dari konflik ini (endgame)," tulis tim analis JPMorgan dalam catatan riset resminya.

Garis Merah yang Dilanggar Trump

Sebelumnya, analis pasar meyakini ada batas yang tidak akan dilanggar pemerintahan Trump. Dua di antaranya menjaga harga minyak di bawah USD 100 per barel dan bensin di bawah USD 5 per galon.

Trump justru meningkatkan retorika perang. Ia mengancam akan "mengumpulkan dan memusnahkan" (annihilate) pemerintah Iran, sinyal yang membuat pasar sulit membaca arah kebijakan berikutnya.

Yield US Treasury 10 Tahun Tembus 5%

Dampak konflik menjalar cepat ke pasar obligasi AS. Imbal hasil Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun menyentuh angka psikologis 5%.

Level tersebut memicu kecemasan tinggi di Wall Street dan Washington terkait stabilitas sistem keuangan global. Kenaikan yield obligasi biasanya menekan valuasi saham dan memperketat kondisi likuiditas.

Proyeksi Ekstrem yang Tak Terjadi

JPMorgan mengakui beberapa proyeksi ekstrem mereka sebelumnya tidak terwujud. Salah satunya lonjakan harga minyak hingga USD 150 per barel.

Penyebabnya adalah fenomena demand destruction, yakni penurunan permintaan akibat harga yang terlalu mahal. Konsumen dan industri mengurangi konsumsi saat harga melonjak, sehingga tekanan harga mereda dengan sendirinya.

Artinya bagi Pasar Global

Keputusan JPMorgan menandai pertama kalinya bank terbesar AS itu gagal memetakan arah harga minyak. Bagi investor, ini sinyal bahwa model valuasi berbasis asumsi harga minyak berisiko meleset jauh.

Yield US Treasury di level 5% juga menjadi acuan penting bagi pasar keuangan global, termasuk aliran modal ke negara berkembang. Ketidakpastian geopolitik yang memanjang membuat volatilitas aset berisiko cenderung bertahan.

Sejauh mana konflik AS-Israel-Iran berlanjut akan menentukan apakah JPMorgan dan bank lain kembali membuka proyeksi dasar mereka. Sampai itu terjadi, pasar minyak berjalan tanpa peta acuan dari salah satu rumah riset paling berpengaruh di Wall Street.

Terkini