Saham SCMA

Anak Bos Emtek Borong Saham SCMA Senilai Rp66 Miliar.

Anak Bos Emtek Borong Saham SCMA Senilai Rp66 Miliar.
Anak Bos Emtek Borong Saham SCMA Senilai Rp66 Miliar.

JAKARTA - Pergerakan saham di lantai bursa kembali diwarnai aksi borong dari kalangan internal emiten dan pemegang saham pengendali. 

Di tengah tekanan harga yang masih membayangi sektor media, langkah akumulasi justru dilakukan oleh pihak yang memiliki kedekatan langsung dengan perusahaan. Aksi ini menjadi sorotan karena nilai transaksinya mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah dalam waktu berdekatan.

Salah satu aksi pembelian terbesar datang dari jajaran komisaris PT Surya Citra Media Tbk. Perusahaan berkode saham SCMA tersebut mencatat transaksi signifikan oleh RD Adi Wardhana Sariaatmadja, yang juga merupakan anak pendiri grup Emtek, Eddy Kusnadi Sariaatmadja.

Langkah ini terjadi ketika harga saham SCMA sedang berada dalam tren pelemahan. Berikut rangkuman detail aksi korporasi tersebut beserta dampaknya terhadap struktur kepemilikan saham.

Aksi Borong Saham Oleh Komisaris SCMA

Berdasarkan keterbukaan informasi, RD Adi Wardhana Sariaatmadja yang menjabat sebagai komisaris SCMA dilaporkan memborong 241.812.100 saham dalam satu kali transaksi pada 26 Februari 2026.

Mengacu keterbukaan informasi, pembelian dilakukan di harga Rp276 per saham, sehingga dana yang digelontorkan mencapai sekitar Rp66,74 miliar.

"Tujuan transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan saham secara langsung," kata manajemen.

Sebelum transaksi tersebut, Adi Wardhana tercatat hanya memiliki 100 saham. Setelah aksi borong itu, kepemilikannya melonjak drastis menjadi 241.812.200 saham.

Alhasil, porsi hak suaranya ikut terdongkrak dari nyaris nol menjadi 0,33 persen. Kenaikan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam posisi kepemilikan individu di dalam struktur pemegang saham perseroan.

Langkah Serupa Dari Pemegang Saham Pengendali

Tak hanya dari internal manajemen, aksi serupa juga dilakukan pemegang saham pengendali, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. Pada 19 Februari 2026, Emtek memborong 300 juta saham SCMA di harga Rp320 per lembar.

Untuk transaksi ini, dana yang dikucurkan mencapai sekitar Rp96 miliar. Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari manuver sebelumnya pada 10–11 Februari 2026 dengan nilai transaksi sebesar Rp752,6 miliar.

Serangkaian pembelian ini memperlihatkan konsistensi Emtek dalam mempertebal kepemilikan di anak usahanya. Langkah akumulasi dilakukan dalam beberapa tahap dengan nilai yang tidak kecil.

Setelah rangkaian pembelian itu, kepemilikan Emtek di SCMA semakin menguat. Total saham yang digenggam menjadi 55.050.691.340 lembar atau setara 74,42 persen, naik dari sebelumnya 54.750.691.340 saham dengan porsi 74,02 persen.

Kenaikan persentase tersebut mempertegas posisi Emtek sebagai pengendali utama dengan dominasi hak suara yang semakin solid.

Pergerakan Harga Saham Di Tengah Aksi Akumulasi

Menariknya, aksi pembelian saham dalam jumlah besar tersebut terjadi saat harga saham SCMA sedang mengalami tekanan di pasar.

Sementara itu, saham SCMA pada perdagangan Rabu (4/3) ditutup turun -7,87% ke Rp234. Dalam sepekan, sahamnya merosot -17,61% dan ambles -30,77% sepanjang tahun berjalan.

Penurunan harga ini menjadi kontras dengan langkah akumulasi yang dilakukan oleh komisaris dan pemegang saham pengendali. Secara umum, aksi beli dari pihak internal kerap ditafsirkan sebagai sinyal kepercayaan terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meskipun kondisi pasar jangka pendek masih berfluktuasi.

Namun demikian, dinamika harga saham tetap dipengaruhi berbagai faktor, termasuk sentimen pasar, kinerja keuangan, serta kondisi industri media dan periklanan.

Dampak Terhadap Struktur Kepemilikan Dan Hak Suara

Perubahan kepemilikan yang terjadi pasca transaksi menunjukkan konsolidasi kekuatan di tangan pemegang saham utama. Dengan porsi 74,42 persen, Emtek memiliki kontrol mayoritas yang semakin kuat terhadap arah kebijakan perusahaan.

Di sisi lain, peningkatan kepemilikan oleh Adi Wardhana dari 100 saham menjadi 241.812.200 saham juga memperbesar peran individu tersebut dalam struktur pemegang saham, meski porsinya masih tergolong minoritas.

Langkah ini menandai adanya komitmen tambahan dari kalangan internal terhadap saham perusahaan. Aksi borong oleh pihak terafiliasi kerap menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi persepsi terhadap valuasi dan prospek emiten.

Meski demikian, pergerakan harga saham di pasar tetap mencerminkan dinamika permintaan dan penawaran secara luas. Tekanan yang masih terjadi pada saham SCMA menunjukkan bahwa pasar masih mencermati berbagai faktor fundamental dan sentimen eksternal.

Dengan nilai transaksi mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah dalam kurun waktu singkat, aksi akumulasi ini menjadi salah satu peristiwa penting dalam perdagangan saham SCMA pada awal 2026. Perubahan komposisi kepemilikan yang terjadi juga memperkuat dominasi pemegang saham pengendali di tengah volatilitas pasar yang masih berlangsung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index