JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menaruh harapan besar agar Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Market 2026 mampu bertransformasi menjadi pusat perdagangan film berskala global.
Platform ini diharapkan bisa menyatukan para pelaku industri kreatif dari lintas negara, meniru kesuksesan Marche du Film yang ada di Festival Film Cannes.
"Saya harapkan nanti ke depannya JAFF Market itu semacam Marche du Film," kata Fadli saat konferensi pers JAFF Market 2026 di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Fadli menjelaskan bahwa kehadiran pasar film memegang peranan krusial dalam menciptakan ekosistem sinema yang terus tumbuh. Melalui wadah ini, seluruh elemen penting seperti sineas, kreator, produser, sutradara, penulis naskah, hingga penanam modal dapat saling terhubung.
Sistem bursa film semacam ini sudah lazim diterapkan di kancah global. Fadli mengungkapkan dirinya pernah memantau langsung Hong Kong Filmart serta Marche du Film di Cannes demi mengamati proses pasar film dalam memicu kolaborasi serta menelurkan proyek-proyek sinematik anyar.
"Ini menurut saya satu platform yang sangat bagus. Saya sangat mengapresiasi hadirnya JAFF Market ini karena menjadi bagian yang penting untuk sustainability," ujarnya.
Ia menginginkan pergelaran JAFF Market tahun ini mampu menjaring lebih banyak atensi dari partisipan luar negeri, bukan cuma kreator domestik, melainkan juga pelaku industri dari kawasan ASEAN, Asia, hingga global.
Berdasarkan pemaparan Fadli, lonjakan kehadiran peserta asing bakal membuka jalan lebar bagi para sineas tanah air untuk menjalankan kerja sama produksi bersama (co-production) sekaligus merajut kemitraan strategis dengan elemen industri internasional.
"Tentu kami harapkan semakin banyak peserta dari luar negeri," katanya.
Fadli berpendapat bahwa prospek cerah ini wajib ditopang dengan portofolio industri yang solid. Dengan demikian, para pelaku sinema dari berbagai negara punya daya tarik kuat untuk berkunjung dan menanamkan investasi kerja sama di Indonesia.
Di samping itu, Kementerian Kebudayaan berkomitmen penuh untuk memajukan sektor perfilman domestik. Langkah ini diambil karena film dipandang sebagai medium efektif yang merangkum variasi ekspresi budaya, mulai dari seni peran, tata musik, mode, kuliner, hingga sarana pengenalan destinasi wisata berbasis budaya.
Oleh sebab itu, pihak pemerintah konsisten mematangkan ekosistem sinema dari sektor hulu sampai hilir. Upaya ini direalisasikan lewat penajaman kapasitas sumber daya manusia, pengayaan mutu penulisan skenario, serta pemberian stimulan bagi tema-tema cerita tertentu yang dinilai masih butuh afirmasi.
Fadli turut mencita-citakan adanya sinergi yang padu antara jajaran pemerintah, komunitas, organisasi perfilman, serta para pelaku usaha agar sinema Indonesia tidak sekadar berjaya di lingkungan domestik, melainkan juga sanggup menembus pasar global.
"Yang kami harapkan bukan hanya di Indonesia, bukan hanya jago kandang, tapi kami ingin film Indonesia itu ditonton juga oleh masyarakat internasional," katanya.
Sebagai informasi, JAFF Market 2026 rencananya bakal digulirkan pada tanggal 28 November sampai 30 November di Yogyakarta. Agenda ini dirancang sebagai wadah pertemuan para pelaku industri layar lebar, pemodal, distributor, serta kreator dalam rangka memperkokoh fondasi ekosistem perfilman di Indonesia.