Resmi Berlaku Juli 2026, Ini Sejarah Panjang Biodiesel B50

Resmi Berlaku Juli 2026, Ini Sejarah Panjang Biodiesel B50
Pemerintah Indonesia secara resmi telah menetapkan implementasi biodiesel B50. (Foto: NET)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia secara resmi telah menetapkan implementasi biodiesel B50 dalam skala nasional yang akan dimulai pada 1 Juli 2026. Melalui kebijakan ini, bahan bakar solar yang beredar di tanah air bakal memiliki komposisi 50 persen bahan bakar nabati dan 50 persen bahan bakar diesel konvensional. 

Langkah strategis tersebut disahkan lewat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 mengenai Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak Berupa Minyak Solar Sebesar 50 Persen. 

Lewat regulasi teranyar ini, kadar Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang merupakan hasil olahan minyak sawit dinaikkan menjadi 50 persen dari program yang berjalan sebelumnya.

Pemanfaatan bahan bakar nabati sejatinya bukanlah inovasi yang sepenuhnya baru, sebab rekam jejak biodiesel berjalan beriringan dengan awal terciptanya mesin diesel. Nama teknologi ini diambil dari sang penemu, Rudolf Diesel, yang merupakan seorang insinyur asal Jerman yang merakit mesin diesel pada era 1890-an. 

Berdasarkan informasi dari farm-energy.extension.org, sejak awal dikembangkan, mesin tersebut tidak melulu didesain untuk menenggak bahan bakar berbasis minyak bumi. Bahkan pada ajang Paris Exposition tahun 1900, salah satu unit mesin diesel yang dipamerkan beroperasi dengan menggunakan minyak kacang tanah.

Kendati demikian, akibat harga minyak bumi yang jauh lebih ekonomis dan ketersediaannya yang melimpah kala itu, riset mendalam seputar bahan bakar alternatif sempat tersisih dari prioritas. 

Momentum perubahan baru terjadi pada dekade 1930-an, di mana para ilmuwan mulai mengupayakan formulasi bahan bakar nabati yang lebih kompatibel dengan karakter mesin diesel modern.

Upaya tersebut dilakukan dengan memisahkan unsur-unsur di dalam minyak nabati guna memperoleh bahan bakar yang tingkat kekentalannya lebih rendah serta menyerupai solar bumi. 

Memasuki tahun 1937, ilmuwan bernama G. Chavanne sukses mengantongi paten di Belgia atas inovasi bahan bakar berbasis etil ester minyak sawit, yang hari ini akrab disebut biodiesel. 

Setahun berselang, tepatnya pada 1938, sebuah armada bus umum di Belgia telah mengadopsi bahan bakar tersebut untuk melintasi jalur operasional Brussels–Louvain.

Tren pemanfaatan minyak nabati kembali mencuat sebagai solusi alternatif ketika Perang Dunia II berkecamuk di pertengahan era 1940-an. 

Di masa tersebut, distribusi minyak bumi dunia mengalami hambatan besar, sehingga negara-negara seperti Brasil, Argentina, China, India, dan Jepang terdorong memanfaatkan minyak nabati demi menjaga mobilitas kendaraan dan mesin mereka. 

Namun setelah situasi perang mereda dan harga minyak mentah kembali merosot, teknologi ini lagi-lagi dikesampingkan.

Dunia kembali melirik potensi biodiesel pada dekade 1970-an akibat hantaman embargo minyak global. Krisis tersebut memaksa banyak negara berburu sumber energi alternatif alternatif, termasuk mengoptimalkan minyak nabati. Pada fase awal, para peneliti sempat mencoba memasukkan minyak nabati secara langsung ke dalam ruang bakar mesin diesel. Langkah tersebut rupanya memicu kendala teknis karena sifat minyak yang terlampau pekat, sehingga membuat sistem pembakaran menjadi tidak sempurna sekaligus mempercepat ausnya komponen mesin. Berangkat dari problem inilah, inovasi yang kini disebut sebagai teknologi biodiesel terus dimatangkan.

Penggunaan istilah 'biodiesel' sendiri terdeteksi mulai populer di sekitar tahun 1984. Setahun setelahnya, fasilitas pabrik komersial pertama yang dirancang khusus memproduksi biodiesel mulai resmi beroperasi di Austria. 

Berlanjut ke era awal 1990-an, komersialisasi biodiesel kian meluas di kawasan Eropa hingga Amerika Serikat. Momentum yang cukup ikonik terekam pada tahun 1995 kala Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat mulai mengoperasikan biodiesel untuk seluruh kendaraan dinas mereka. 

Dalam implementasinya, terdapat unit truk yang sanggup menempuh jarak ratusan ribu mil tanpa mengalami gangguan fatal pada mesin.

Di kancah domestik, Indonesia menerapkan skema pencampuran biodiesel ini secara bertahap. Perjalanan program tersebut diawali dari varian B20, merangkak naik ke B35, disusul B40 pada Januari 2025, hingga akhirnya kini menyentuh level B50. 

Simbol huruf “B” merepresentasikan identitas biodiesel, sementara angka di belakangnya menjadi tolok ukur persentase kandungan bahan bakar nabati (FAME) yang dicampur ke dalam solar. Rincian komposisinya adalah sebagai berikut:

B35 = 35 persen biodiesel + 65 persen solar

B40 = 40 persen biodiesel + 60 persen solar

B50 = 50 persen biodiesel + 50 persen solar

Langkah akselerasi ini terus dipacu oleh pemerintah demi menekan angka ketergantungan pada energi fosil, memaksimalkan serapan komoditas lokal, sekaligus memperkokoh kedaulatan energi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index