ASAKI Optimistis Utilisasi Keramik Naik Imbas Penurunan Harga LNG

ASAKI Optimistis Utilisasi Keramik Naik Imbas Penurunan Harga LNG
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto. (Foto: NET)

JAKARTA - Langkah pemerintah yang memangkas harga gas bumi hasil regasifikasi liquefied natural gas (LNG) menuju angka US$ 13 per MMBTU bakal meringankan beban ongkos produksi pada sektor industri keramik. Dampak positifnya, sektor manufaktur ini langsung membidik pertumbuhan utilisasi operasional produksi.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengungkapkan bahwa regulasi baru ini meniupkan angin segar serta rasa optimistis bagi para pebisnis untuk mendongkrak kapasitas produksi. Langkah ini juga dinilai krusial guna mempertebal keunggulan kompetitif di tengah gempuran barang-barang impor.

"Dengan kebijakan ini, kami optimistis utilisasi industri dapat meningkat dan daya saing industri keramik nasional menjadi lebih baik," ujar Edy, Selasa (30/6/2026).

Edy memproyeksikan penurunan harga LNG ini bakal menekan rata-rata tarif gas yang harus dibayarkan oleh pabrikan keramik ke kisaran US$ 9,5 hingga US$ 10 per MMBTU. 

Lewat penyesuaian tarif tersebut, porsi belanja gas terhadap keseluruhan modal produksi diprediksi menyusut ke angka 38% sampai 40%, dari yang mulanya sempat menyentuh level 50%.

Kendati begitu, ASAKI menaruh harapan agar pihak regulator bersedia mendongkrak kembali jatah alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) ke level 70% hingga 80% seperti periode terdahulu. 

Edy menilai strategi tersebut sangat esensial demi memproteksi sekaligus memperkokoh posisi industri keramik domestik dari serbuan produk-produk kompetitor asal China serta India.

Edy menggarisbawahi bahwa jaminan stabilitas suplai gas memegang peranan vital bagi keberlanjutan investasi di bidang keramik. Melalui perbaikan pasokan serta atmosfer bisnis yang kian kondusif, para pelaku usaha di sektor ini berpeluang besar merealisasikan kembali agenda ekspansi mereka untuk jangka waktu 2025-2029.

Pihak ASAKI mengalkulasi bahwa proyek perluasan pasar tersebut berpotensi mengerek volume produksi hingga kisaran 80 juta meter persegi. Agenda ini diestimasi menelan modal investasi menyentuh Rp 12 triliun sekaligus membuka ruang penyerapan tenaga kerja baru hingga 6.000 orang.

Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memotong tarif gas bumi dari proses regasifikasi LNG untuk sektor industri menjadi US$ 13 per MMBTU dari tarif terdahulu yang bertengger di angka US$ 20,57 per MMBTU. 

Di samping itu, pemerintah turut menambah kuota HGBT bagi sektor industri demi memelihara stabilitas daya saing ranah manufaktur nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index