Car Free Night

Pemprov DKI Terapkan Car Free Night Saat Malam Takbiran

Pemprov DKI Terapkan Car Free Night Saat Malam Takbiran
Pemprov DKI Terapkan Car Free Night Saat Malam Takbiran

JAKARTA - Menjelang perayaan Idulfitri, berbagai daerah biasanya menyiapkan rangkaian kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat sebagai bentuk syiar sekaligus perayaan setelah menjalani ibadah Ramadan. 

Di Jakarta, pemerintah daerah berupaya menghadirkan suasana yang meriah namun tetap tertib dengan menyiapkan sejumlah agenda khusus bagi warga ibu kota.

Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah penyelenggaraan Car Free Night pada malam takbiran. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk merayakan malam menjelang Idulfitri dengan lebih nyaman tanpa terganggu oleh kepadatan kendaraan pribadi.

Selain menjadi bagian dari perayaan Ramadan, kebijakan tersebut juga bertujuan menciptakan ruang publik yang lebih ramah bagi warga yang ingin menikmati malam takbiran bersama keluarga maupun komunitas. Dengan pengaturan lalu lintas yang tepat, suasana malam takbiran di ibu kota diharapkan tetap kondusif sekaligus meriah.

Kebijakan Car Free Night Pada Malam Takbiran

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menerapkan Car Free Night pada malam takbiran Idulfitri dengan melarang kendaraan pribadi melintas mulai pukul 22.00 WIB.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung kebijakan itu telah disetujui sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Ramadan di ibu kota yang disiapkan Pemprov DKI untuk menyemarakkan suasana menjelang Idulfitri.

"Saya sudah menyetujui untuk malam itu (takbiran) mulai dari jam 10 malam, kita akan mengadakan acara yang disebut dengan Car Free Night," ujar Pramono.

Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang ingin menikmati malam takbiran di ruang publik. Tanpa kendaraan pribadi yang melintas, suasana jalan di beberapa kawasan di Jakarta dapat menjadi lebih nyaman untuk aktivitas masyarakat.

Langkah tersebut juga merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menghadirkan kegiatan Ramadan yang tidak hanya religius, tetapi juga memberikan ruang kebersamaan bagi warga kota.

Transportasi Publik Tetap Beroperasi

Kendati belum merinci kawasan mana saja di ibu kota yang ditetapkan sebagai lokasi Car Free Night, Pramono memastikan layanan transportasi publik tetap akan beroperasi untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap terjaga.

"Jadi tidak diizinkan kendaraan pribadi untuk masuk, tetapi TransJakarta tetap beroperasi sehingga orang bisa beraktivitas karena itu sudah jam 10 malam," ucap Pramono.

Dengan tetap beroperasinya transportasi umum, masyarakat tetap dapat bergerak dengan mudah meskipun kendaraan pribadi tidak diperbolehkan melintas di kawasan tertentu. Hal ini menjadi bagian penting dari kebijakan tersebut agar aktivitas warga tidak terganggu.

Selain itu, keberadaan transportasi publik juga dapat membantu mengurangi potensi kemacetan yang biasanya terjadi saat malam takbiran. Dengan sistem transportasi yang tetap berjalan, masyarakat tetap memiliki pilihan untuk beraktivitas tanpa harus menggunakan kendaraan pribadi.

Rangkaian Acara Meriah Sambut Idulfitri

Selain Car Free Night, lanjut dia, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan kegiatan lain untuk menyemarakkan malam takbiran di ibu kota. Salah satunya festival bedug hingga pawai obor.

"Kemudian pada tanggal 19 akan ada Festival Bedug malam hari dan juga Pawai Obor," jelas Pramono.

Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang perayaan Ramadan yang meriah sekaligus tertib bagi masyarakat Jakarta menjelang Hari Raya Idulfitri.

Kegiatan seperti festival bedug dan pawai obor selama ini menjadi tradisi yang identik dengan malam takbiran di berbagai daerah di Indonesia. Kehadirannya di ibu kota diharapkan dapat memperkuat suasana kebersamaan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi keagamaan.

Selain memberikan hiburan bagi masyarakat, kegiatan tersebut juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi warga yang ingin menikmati suasana malam takbiran secara berbeda di Jakarta.

Jakarta Ingin Hadirkan Ruang Untuk Semua Keyakinan

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo ingin menghadirkan ruang untuk semua keyakinan agar bisa mengekspresikan dan merayakan hari besar keagamaannya di ibu kota.

Salah satunya adalah dengan mengadakan gelaran Pawai Ogoh-Ogoh dalam rangka Hari Raya Nyepi yang akan digelar Minggu di Bundaran HI, Jakarta Pusat.

"Memang Jakarta ini multikultur, multietnik, dan semuanya harus mendapatkan ruang, tempat untuk bisa mengekspresikan apa yang mereka yakini," kata Pramono.

Pramono mengatakan, untuk pertama kalinya kawasan Bundaran HI akan dipasang penjor. Adapun penjor merupakan sebuah bambu tinggi melengkung yang dihias janur, hasil bumi, dan kain (putih/kuning).

Penjor diketahui merupakan simbol gunung suci (Gunung Agung) dan naga (naga Basuki/Taksaka/Ananta Bhoga) sebagai perwujudan rasa syukur atas kesejahteraan dan kemakmuran.

Dengan diadakannya acara ini di Jakarta, Pramono ingin menunjukkan bahwa kota ini merupakan tempat yang menghargai keberagaman.

"Itulah menunjukkan bahwa Jakarta keberagaman menjadi hal yang keseharian kita," ucap Pramono.

Adapun gelaran Pawai Ogoh-Ogoh akan dimulai pukul 06.30 sampai 09.00 WIB. Rute yang akan dilewati meliputi Pintu Barat Daya Monas, menyusuri Jalan MH Thamrin, hingga kembali lagi.

Sebelumnya, Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda Provinsi DKI Jakarta Suharini Eliawati memaparkan panitia nantinya akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan terbagi dalam empat klaster utama yakni kegiatan keagamaan (Melasti, Tawur Agung Kesanga, Nyepi, Ngembak Geni).

Lalu kegiatan sosial dan kemasyarakatan, festival budaya dan pendidikan, termasuk parade ogoh-ogoh dan Dharma Santi sebagai silaturahmi pasca-Nyepi.

Seluruh rangkaian dilaksanakan dengan lokasi yang tersebar di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat.

Melasti dijadwalkan pada 15 Maret 2026 di Pura Segara, Jakarta Utara, dan dihadiri umat Hindu se-DKI Jakarta. Sementara, Tawur Agung dilaksanakan pada 18 Maret 2026 di Pura Aditya Jaya Rawamangun.

Selain itu, panitia juga mengadakan kegiatan sosial dan budaya, seperti:

• Bakti sosial, donor darah, dan pengobatan gratis
• Seminar literasi keuangan dan UMKM
• Festival budaya dan parade Ogoh-ogoh di ruang publik
• Mendukung citra Jakarta sebagai kota toleran dan berbudaya.

Dengan berbagai kegiatan tersebut, Jakarta diharapkan dapat menjadi ruang publik yang inklusif sekaligus mencerminkan keberagaman budaya dan agama yang hidup berdampingan di ibu kota.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index