JAKARTA - Perjalanan transformasi PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA), emiten milik Prajogo Pangestu, menorehkan tonggak penting pada 2025.
Sepanjang tahun tersebut, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar US$121,05 juta atau setara Rp2,02 triliun, melonjak signifikan dibandingkan capaian 2024 yang hanya US$31,42 juta.
Lonjakan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang solid, diversifikasi lini usaha, serta strategi pendanaan yang memperkuat likuiditas dan ekspansi.
Pertumbuhan pendapatan CDIA mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam memanfaatkan peluang dari berbagai sektor infrastruktur.
Sepanjang 2025, total pendapatan mencapai US$148,03 juta atau setara Rp2,47 triliun, meningkat 44,77% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar berasal dari penjualan daya listrik dan jasa kelistrikan lainnya sebesar US$95,28 juta, diikuti penjualan bahan bakar, jasa sewa kapal, logistik, hingga sewa tangki dan dermaga.
Kinerja Keuangan yang Menguat
Pendapatan yang meningkat seiring dengan pengendalian biaya operasional menghasilkan laba kotor US$35,3 juta, naik 238,19% dibandingkan 2024.
Meski beban pokok pendapatan bertambah 22,72% menjadi US$112,6 juta, CDIA mampu meningkatkan margin laba berkat pos keuntungan bersih lain-lain yang mencapai US$76,33 juta, melonjak drastis dari US$4,7 juta pada tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, laba bersih perseroan meningkat hingga 285,24%, menandai keberhasilan strategi operasional dan pengelolaan aset.
Jonathan Kandinata, Direktur CDIA, menyatakan bahwa 2025 menjadi tahun transformatif bagi CDI Group seiring dengan status perusahaan terbuka yang memperkuat fondasi keuangan dan operasional.
Strategi Pendanaan dan Likuiditas
Sepanjang 2025, CDIA memperkuat basis permodalan melalui kombinasi penyertaan modal pemegang saham, fasilitas perbankan domestik dan internasional, serta dana hasil IPO pada Juli 2025.
Perseroan menerima dukungan modal dari Chandra Asri Group dan EGCO Group, fasilitas perbankan dari Bank Danamon dan BTN, serta fasilitas US$100 juta dari Bangkok Bank.
Pendanaan ini meningkatkan liquidity pool CDIA menjadi US$803,3 juta per 31 Desember 2025, memberikan fleksibilitas yang luas untuk ekspansi berbagai pilar infrastruktur.
Rasio aset dan ekuitas juga meningkat, dengan total aset mencapai US$1,74 miliar dan ekuitas US$1,13 miliar, memperkuat struktur permodalan perusahaan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Ekspansi Infrastruktur dan Logistik
Di sektor logistik darat, CDIA mempercepat ekspansi dengan akuisisi PT Barito Investa Prima (sekarang PT Chandra Investa Prima), membangun kapabilitas cold chain, serta menambah 50 truk untuk memperluas layanan distribusi.
Di sektor pergudangan, perseroan mengakuisisi aset di Cilegon dan membangun tiga tangki bitumen dengan kapasitas total 12.000 m³. Selain itu, proyek strategis tangki penyimpanan dan pipa etilena dibiayai dari dana hasil IPO.
Dalam logistik maritim, CDIA melanjutkan pembangunan dua kapal kimia berkapasitas 9.000 DWT serta meningkatkan kepemilikan di CSI dan MIM hingga 99,99%. Di sisi energi, kapasitas pembangkit surya meningkat menjadi 11 MWp, mendukung portofolio energi terbarukan perseroan.
Momentum 2026 dan Strategi Berkelanjutan
Dengan fondasi kuat yang dibangun sepanjang 2025, CDIA memasuki 2026 dengan momentum positif untuk memperluas ekosistem infrastruktur yang terdiversifikasi.
Fokus utama perseroan tetap pada pertumbuhan disiplin, keunggulan operasional, serta penciptaan nilai jangka panjang yang berkelanjutan bagi para pemegang saham. Integrasi antara energi, logistik, pergudangan, serta fasilitas kepelabuhanan menegaskan strategi CDIA dalam membangun platform bisnis yang solid dan berkelanjutan.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan profitabilitas, tetapi juga memastikan fleksibilitas operasional dan keuangan untuk menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.
Ke depan, CDIA berkomitmen memanfaatkan likuiditas, basis aset yang kuat, dan inovasi bisnis untuk memperkuat posisi sebagai pemain utama di sektor infrastruktur Indonesia.