Mentan Genjot Produksi Pertanian Agar RI Tak Lagi Impor

Mentan Genjot Produksi Pertanian Agar RI Tak Lagi Impor
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa upaya penguatan produksi pertanian nasional terus digencarkan. Strategi yang dijalankan meliputi perluasan lahan, rehabilitasi irigasi, serta berbagai program strategis lainnya demi membebaskan Indonesia dari ketergantungan terhadap impor pangan.

"Dulu Indonesia menjadi pasar besar bagi pangan dunia. Tetapi sekarang kami ingin berdiri di atas kaki sendiri," kata Mentan dalam keterangan di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Mentan menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Silaturahmi Nasional Laskar Merah Putih (LMP) di Jakarta. Dalam kesempatan itu, ia mengajak seluruh anggota LMP untuk bersama-sama mengawal agenda besar Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga swasembada dan kedaulatan pangan nasional. 

Menurutnya, perjuangan mencapai kemandirian pangan merupakan tugas seluruh anak bangsa yang harus dijaga bersama.

Di hadapan jajaran pengurus dan anggota LMP dari berbagai daerah, Mentan yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina LMP menegaskan bahwa capaian sektor pertanian saat ini merupakan buah dari kerja kolektif seluruh elemen bangsa.

“Selama Laskar Merah Putih ada di sisi kami, kami tidak akan mundur. Ini bukan pekerjaan saya sendiri, tetapi pekerjaan kami semua sebagai anak bangsa untuk menjaga Merah Putih dan mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan,” ujar Amran.

Ia menjelaskan bahwa berbagai capaian di sektor pertanian selama dua tahun terakhir menjadi tonggak penting menuju kemandirian pangan nasional. Saat ini, stok beras pemerintah mencapai sekitar 5,2 juta ton, yang merupakan jumlah tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

“Sejak republik ini berdiri, inilah stok beras tertinggi yang kami miliki. Tapi ini bukan karena satu orang, melainkan hasil kerja bersama seluruh anak bangsa, TNI, Polri, pemerintah daerah, petani, dan semua pihak yang mencintai Indonesia,” ujarnya.

Padahal pada 2024, Indonesia masih mengimpor beras sekitar 4,5 juta ton. Kebijakan penghentian impor beras pada 2025 menjadi penegasan arah baru kedaulatan pangan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Ia menambahkan, kesejahteraan petani juga menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 tercatat sebesar 127,73, menjadi angka tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan Presiden Prabowo untuk memperkuat sektor pangan berada di jalur yang tepat.

Meskipun demikian, Amran mengakui bahwa berbagai upaya perbaikan sektor pertanian kerap menghadapi kritik dan gangguan dari pihak-pihak yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan impor.

“Banyak yang tidak senang ketika Indonesia kuat, kami tidak boleh mundur hanya karena kritik. Kalau kritiknya konstruktif, itu tanda cinta kepada bangsa ini,” ucapnya.

Mentan memaparkan berbagai program strategis pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan, mulai dari optimasi lahan, rehabilitasi irigasi, hingga program cetak sawah di berbagai wilayah Indonesia. 

Pengembangan lahan sawah tidak hanya dilakukan di Merauke, tetapi juga di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, serta berbagai daerah lain yang memiliki potensi besar.

“Merauke hanya sebagian kecil. Yang terbesar justru ada di Sumatera Selatan dan sejumlah wilayah lainnya. Semua ini untuk meningkatkan produksi dan kesejahteraan masyarakat. Lahan yang dikelola adalah milik rakyat dan hasilnya untuk rakyat,” tegasnya.

Mentan mengatakan bahwa kerja besar menuju swasembada pangan membutuhkan keberanian dan konsistensi. Oleh karena itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk Laskar Merah Putih, turut mengawal berbagai program strategis pemerintah agar berjalan sesuai tujuan.

“Yang paling sulit setelah merebut kemerdekaan adalah mengisi kemerdekaan. Kami harus menjaga agar bangsa ini mandiri dan berdaulat. Siapa pun nanti yang memimpin, agenda kedaulatan pangan harus terus dikawal,” ucapnya.

Ia juga menegaskan komitmennya untuk terus memberantas praktik mafia pangan yang merugikan petani dan masyarakat.

“Kami tidak akan memberi ruang bagi mafia yang mempermainkan rakyat. Kalau ada yang merugikan petani dan bangsa ini, akan kami tindak. Kami tidak akan mundur,” tegasnya.

Amran optimistis Indonesia memiliki potensi besar menjadi kekuatan pangan dunia. Dengan dukungan seluruh komponen bangsa, ia meyakini cita-cita besar Presiden Prabowo untuk mewujudkan Indonesia mandiri pangan dapat tercapai.

“Mimpi besar Presiden adalah seluruh pulau di Indonesia mandiri pangan. Pangan aman, protein tercukupi, dan kesejahteraan petani meningkat. Karena itu, mari kami kawal bersama. Ini bukan semata program pemerintah, tetapi perjuangan seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index