Kementerian PU Perkuat Irigasi dan Sistem Subak Bali via P3TGAI

Kementerian PU Perkuat Irigasi dan Sistem Subak Bali via P3TGAI
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo. (Foto: NET)

JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyampaikan bahwa pelaksanaan program percepatan peningkatan tata guna air irigasi (P3TGAI) berhasil melestarikan sistem subak di Bali. 

Ia menjelaskan bahwa penguatan sarana irigasi menjadi salah satu pilar krusial demi mempertahankan keberlanjutan produksi pangan di tingkat nasional. Kehadiran infrastruktur irigasi yang mumpuni bakal menjamin ketersediaan pasokan air bagi para petani, sehingga hasil produktivitas sektor pertanian dapat terus dipacu.

"Program IBM (infrastruktur berbasis masyarakat) memiliki multiplier effect yang besar. Selain menghasilkan infrastruktur, juga memberikan penghasilan langsung kepada masyarakat melalui skema padat karya, sehingga mampu menggerakkan ekonomi lokal," kata Dody.

Kementerian PU telah menggulirkan P3TGAI Tahun Anggaran 2026 di Provinsi Bali untuk mengoptimalkan pelayanan irigasi, mempertahankan kelangsungan sistem subak, serta menyokong ketahanan pangan di wilayah tersebut. 

Proyek padat karya ini memposisikan komunitas petani secara langsung dalam proses pembangunan sekaligus pengelolaan jaringan irigasi, agar fungsi dan manfaatnya bisa dinikmati dalam jangka panjang. 

Mulainya program ini dikukuhkan lewat penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida dengan gabungan perkumpulan petani pemakai air (GP3A), perkumpulan petani pemakai air (P3A), serta subak yang menjadi pemenang bantuan P3TGAI 2026.

Dody memaparkan bahwa pada tahun 2026, agenda P3TGAI di Bali menyasar 78 titik lokasi yang tersebar pada enam wilayah kabupaten. Rinciannya meliputi Kabupaten Gianyar sebanyak 26 lokasi, Kabupaten Bangli 17 lokasi, Kabupaten Tabanan 17 lokasi, Kabupaten Klungkung 9 lokasi, Kabupaten Jembrana 5 lokasi, dan Kabupaten Karangasem sebanyak 4 lokasi. 

P3TGAI sendiri merupakan gerakan padat karya dengan misi mengoptimalkan pelayanan irigasi pertanian lewat langkah rehabilitasi, peningkatan kapasitas, hingga pembangunan jaringan irigasi secara partisipatif yang menempatkan petani selaku aktor utamanya. 

Melalui metode ini, program tersebut tak sekadar mewujudkan infrastruktur yang lebih mumpuni, tetapi juga mematangkan kapasitas sekaligus kemandirian organisasi petani dalam memelihara jaringan irigasi.

Proyek yang digarap, menurut Dody, mencakup perbaikan, peningkatan mutu, serta pembangunan sarana irigasi kecil berskala layanan di bawah 150 hektare, jaringan irigasi tersier, hingga saluran irigasi tingkat desa. 

Infrastruktur yang didirikan ini ditargetkan mampu mendongkrak keandalan distribusi air irigasi, termasuk saat menghadapi musim kemarau, guna memicu pertumbuhan produksi tani dan efisiensi kerja para petani. 

Di wilayah Bali, Dody menambahkan bahwa implementasi P3TGAI diintegrasikan secara harmonis dengan adat subak yang selama ini menjadi kearifan lokal warga setempat dalam memanajemen sumber daya air sawah.

Sokongan saluran irigasi yang lebih kokoh dan efisien diproyeksikan mampu memperteguh eksistensi sistem subak, sekaligus menaikkan daya adaptasi sektor agraris dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. 

Lewat agenda P3TGAI 2026, Kementerian PU tidak cuma mendirikan fasilitas fisik irigasi, melainkan ikut merekatkan sinergi bersama warga dalam mengawal ketahanan pangan yang dimulai dari level pedesaan. 

Berbekal jaringan irigasi yang kian prima serta tata kelola air yang berkesinambungan, sektor pertanian di Bali diharapkan tampil kian produktif, kokoh, serta mampu menjadi penggerak roda ekonomi daerah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index