BPS: Produksi Padi Januari–Agustus 2026 Cuma Tumbuh 0,06%

BPS: Produksi Padi Januari–Agustus 2026 Cuma Tumbuh 0,06%
Badan Pusat Statistik (BPS). (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa produksi padi di tingkat nasional selama periode Januari hingga Agustus 2026 hanya akan mengalami pertumbuhan tipis sebesar 0,06% secara tahunan (year-on-year), walaupun terjadi perluasan pada area panen. 

Potensi capaian produksi di sisa musim tanam kali ini masih diselimuti oleh ancaman kekeringan, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), serta pergeseran jadwal panen yang bisa memengaruhi hasil akhir di lapangan.

Berdasarkan estimasi BPS, total produksi padi pada kurun waktu Januari–Agustus 2026 diprediksi menyentuh angka 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah tersebut mencatatkan kenaikan sekitar 30.000 ton atau setara 0,06% jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi ini selaras dengan estimasi luas panen yang mencapai 8,35 juta hektare, atau tumbuh 0,43% secara tahunan. 

Luas panen pada Mei 2026 sendiri tercatat berada di angka 980.000 hektare, mengalami penurunan sebesar 2,35% dibandingkan Mei tahun lalu. Kendati demikian, potensi area panen untuk periode Juni hingga Agustus diperkirakan mampu menyentuh 2,88 juta hektare, naik 1,38% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

"Berdasarkan hasil amatan Survei Kerangka Sampel [KSA], mayoritas lahan pertanian pada Mei berada pada fase ditanami padi atau standing crop sebesar 39,16%. Sebagian besar berada pada fase generatif yang berpotensi dipanen pada Juni," ujar Ateng dalam rilis data BPS, Rabu (1/7/2026).

Pihak BPS juga memperkirakan produksi padi khusus untuk bulan Mei berada di angka 4,92 juta ton GKG, yang berarti menyusut 3,43% dibandingkan Mei 2025. Di sisi lain, proyeksi kuantitas produksi sepanjang Juni–Agustus diperkirakan menyentuh 14,61 juta ton GKG, atau mengalami peningkatan sebesar 1,18% dari periode yang sama tahun lalu.

Jika dikonversikan ke dalam bentuk beras untuk kebutuhan konsumsi pangan, hasil produksi pada Mei diestimasi sebesar 2,84 juta ton, alias merosot 3,43% secara tahunan. Sementara itu, untuk proyeksi produksi beras sepanjang Juni–Agustus diperkirakan mencapai 8,42 juta ton atau mengalami kenaikan 1,17%. 

Melalui perhitungan tersebut, akumulasi produksi beras nasional selama Januari–Agustus 2026 diproyeksikan berada di angka 25,28 juta ton, atau sekadar naik tipis 0,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Walau demikian, BPS memberikan catatan bahwa seluruh perkiraan di atas masih berbentuk potensi yang dinamis dan berpeluang bergeser tergantung situasi riil di area pertanian. 

Menurut Ateng, pencapaian realisasi produksi sampai bulan Agustus mendatang bakal sangat ditentukan oleh situasi pertanaman, termasuk ancaman serangan hama, organisme pengganggu tanaman, bencana banjir, kekeringan, hingga modifikasi waktu panen oleh para petani.

"Potensi ini akan bergantung pada kondisi pertanaman hingga Agustus. Apabila terjadi serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan maupun perubahan waktu panen oleh petani, maka akan memengaruhi luas panen maupun produksi," ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index