JAKARTA - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjamin bahwa posisi likuiditas perusahaan tetap berada dalam kondisi yang kokoh walaupun masih mendapatkan mandat dari pemerintah untuk mengelola dana Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengungkapkan bahwa hingga kini perusahaan masih dipilih oleh Kementerian Keuangan sebagai salah satu bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang menampung penempatan dana SAL.
Dia menjelaskan, dana itu tidak dibiarkan mengendap di bank, melainkan dialokasikan kembali ke beragam sektor riil serta sektor produktif demi menopang ekspansi ekonomi.
"Saat ini BSI masih ditunjuk Kementerian Keuangan sebagai salah satu bank Himbara yang mengelola dana SAL. Dana tersebut disalurkan ke dalam pembiayaan di berbagai sektor riil dan sektor produktif lainnya yang mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat," ujar Wisnu, Jumat (26/6/2026).
Wisnu memberikan kepastian bahwa tata kelola dana SAL dijalankan selaras dengan amanat pemerintah serta regulasi yang berlaku. Perusahaan pun menjamin pemanfaatan dana tersebut selalu berpatokan pada kesepakatan penempatan dana yang sudah disetujui bersama Kementerian Keuangan.
"Penempatan dana tersebut dikelola dengan baik sesuai dengan amanah Kementerian Keuangan dan telah sesuai dengan perjanjian penempatan dana serta ketentuan yang berlaku," katanya.
Di kala dinamika likuiditas industri perbankan bergerak dinamis, BSI menjamin ketersediaan likuiditas masih sangat cukup untuk menopang pertumbuhan pembiayaan.
Hal ini terlihat dari perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus menunjukkan tren positif. Sampai dengan April 2026, nilai DPK BSI menyentuh angka Rp 382 triliun atau meningkat 17,9% secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan tersebut utamanya disokong oleh perolehan dana murah. Instrumen tabungan menjadi penyumbang paling besar dengan jumlah menyentuh Rp 165 triliun atau meningkat 22,02% yoy, yang kemudian diikuti oleh pos deposito serta giro. Lewat komposisi pendanaan itu, rasio current account saving account (CASA) BSI berada di angka 63,48%.
"Kami memastikan likuiditas Bank Syariah Indonesia berada pada posisi ample dan solid. Tercermin dari sisi DPK per April 2026 mencapai Rp 382 triliun atau tumbuh 17,90% yoy yang didominasi tabungan mencapai Rp 165 triliun, tumbuh 22,02% yoy," jelas Wisnu.
Besarnya porsi CASA tersebut dianggap menjadi aset krusial bagi BSI untuk memelihara biaya dana agar tetap kompetitif sekaligus menyokong penyaluran pembiayaan menuju sektor-sektor yang produktif.