JAKARTA - Pergerakan aset kripto kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah sempat mengalami tekanan pada akhir pekan.
Fluktuasi harga yang cukup tajam membuat investor terus memantau perkembangan pasar global yang dapat memengaruhi arah pergerakan aset digital.
Di tengah dinamika tersebut, harga Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sempat turun dalam beberapa hari sebelumnya.
Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko masih cukup kuat, meskipun berbagai ketidakpastian global tetap membayangi.
Namun demikian, para analis menilai bahwa arah pergerakan bitcoin dalam waktu dekat masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan kondisi pasar energi dunia. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan apakah tren pemulihan akan berlanjut atau justru kembali tertekan.
Harga Bitcoin Mulai Menunjukkan Pemulihan
Harga bitcoin (BTC) tercatat naik sebesar 3,1 persen menjadi US$ 70.352 pada Selasa pagi. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya aset kripto terbesar di dunia tersebut sempat turun hingga di bawah US$ 68.000 pada akhir pekan.
Pemulihan harga ini membuat bitcoin kembali bergerak mendekati level psikologis penting di kisaran US$ 70.000. Pergerakan tersebut juga menjadi sinyal bahwa pasar mulai merespons sejumlah perkembangan global yang dinilai lebih kondusif dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Meski begitu, arah pemulihan harga bitcoin masih sangat bergantung pada perkembangan hubungan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Perkembangan tersebut dinilai memiliki dampak signifikan terhadap stabilitas pasar energi global yang pada akhirnya juga memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko seperti kripto.
Dinamika Geopolitik Mempengaruhi Pasar Kripto
Mengutip laporan dari CoinDesk, kenaikan harga bitcoin terjadi setelah pengumuman Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai jeda selama lima hari dalam serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Keputusan tersebut diambil dengan alasan membuka ruang bagi pembicaraan diplomatik antara kedua pihak.
Namun demikian, pejabat Iran membantah adanya pembicaraan tersebut. Meskipun begitu, pasar tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh pernyataan tersebut.
Sebagian besar pelaku pasar tetap melihat perkembangan ini sebagai sinyal positif yang dapat meredakan ketegangan geopolitik dalam jangka pendek.
Akibatnya, berbagai aset berisiko termasuk kripto tetap bergerak stabil selama sesi perdagangan berlangsung.
Pada akhir sesi perdagangan, harga bitcoin tercatat berfluktuasi sedikit di bawah level US$ 71.000 dan naik sekitar 3,8 persen dalam 24 jam terakhir.
Meskipun jeda sementara tersebut mampu meredakan tekanan pada pasar energi, para pelaku pasar tetap diminta untuk berhati-hati dalam menyikapi pemulihan aset berisiko.
Analisis Pasar Dan Potensi Pergerakan Harga
Pedagang OTC di perusahaan perdagangan kripto global Wintermute, Jasper de Maere, menyebut bahwa kondisi makro ekonomi global saat ini sedang mengalami perubahan yang cukup signifikan.
"Batas makro telah bergeser. Seberapa besar ruang yang terbuka bergantung pada lima hari ke depan," kata Jasper de Maere.
Menurutnya, arah pergerakan bitcoin akan sangat ditentukan oleh perkembangan situasi geopolitik serta stabilitas pasar energi dalam beberapa hari mendatang.
Jika harga minyak dunia tetap stabil dan arus pengiriman energi melalui jalur strategis internasional dapat berjalan normal, maka kekhawatiran terhadap inflasi global berpotensi mereda.
Kondisi tersebut dinilai dapat membuka peluang bagi bank sentral untuk kembali mempertimbangkan kebijakan pelonggaran moneter, termasuk kemungkinan penurunan suku bunga.
Jika skenario tersebut terjadi, hambatan utama bagi pasar kripto dapat berkurang sehingga memberikan ruang bagi bitcoin untuk kembali melanjutkan penguatannya.
Level Harga Yang Berpotensi Diuji Bitcoin
Dalam skenario pasar yang lebih stabil, harga bitcoin berpotensi kembali mencoba menembus kisaran US$ 74.000 hingga US$ 76.000.
Level tersebut selama beberapa minggu terakhir menjadi area yang membatasi pergerakan reli bitcoin di pasar kripto global.
Apabila harga mampu menembus kisaran tersebut, maka peluang untuk melanjutkan tren penguatan akan semakin terbuka.
Namun demikian, potensi tersebut masih sangat bergantung pada berbagai faktor eksternal yang memengaruhi sentimen pasar.
Jasper de Maere juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam proses diplomasi atau terjadinya kembali gangguan terhadap pasokan energi global dapat memberikan dampak sebaliknya terhadap pasar.
Jika kondisi tersebut terjadi, harga minyak dunia berpotensi kembali meningkat. Lonjakan harga energi dapat memperkuat tekanan inflasi yang selama ini menjadi perhatian utama pasar global.
Dalam situasi seperti itu, investor biasanya akan beralih ke aset yang dianggap lebih aman dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Kondisi tersebut dapat membuat pasar kembali memasuki fase penghindaran risiko atau risk-off mode. Jika skenario ini terjadi, harga bitcoin berpotensi kembali turun ke kisaran pertengahan US$ 60.000.
Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan harga bitcoin dalam jangka pendek masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik serta dinamika ekonomi global.
Bagi investor kripto, kondisi ini menuntut kewaspadaan serta pemantauan yang lebih cermat terhadap berbagai sentimen global yang dapat memengaruhi arah pasar.