JAKARTA - Penyaluran Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) terus memperlihatkan tren penurunan pada tahun ini. Kekhawatiran mengenai berlanjutnya perlambatan KKB semakin meningkat setelah suku bunga acuan (BI Rate) dinaikkan menjadi 5,5%.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), realisasi penyaluran KKB dalam beberapa bulan terakhir masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2026, BI mencatat pembiayaan KKB mengalami kontraksi sebesar 9% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Penurunan ini memperpanjang catatan negatif dari Maret 2026 yang terkontraksi 8,9% yoy serta Februari 2026 yang menyusut 8,1% yoy.
Ekonom Center of Reform (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet mengamati bahwa kelesuan KKB ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak pengujung tahun 2025. Ia memaparkan bahwa penurunan KKB terlihat semakin merosot dari bulan ke bulan.
"Pola ini menunjukkan bahwa pasar pembiayaan kendaraan sedang menghadapi tekanan yang konsisten selama lebih dari setengah tahun," kata Yusuf saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).
Menurut penilaian Yusuf, faktor utama yang memicu penurunan KKB adalah melemahnya kemampuan daya beli masyarakat. Situasi ini kian dipicu oleh kenaikan BI Rate ke level 5,5% yang berpeluang mendorong perbankan mengerek bunga KKB.
Ia menambahkan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah yang memicu kenaikan harga kendaraan serta lonjakan harga bahan bakar non-subsidi turut membebani laju pertumbuhan KKB.
Oleh sebab itu, Yusuf memprediksi performa KKB masih belum akan membaik dalam waktu dekat. Ia juga mengimbau perbankan untuk tetap menjaga kualitas dari KKB yang telah disalurkan.
"Dalam jangka pendek, prospek KKB masih cenderung berat karena tekanan suku bunga, nilai tukar, dan biaya energi belum menunjukkan tanda mereda," jelasnya.
Dari sudut pandang pelaku industri perbankan, PT Bank Central Asia Tbk menyatakan bahwa posisi BI Rate pasti bakal memengaruhi analisis bank dalam menetapkan bunga kredit, termasuk KKB.
Kendati demikian, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn menerangkan, formulasi suku bunga KKB juga menimbang daya beli nasabah serta kompetisi di pasar. Karena itu, Hera menjamin kenaikan BI Rate tidak otomatis mendongkrak suku bunga KKB di banknya.
"BCA senantiasa melakukan review berkala dan memperhatikan tingkat suku bunga kredit pada level yang dapat diterima pasar," ucapnya.
Sampai dengan triwulan I-2026, portofolio KKB milik BCA tercatat berada di angka Rp 53,9 triliun. Capaian ini menunjukkan penurunan sebesar 19,7% yoy. Hera mengungkapkan bahwa BCA akan terus memastikan produk serta layanannya tetap sejalan dengan kebutuhan pasar.
BCA juga intensif meningkatkan sinergi dengan mitra strategis demi memperluas jaringan penawaran di bidang pembiayaan kendaraan.
Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk justru mendulang pertumbuhan yang positif pada produk pembiayaan kendaraannya. Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengutarakan, per April 2026, pembiayaan kendaraan di banknya melonjak 13,4% yoy menjadi Rp 6,62 triliun.
Peningkatan tersebut, menurut Wisnu, disokong oleh tingginya volume pembelian kendaraan listrik. Ia melihat antusiasme masyarakat terhadap kendaraan listrik tengah meningkat pesat saat ini.
Selain dipicu oleh kenaikan harga BBM untuk kendaraan diesel, Wisnu menilai kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan juga ikut mengerek penjualan kendaraan listrik.
Mengantisipasi dampak kenaikan BI Rate, Wisnu memaparkan bahwa BSI secara agresif menawarkan pembiayaan kendaraan lewat sistem angsuran tetap hingga masa tenor berakhir.
Melalui program ini, ia berharap para nasabah bisa merasa lebih tenang saat membeli kendaraan sekaligus dapat mengontrol pengeluaran secara terukur di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Kami optimistis tren pembiayaan ini akan terus tumbuh seiring meningkatnya preference masyarakat terhadap layanan syariah," kata Wisnu.