Krakatau Steel

Krakatau Steel Bidik Lonjakan Produksi Baja Signifikan Tahun 2026

Krakatau Steel Bidik Lonjakan Produksi Baja Signifikan Tahun 2026
Krakatau Steel Bidik Lonjakan Produksi Baja Signifikan Tahun 2026

JAKARTA - Upaya memperkuat industri baja nasional terus digencarkan seiring meningkatnya kebutuhan domestik dari tahun ke tahun. 

Di tengah tantangan global dan ketergantungan impor yang masih tinggi, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menyiapkan langkah agresif untuk meningkatkan kapasitas produksi pada 2026. Strategi ini dipandang penting untuk memperbaiki kinerja perusahaan sekaligus memperkuat struktur industri baja dalam negeri.

Dengan mengandalkan fasilitas produksi yang ada di Cilegon, Banten, Krakatau Steel optimistis dapat mencatatkan lonjakan produksi signifikan pada tahun ini. Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan dan transformasi perusahaan yang juga didukung oleh proyek hilirisasi strategis bersama Danantara.

Target Produksi Baja Tahun Ini

PT Krakatau Steel Tbk menargetkan produksi baja sebesar 1,2 juta hingga 1,3 juta ton pada 2026. Corporate Secretary Krakatau Steel, Fedaus, menyampaikan bahwa target tersebut dicapai dengan memaksimalkan operasional satu pabrik eksisting yang berlokasi di Cilegon.

Sebagai perbandingan, produksi baja KRAS sepanjang 2025 tercatat sebanyak 936 ribu ton. Dengan target terbaru tersebut, produksi baja perusahaan berpotensi meningkat hingga sekitar 38% pada 2026. Kenaikan ini menjadi sinyal optimisme manajemen terhadap perbaikan kinerja operasional perusahaan.

“Nilai ini (target tahun 2026) belum termasuk tambahan dari proyek pabrik slab baru bersama Danantara. Pembangunan pabrik slab bersama Danantara masih proses feasibility study (FS),” ujar Fedaus.

Ia menegaskan, fokus utama KRAS saat ini adalah mengoptimalkan fasilitas produksi yang sudah ada agar dapat beroperasi lebih efisien dan stabil, sembari menunggu realisasi proyek-proyek baru yang tengah dipersiapkan.

Proyek Hilirisasi Bersama Danantara

Terkait kerja sama dengan Danantara, Fedaus menjelaskan bahwa sejak Januari 2026, Krakatau Steel memperoleh informasi mengenai pemberian dua proyek hilirisasi strategis dari Presiden Prabowo Subianto. Proyek tersebut dinilai krusial dalam mendukung kemandirian industri baja nasional.

Proyek pertama adalah pengolahan pasir besi yang akan digunakan sebagai bahan baku produksi slab. Sementara proyek kedua berkaitan dengan pengembangan nikel yang akan dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan stainless steel. Kedua proyek ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok industri baja dari hulu ke hilir.

“Proyek realisasi ini memang masuk dalam program percepatan oleh Prabowo, yang mana diberikan kepada Danantara Asset Management (DAM),” ungkap Fedaus.

Saat ini, proyek-proyek tersebut masih berada pada tahap feasibility study yang diperkirakan berlangsung selama dua bulan ke depan. Jika terealisasi, tambahan produksi baja dari dalam negeri diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik sekaligus menekan volume impor baja.

Kebutuhan Baja Nasional Terus Meningkat

Fedaus menyampaikan bahwa kebutuhan baja di dalam negeri terus meningkat sekitar 5% hingga 6% setiap tahunnya. Pada 2025, kebutuhan baja nasional diperkirakan berada di kisaran 18 juta hingga 19 juta ton. Namun, kapasitas produksi baja dalam negeri baru mencapai sekitar 14 juta ton.

Kesenjangan antara kebutuhan dan produksi tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada impor baja. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas produksi domestik menjadi agenda penting bagi industri baja nasional, termasuk Krakatau Steel.

Menurut Fedaus, peningkatan produksi dalam negeri juga perlu dibarengi dengan kebijakan perlindungan industri, seperti penerapan anti-dumping dan safeguard. Langkah ini bertujuan menjaga daya saing produsen baja lokal dari tekanan produk impor.

“Ini melindungi industri baja di dalam negeri dengan anti-dumping dan safeguard. Lalu, ini bisa mengutilisasi bahan baku yang ada di dalam negeri agar bisa dipakai secara maksimal oleh industri di Tanah Air,” katanya.

Intervensi Danantara Dorong Kinerja Perusahaan

Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa pihaknya memiliki target agar industri dalam negeri dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut, Danantara menjalankan sejumlah proyek strategis dengan sektor baja sebagai salah satu prioritas utama.

Langkah konkret yang dilakukan adalah intervensi langsung terhadap kinerja Krakatau Steel guna memperbaiki kondisi perusahaan. Dony mengklaim bahwa intervensi tersebut mulai menunjukkan hasil positif, terutama dari sisi kinerja keuangan KRAS.

“Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat, secara finansial Danantara sudah melakukan intervensi dan juga perbaikan terhadap kesehatan daripada perusahaan kita Krakatau Steel,” ujarnya.

Selain itu, Danantara juga berinisiatif membangun pabrik slab di Cilegon, Banten, dengan kapasitas produksi hingga 3 juta ton per tahun. Pabrik ini direncanakan dibangun tanpa investasi bersama mitra luar, meskipun nilai investasi proyek tersebut belum diungkapkan.

Dengan kombinasi peningkatan produksi eksisting, proyek hilirisasi, serta dukungan strategis dari Danantara, Krakatau Steel optimistis dapat memperkuat perannya dalam industri baja nasional. 

Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor sekaligus mendukung pertumbuhan sektor industri di Tanah Air pada tahun-tahun mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index