JAKARTA — PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) membidik pertumbuhan laba bersih pada tahun ini, meski tetap bersiap menghadapi potensi penurunan sepanjang 2026 apabila disandingkan dengan perolehan di tahun 2025.
Direktur Utama SIDO Irwan Hidayat memperkirakan perolehan laba perusahaan pada tahun ini tidak akan berselisih jauh dari realisasi tahun lalu, bahkan ada peluang merosot sedikit akibat situasi pasar yang sedang penuh tantangan.
Kendati begitu, ia tetap percaya diri bahwa perseroan bakal mencetak laba yang berskala sehat.
"Kami optimistis masih bisa tumbuh tapi dengan keadaan pasar saat ini, ya laba mungkin turun sedikitlah. Kira-kira sama seperti tahun lalu atau mungkin turun sedikit," ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Untuk melewati dinamika ekonomi tersebut, Irwan menegaskan bahwa SIDO bakal tetap bertumpu pada kompetensi utama mereka di sektor herbal serta kesehatan.
"Dalam kondisi sulit justru lahir banyak kesempatan bagi mereka yang mau berinovasi. Kami tetap fokus pada bisnis yang kami pahami, yaitu herbal dan kesehatan, daripada masuk ke sektor yang tidak kami kuasai," terangnya.
Merujuk pada laporan keuangan per 31 Maret 2026, nilai pendapatan Sido Muncul berada di angka Rp640,5 miliar, mengalami penurunan berkisar 19% dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang menyentuh Rp789,1 miliar.
Kondisi tersebut berimbas pada laba bersih SIDO yang tercatat sebesar Rp147,21 miliar pada triwulan pertama 2026. Angka pencapaian ini terkoreksi sekitar 36,8% jika dibandingkan dengan kuartal I tahun lalu yang mampu menembus Rp232 miliar.
Berdasarkan penjelasan Irwan, merosotnya performa keuangan ini bukan dipicu oleh anjloknya permintaan dari konsumen, melainkan sebagai efek dari proses normalisasi stok di tingkat distributor.
Irwan Hidayat memaparkan bahwa penurunan ini menjadi dampak dari langkah penyesuaian persediaan (inventory adjustment) yang ditempuh oleh distributor usai penumpukan stok pada akhir 2025.
Menurut ia, dinamika ini tidak menggambarkan melemahnya daya beli masyarakat. Sebaliknya, angka permintaan di level ritel terpantau masih bergerak positif, khususnya untuk area Jawa dan Sumatra.
"Permintaan pasar sebenarnya tetap kuat. Yang terjadi adalah penyesuaian stok di distributor agar persediaan kembali pada level yang sehat," ujar Irwan.
Ia menambahkan, jumlah pasokan yang terlampau menumpuk di pihak distributor berisiko memicu ketidakefektifan distribusi hingga merusak stabilitas harga produk di pasar.
Penimbunan stok tersebut merupakan imbas dari sistem penjualan berjenjang serta aksi beli distributor memanfaatkan harga lama mendekati penghujung 2025.
Kendati penjualan di awal tahun sempat melemah, posisi deretan merek utama milik Sido Muncul dinilai masih sangat dominan. Produk andalan seperti Tolak Angin, Kuku Bima Ener-G!, Esemag, Tolak Linu, hingga lini suplemen herbal lainnya masih memimpin di pasaran.
Malahan, Tolak Angin saat ini sukses mendominasi sekitar 72% pangsa pasar untuk kategori produk herbal masuk angin di tanah air.
Industri Herbal Masih Prospektif
Pihak SIDO memandang masa depan industri herbal di sepanjang 2026 ini masih menjanjikan. Peningkatan kepedulian publik terhadap kesehatan, dinamika cuaca, pergerakan masyarakat yang kian aktif, serta tradisi mengonsumsi herbal yang melekat kuat menjadi stimulus utama bagi pertumbuhan sektor ini.
Namun, korporasi tidak menampik adanya rentetan tantangan, mulai dari sikap konsumen yang lebih selektif dalam berbelanja akibat faktor daya beli, hingga lonjakan biaya operasional seperti kemasan, energi, logistik, serta situasi ekonomi global yang tidak menentu.
Walau begitu, manajemen menganggap kendala tersebut masih bisa dikendalikan.
Mengingat sekitar 90% bahan baku Sido Muncul didapat dari domestik, dampak dari melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS terhitung minim. Fokus kewaspadaan perusahaan saat ini tertuju pada kenaikan harga material kemasan yang masih terimbas tensi geopolitik dunia.
Memasuki tahun ini, SIDO telah merancang sederet taktik demi mengamankan ekspansi jangka panjang. Salah satu prioritasnya yaitu memperlebar jangkauan pasar ekspor ke segmen mainstream, termasuk agenda ekspansi ke Arab Saudi pada tahun ini.
SIDO juga bakal menguatkan penetrasi bisnis global ke wilayah Asia Tenggara dan Afrika.
Dari aspek inovasi, perseroan meluncurkan Portal Sido HerbalPedia yang berfungsi sebagai sarana edukasi masyarakat terkait pengobatan herbal, sekaligus untuk mendongkrak literasi serta penjualan produk suplemen.
Perusahaan pun memperkokoh basis riset dari sektor hulu ke hilir, mulai dari peningkatan mutu tanaman rempah bahan baku, pengembangan obat herbal untuk penyakit berat seperti kanker, diabetes melitus, dan pemulihan imun, hingga pengerjaan uji praklinis untuk lini produk herbalnya.
Bukan cuma ekspansi dan inovasi, Sido Muncul konsisten menegakkan efisiensi melalui pemaksimalan sistem produksi, pengemasan, supervisi vendor, strategi promosi, hingga pengelolaan rantai pasok.
Irwan menyampaikan perusahaan tetap menaruh optimisme tinggi pada prospek ekspansi jangka panjang.
Keyakinan ini didukung oleh volume permintaan pasar yang terus kokoh, kekuatan merek di pasar herbal, inovasi yang ditopang riset, serta pelebaran sayap ekspor yang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi emiten tersebut.