Bahlil Pastikan RI Stop Impor Solar Tahun Ini Lewat B50

Bahlil Pastikan RI Stop Impor Solar Tahun Ini Lewat B50
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah memberikan kepastian bahwa Indonesia bakal menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun ini. Keputusan tersebut diambil sejalan dengan langkah peningkatan bauran energi hijau di dalam negeri.

Strategi ini didukung oleh kesiapan implementasi program mandatori biodiesel 50% atau B50 yang dijadwalkan rilis pada 1 Juli 2026. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, regulasi ini berfungsi sebagai penyelamat ketahanan energi nasional agar tidak bergantung pada pasokan dari luar negeri.

"Ternyata dengan B10 sampai B40 yang besok Juli akan kami resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kami. Dan mulai tahun ini kami tidak lagi melakukan impor solar," ujarnya di acara Energy Forum, di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Bahlil memaparkan bahwa volume konsumsi solar secara nasional saat ini menyentuh angka 39 juta kiloliter (kl). Pada program B40 yang berjalan sebelumnya, porsi untuk bahan bakar nabati sudah menyentuh angka 40%.

"Dari 39 juta kiloliter itu kemarin B40 itu 40% pake FAME. FAME itu adalah dari CPO dengan metanol dicampur jadilah FAME. Kemudian dicampur menjadi solar yang namanya B40," jelasnya.

Program hilirisasi komoditas kelapa sawit ini sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2016. Langkah awal dimulai dari persentase pencampuran terendah dengan tujuan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.

"Mandatori B10 sampai B40 lakukan sejak 2016. Ini tujuannya apa? Harga petani sawit lagi turun, untuk menjamin market agar petani sawit kami harganya bagus, maka dilakukanlah hilirisasi terhadap konsumsi domestik, yang namanya B10, kemudian harga petani bagus, menjadi B40," imbuhnya.

Melalui penerapan B50, Bahlil memperkirakan substitusi bahan bakar nabati ini dapat menutup hingga separuh dari total kebutuhan konsumsi harian di dalam negeri yang setara dengan ratusan ribu barel.

"Jadi dengan B50 ini 50%, kan konsumsi kami 50% dari solar itu kurang lebih sekitar 300.000 barel per day yang bisa kami cover. Jadi artinya impor crude kami yang 1 juta barel per day itu tinggal sekitar 700.000 barel per day, karena 300.000 barelnya itu dikonversi dengan B50, FAME itu," terangnya.

Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah membuka peluang untuk terus meningkatkan kadar campuran biodiesel ke tingkat yang lebih tinggi di masa depan, asalkan ketersediaan lahan kelapa sawit domestik mencukupi.

"Nah ini kan, kalau tidak dapat minyak di laut, tidak dapat minyak di darat, ya dapat minyak tumbuhan saja. Saya lagi pikir-pikir ya, kalau begini bisa, Pak Presiden perintahkan, bisa gak kami buat B70, B80 tinggal kami tambah lahan. Tapi begitu kami ditambah lahan, ada yang gak setuju lagi," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index