Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5% pada 2026, IMF Tetap Optimis

Kamis, 09 Juli 2026 | 18:22:31 WIB
IMF Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Level 5% [FOTO: NET].

JAKARTA — International Monetary Fund (IMF) tetap mempertahankan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,0% untuk tahun 2026. 

Merujuk pada laporan terbaru berjudul World Economic Outlook (WEO) Update: Global Economy in Crosscurrents of War and Technology edisi Juli 2026, angka proyeksi ini tidak mengalami perubahan dibandingkan estimasi pada edisi April 2026 lalu.

Selanjutnya, IMF memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,1% pada tahun 2027.

Proyeksi pertumbuhan nasional tersebut tercatat melampaui rata-rata kelompok negara berkembang di kawasan Asia (Emerging and Developing Asia), yang diprediksi melambat di level 4,8% pada 2026.

 Capaian ekonomi Indonesia juga dinilai lebih tinggi dibandingkan rata-rata kawasan Asean-5 yang diestimasikan hanya berada di level 4,3% tahun ini.

Walau demikian, target pertumbuhan ekonomi sebesar 5% dari IMF tersebut masih berada di bawah sasaran pemerintah. Dalam APBN 2026, pemerintah bersama DPR telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi di angka 5,4%.

Di samping itu, IMF memproyeksikan perlambatan ekonomi global pada tahun ini, di mana pertumbuhan dunia diperkirakan mencapai 3,0% pada 2026 sebelum pulih ke angka 3,4% di 2027.

Laporan tersebut menegaskan bahwa prospek ekonomi global kini dibentuk oleh dua kekuatan yang berlawanan. "Pertama adalah guncangan pasokan negatif yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah. Kedua adalah guncangan teknologi positif yang terus berlanjut, yang bermanifestasi dalam percepatan momentum siklus teknologi global, yang sebagian besar didorong oleh kemajuan dan penyebaran alat akal imitasi [artificial intelligence/AI)," tulis IMF dalam laporannya, dikutip Kamis (9/7/2026).

Meskipun ekonomi global sejauh ini mampu bertahan dari guncangan ketidakpastian, IMF memperingatkan bahwa risiko ekonomi masih condong ke arah bawah. Ancaman utama bersumber dari potensi eskalasi konflik di Asia Barat yang dapat memicu volatilitas harga komoditas serta mengganggu rantai pasok global.

Terkini