Kelebihan dan Kekurangan MG4 EV Berdasarkan Pengalaman Pemilik

Kelebihan dan Kekurangan MG4 EV Berdasarkan Pengalaman Pemilik
Ilustrasi - Tampilan MG4 EV. (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar mobil listrik (EV) di tanah air kian ramai dengan kehadiran beragam model dan variasi harga. Salah satu hatchback bertenaga listrik yang menarik perhatian banyak orang sejak awal kemunculannya adalah MG4 EV. Mobil listrik rakitan lokal ini tidak cuma mengandalkan desain eksterior yang agresif dan futuristis. 

Bagi beberapa pemiliknya, MG4 EV mampu memberikan impresi berkendara yang berbeda di kelasnya, terutama untuk penikmat performa tinggi.

Salah seorang pemilik MG4 EV selama hampir dua tahun, Jason Andhika Syarief, mengungkapkan bahwa kendaraan listrik ini ia gunakan sebagai transportasi harian di wilayah perkotaan.

"Selama ini saya sangat puas dengan mobilnya, terutama dalam hal kualitas berkendara. Jujur, saya tipe orang yang lebih mengedepankan keasikan berkendara (fun to drive) dibanding kenyamanan, dan MG4 EV ini bisa memberikan kesenangan berkendara tersebut," ujar Jason, belum lama ini.

Dari sisi teknis, MG4 EV dipersenjatai dengan sistem penggerak roda belakang (Rear Wheel Drive/RWD). Spesifikasi ini menjadi nilai tambah tersendiri karena mayoritas kompetitor di kelasnya masih memakai penggerak roda depan (FWD). 

Walau mobil listrik tidak menghasilkan suara atau sensasi perpindahan gigi, Jason merasa MG4 EV menjadi salah satu opsi mobil listrik paling menyenangkan untuk dikendarai pada segmen harga di bawah Rp 500 juta.

"Posisi duduknya mantap, bisa diatur rendah layaknya sportscar, handling-nya presisi, dan power delivery dari motor listriknya yang luar biasa instan. Pokoknya, seru banget nyetir Si MG4 EV! Mobil ini berhasil membuat saya tersenyum setiap kali mengendarainya," kata Jason.

Akan tetapi, hukum kompromi dalam industri otomotif tetap berlaku. Saat sebuah kendaraan dirancang untuk mendapatkan pengendalian yang tajam serta minim body roll, umumnya ada aspek lain yang harus dikorbankan. 

Walau sangat menyenangkan saat dikemudikan, Jason menilai MG4 EV masih memiliki titik lemah, salah satunya pada sektor kenyamanan suspensi.

"Trade-off-nya adalah karakter suspensi yang cenderung stiff (keras), tapi masih dalam tahap yang bisa ditoleransi. Kerasnya bukan yang sampai mental-mentul buat enggak nyaman," ujar Jason.

Bukan hanya karakter redaman suspensi, koreksi lain untuk mobil listrik buatan Morris Garages ini tertuju pada akomodasi penumpang di baris belakang.

"Dan satu hal lagi yang bisa di-improve, yaitu ruang kabin di baris kedua. Masih oke untuk empat orang dewasa, tapi saya rasa MG4 EV ini memang dirancang sebagai 'Driver’s Car'. Mobil yang lebih berorientasi ke pengemudi, kasih pengalaman berkendara yang berkesan bagi setiap pengendaranya," kata Jason.

Terkait konsumsi daya, baterai MG4 EV yang berkapasitas 51 kWh diklaim bisa menjelajah hingga 425 km melalui pengujian NEDC. Meski begitu, pada praktiknya, gaya berkendara pengemudi menjadi faktor yang sangat menentukan. 

Jason merasa efisiensi daya listrik mobilnya tergolong biasa saja, tidak terlalu irit namun juga tidak boros. Hal itu kembali lagi pada cara mengemudi dan situasi jalanan. Ia pun mengakui sebagai tipe pengemudi yang gemar berkendara cepat dengan rute kombinasi antara jalan tol dan jalanan dalam kota.

Di sisi lain, Jason memberikan apresiasi terhadap kelengkapan fitur pendukung berkendara yang disematkan. Menurutnya, teknologi yang dihadirkan sangat fungsional dan bukan sekadar daya tarik penjualan.

"MG4 EV sudah dilengkapi dengan fitur yang mumpuni dan memang nggak banyak fitur gimmick. Contohnya, fitur ADAS (Advanced Driver Assistance System), MG sebutnya MG Pilot. Jujur, nggak semua fiturnya terpakai, tapi yang paling saya gunakan adalah ACC (Adaptive Cruise Control) dan LKA (Lane Keeping Assist) ketika berkendara di jalan tol, lumayan membantu dan buat berkendara tambah nyaman," ujarnya.

Bukan hanya sistem keselamatan aktif, sektor hiburan dan konektivitas harian juga dinilai telah sangat mendukung kebutuhan mobilitasnya setiap hari. Jason menambahkan bahwa fitur lain yang paling sering ia operasikan adalah Apple CarPlay atau Android Auto pada head unit bawaan untuk keperluan navigasi serta mendengarkan musik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index