Asuransi Energi ACA

Prospek Cerah Asuransi Energi ACA Dorong Ekspansi Bisnis Berkelanjutan

Prospek Cerah Asuransi Energi ACA Dorong Ekspansi Bisnis Berkelanjutan
Prospek Cerah Asuransi Energi ACA Dorong Ekspansi Bisnis Berkelanjutan

JAKARTA - Dinamika sektor energi terus bergerak seiring perubahan kebutuhan industri dan arah kebijakan pembangunan nasional. 

Di tengah dorongan menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan, perusahaan asuransi melihat ruang pertumbuhan baru yang tidak hanya menjanjikan dari sisi volume bisnis, tetapi juga dari keberlanjutan jangka panjang. 

Kondisi inilah yang mendorong PT Asuransi Central Asia (ACA) menilai bahwa lini asuransi energi masih memiliki prospek cerah pada 2026, meskipun tetap membutuhkan strategi selektif dalam pengelolaannya.

Pandangan tersebut disampaikan Kepala Divisi Asuransi Energi dan Properti ACA, Mohamad Baihaqi, yang menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menggarap sektor ini. Menurutnya, peluang tetap terbuka lebar, terutama karena adanya percepatan transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) yang menjadi fokus pembangunan pemerintah. 

Target investasi pemerintah sebesar Rp 1.682 triliun pada sektor EBT dinilai menjadi katalis utama yang dapat mendorong pertumbuhan kebutuhan perlindungan asuransi di bidang energi.

Peluang dari Transisi Energi Nasional

Baihaqi menjelaskan bahwa arah pengembangan bisnis ACA akan lebih banyak menyasar proyek energi darat atau onshore energy. Contohnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang dinilai memiliki risiko teknis lebih terukur dibandingkan proyek lepas pantai.

"ACA diprediksi akan lebih banyak menggarap onshore energy, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), karena risiko teknisnya lebih terukur," ungkapnya.

Selain faktor risiko yang lebih terkendali, pertumbuhan proyek EBT juga membuka kebutuhan baru terhadap perlindungan aset, konstruksi, hingga operasional. Hal ini menjadikan sektor energi hijau bukan sekadar tren sementara, melainkan peluang bisnis jangka panjang bagi industri asuransi. 

Dengan meningkatnya investasi dan pembangunan infrastruktur energi bersih, kebutuhan mitigasi risiko melalui produk asuransi diperkirakan ikut meningkat secara konsisten.

Kapasitas Modal dan Strategi Pengelolaan Risiko

Di sisi lain, Baihaqi menyoroti posisi keuangan ACA yang dinilai sangat kuat untuk menopang ekspansi pada lini energi. Angka Risk Based Capital (RBC) perusahaan yang mencapai 432% per September 2025 menunjukkan kapasitas modal yang longgar dalam menyerap risiko besar, baik pada proyek offshore maupun onshore yang umumnya memerlukan nilai pertanggungan tinggi.

Kondisi permodalan tersebut memberi ruang bagi ACA untuk tetap ekspansif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Dengan dukungan RBC yang tinggi, perusahaan memiliki fleksibilitas dalam memilih proyek yang berkualitas sekaligus menjaga stabilitas keuangan. Hal ini menjadi fondasi penting agar pertumbuhan bisnis tidak mengorbankan kesehatan perusahaan dalam jangka panjang.

Lebih jauh, Baihaqi menegaskan bahwa strategi utama ACA bukan semata mengejar peningkatan volume premi. Perusahaan justru menempatkan profitabilitas sebagai prioritas utama dalam pengembangan lini asuransi energi. 

Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan, terutama di tengah karakteristik proyek energi yang bernilai besar dan berisiko kompleks.

Diversifikasi Portofolio Menuju Infrastruktur Hijau

Masuknya ACA ke sektor EBT juga dipandang sebagai langkah diversifikasi portofolio bisnis. Selama ini, industri otomotif dan properti menjadi pasar tradisional perusahaan, namun persaingan yang semakin ketat mendorong perlunya perluasan ke sektor baru yang memiliki prospek pertumbuhan lebih stabil.

Menurut Baihaqi, pengembangan ke infrastruktur hijau merupakan strategi logis untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang.

"Dengan demikian, masuk ke infrastruktur hijau adalah strategi diversifikasi yang logis untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang hingga 2026 dan seterusnya," ucapnya.

Diversifikasi ini tidak hanya memperluas sumber pendapatan, tetapi juga menempatkan perusahaan dalam ekosistem pembangunan berkelanjutan. Seiring meningkatnya perhatian global terhadap isu lingkungan, sektor energi bersih berpotensi menjadi salah satu penopang utama industri keuangan dan asuransi di masa depan.

Kinerja Premi dan Proyeksi Pertumbuhan

Dari sisi kinerja, Baihaqi mengungkapkan bahwa ACA membukukan pendapatan premi lini asuransi energi sebesar Rp 379,17 miliar pada kuartal IV-2025. Nilai tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 66% secara Year on Year (YoY), dengan kontribusi 6,4% terhadap total premi perusahaan.

Capaian ini memperlihatkan bahwa lini energi mulai memainkan peran penting dalam struktur bisnis ACA. Dengan proyeksi pertumbuhan sektor EBT yang diperkirakan berada di kisaran 5% hingga 10% pada 2026, optimisme terhadap kinerja lini energi pun semakin menguat. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas industri dan komersial yang membutuhkan pasokan energi berkelanjutan.

Meski demikian, perusahaan tetap menekankan pendekatan selektif dalam memilih proyek dan menjaga keseimbangan antara ekspansi dan manajemen risiko. 

Langkah ini diharapkan mampu memastikan bahwa pertumbuhan yang dicapai tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Perkembangan sektor energi yang semakin terarah pada keberlanjutan memberi sinyal positif bagi industri asuransi. Dengan kombinasi peluang investasi, kapasitas modal kuat, serta strategi yang menitikberatkan pada profitabilitas dan diversifikasi, lini asuransi energi dipandang memiliki ruang tumbuh yang menjanjikan hingga beberapa tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index