Potensi Luas Panen Jagung Juni–Agustus Turun, Produksi Melandai

Potensi Luas Panen Jagung Juni–Agustus Turun, Produksi Melandai
Ilustrasi - Petani di kebun jagung. (Foto: NET)

JAKARTA — Prospek hasil jagung nasional mulai tampak kehilangan tenaga menjelang masuknya semester II/2026. Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi bahwa luas lahan panen beserta produksi jagung selama periode Juni–Agustus akan mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga laju pertumbuhan produksi dari Januari hingga Agustus terpantau hampir jalan di tempat.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan bahwa luas lahan panen untuk jagung pipilan pada Mei 2026 menyentuh 0,21 juta hektare, angka ini naik dari capaian Mei 2025 yang tercatat 0,17 juta hektare. 

Akan tetapi, perkiraan untuk luas panen pada rentang Juni sampai Agustus diproyeksikan hanya berkisar 0,72 juta hektare, atau mengalami penyusutan sebesar 2,36% dari periode yang sama di tahun lalu.

Melihat situasi tersebut, akumulasi luas lahan panen jagung pipilan untuk periode Januari–Agustus 2026 diestimasi berada di angka 1,97 juta hektare, menyusut kurang lebih 0,49% dari periode yang sama pada tahun 2025.

Selaras dengan hal itu, hasil jagung pipilan kering ber-KA 14% pada Mei diprediksi mampu menyentuh 1,18 juta ton, jumlah yang lebih besar daripada realisasi Mei tahun lalu sebesar 0,99 juta ton. 

Meskipun begitu, estimasi produksi untuk kurun waktu Juni–Agustus diduga hanya berkisar 4,23 juta ton, alias merosot 4,39% secara tahunan (year-on-year).

Secara total keseluruhan, hasil jagung pipilan kering untuk rentang Januari–Agustus 2026 diperkirakan berada di angka 11,43 juta ton. Jumlah tersebut cuma naik tipis sekitar 0,002 juta ton atau sebesar 0,02% dari periode yang sama di tahun sebelumnya.

Ateng memaparkan bahwa seluruh estimasi ini statusnya masih temporer dan berpeluang bergeser selaras dengan situasi riil pertanaman di area lahan.

"Potensi luas panen ini masih dapat berubah bergantung pada kondisi di lapangan, termasuk serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen oleh petani," ujarnya dalam rilis data BPS Juni 2026, Rabu (1/7/2026).

Adanya tren penurunan produksi di semester II ini memperlihatkan bahwa lonjakan panen di awal tahun belum cukup kuat untuk mempertahankan ritme pertumbuhan hingga penghujung masa tanam.

Di kala ancaman musim kemarau kian menguat beserta adanya risiko El Nino, ketepatan dalam menjaga level produktivitas tanaman jagung akan menjadi elemen krusial dalam menyokong suplai dalam negeri, khususnya demi memenuhi kebutuhan sektor industri pakan ternak yang sangat bertumpu pada pasokan jagung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index