OJK

Proyeksi OJK Pembiayaan Multifinance Tumbuh Pada 2026, Ini Pendapat ACC

Proyeksi OJK Pembiayaan Multifinance Tumbuh Pada 2026, Ini Pendapat ACC
Proyeksi OJK Pembiayaan Multifinance Tumbuh Pada 2026, Ini Pendapat ACC

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan bahwa piutang pembiayaan industri multifinance di Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang stabil, dengan kisaran angka 6%-8% secara tahunan (Year on Year atau YoY) pada tahun 2026. 

Prediksi ini menunjukkan adanya optimisme terhadap potensi sektor multifinance, meskipun berbagai tantangan tetap menghiasi pasar yang penuh dinamika.

PT Astra Sedaya Finance (ACC), yang merupakan salah satu pemain utama dalam sektor pembiayaan, menyambut baik proyeksi OJK tersebut. EVP Corporate Communication & Strategy ACC, Riadi Prasodjo, menilai bahwa proyeksi tersebut memberikan peluang besar bagi perusahaan untuk berkembang lebih jauh.

 Namun, Riadi menekankan bahwa realisasi dari proyeksi ini akan sangat bergantung pada sejumlah faktor eksternal yang dapat memengaruhi industri ini, mulai dari kondisi ekonomi makro hingga tren sektor otomotif.

Peluang yang Dapat Dimanfaatkan oleh ACC

Meski tantangan cukup nyata, ACC melihat beberapa peluang besar yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai proyeksi pertumbuhan tersebut. 

Riadi Prasodjo mengungkapkan bahwa salah satu strategi utama perusahaan adalah diversifikasi produk pembiayaan. Dengan memperluas jenis produk yang ditawarkan, ACC berharap dapat menjangkau lebih banyak konsumen dengan beragam kebutuhan, serta memberikan lebih banyak pilihan pembiayaan yang fleksibel.

Selain itu, penguatan kerja sama dengan mitra dealer dan optimalisasi pengembangan layanan serta produk juga menjadi fokus utama dalam pencapaian target pertumbuhan ini. 

Dengan kolaborasi yang lebih erat dengan mitra dealer, diharapkan proses pembiayaan akan menjadi lebih efisien, dan jaringan distribusi produk bisa semakin luas. Hal ini akan memudahkan ACC dalam mencapai target yang sudah ditetapkan.

Meski prospek tersebut cerah, Riadi juga menekankan pentingnya pendekatan yang hati-hati, mengingat pasar pembiayaan yang cenderung dinamis. Perusahaan harus dapat menjaga keseimbangan yang tepat antara mencapai pertumbuhan yang diinginkan dan memastikan kualitas portofolio pembiayaan tetap terjaga.

Tantangan di Tahun 2026 yang Perlu Diwaspadai

Di sisi lain, Riadi juga mengungkapkan beberapa tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja ACC pada tahun 2026. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas portofolio, di tengah ketidakpastian kondisi pasar. 

Perusahaan harus bijaksana dalam memilih dan memitigasi risiko, agar tidak terjadi penurunan kualitas pembiayaan meskipun tumbuh secara signifikan.

Menurut Riadi, tantangan ini akan semakin besar dengan adanya potensi fluktuasi dalam daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi global. Untuk itu, perusahaan diharapkan dapat menerapkan manajemen risiko yang lebih hati-hati dan adaptif terhadap perubahan pasar yang cepat.

ACC juga harus mengantisipasi dinamika sektor otomotif, yang menjadi sektor dominan dalam pembiayaan multifinance. Pertumbuhan sektor otomotif yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, tren konsumsi masyarakat, serta kondisi pasar mobil bekas, bisa memengaruhi volume pembiayaan yang diajukan oleh konsumen.

Kinerja Keuangan ACC dan Target di Tahun 2026

Seperti yang terungkap dalam laporan kinerja 2025, ACC berhasil mencatatkan piutang pembiayaan yang signifikan, yaitu mencapai Rp 40 triliun, dengan pertumbuhan positif dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Riadi menambahkan bahwa meskipun kinerja perusahaan tahun 2025 mengalami pertumbuhan, pihaknya tetap fokus untuk meningkatkan piutang pembiayaan pada 2026 agar dapat tumbuh lebih optimal.

Untuk itu, strategi pengembangan produk dan layanan inovatif menjadi kunci dalam pencapaian target pertumbuhan. Dalam hal ini, ACC berkomitmen untuk tetap memegang prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kebijakan pembiayaan. 

Penerapan manajemen risiko yang prudent akan membantu memastikan bahwa meskipun volume pembiayaan meningkat, kualitas dan keberlanjutan bisnis tetap terjaga.

OJK juga mencatat bahwa sektor multifinance secara keseluruhan mengalami pertumbuhan piutang yang tipis pada tahun 2025, dengan hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,61% secara YoY. 

Piutang pembiayaan di industri multifinance tercatat mencapai Rp 506,5 triliun pada akhir 2025. Angka ini menunjukkan adanya tantangan yang perlu dihadapi oleh seluruh pelaku industri, termasuk ACC, dalam memacu kinerja yang lebih baik pada tahun 2026.

Menghadapi Dinamika Pasar dengan Strategi yang Tepat

Secara keseluruhan, meskipun tantangan besar tetap ada, ACC memandang proyeksi pertumbuhan yang diungkapkan oleh OJK sebagai peluang untuk berkembang lebih jauh. Dengan pemanfaatan peluang melalui diversifikasi produk, kerjasama strategis dengan mitra dealer, serta penguatan produk dan layanan, perusahaan optimistis bisa mencapainya.

Namun, dengan segala peluang yang ada, menjaga kualitas portofolio pembiayaan dan memastikan kestabilan di tengah kondisi pasar yang tidak menentu tetap menjadi perhatian utama bagi ACC dan industri multifinance secara keseluruhan. 

Manajemen risiko yang prudent, serta kemampuan beradaptasi dengan tren pasar, menjadi kunci bagi ACC dan industri multifinance dalam menjalani tahun 2026 yang penuh tantangan namun juga penuh peluang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index