Erick Thohir Tinjau Pembinaan Pemain Muda di Piala Presiden

Rabu, 08 Juli 2026 | 06:39:31 WIB
Ketua Umum PSSI yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir. (Foto: NET)

JAKARTA - Ketua Umum PSSI yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, menyelenggarakan turnamen tingkat akar rumput guna menjaring bibit-bibit atlet sepak bola usia muda. 

Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya membangun fondasi kokoh untuk pembinaan pemain nasional sejak usia dini.

"Saya terima kasih kepada Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan PSSI tingkat provinsi yang telah percaya bahwa menciptakan pemain itu harus dari bawah," ungkap Erick Thohir saat menghadiri Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden di JEC Soccer Field, Banguntapan, Kabupaten Bantul, pada Rabu (8/7/2026).

Erick menjelaskan bahwa kehadirannya di ajang tersebut dimaksudkan untuk meninjau langsung perkembangan para pemain usia dini, sekaligus memantau bibit-bibit potensial yang diproyeksikan untuk memperkuat tim nasional Indonesia di masa depan.

"Kami ke sini melihat secara langsung bagaimana kejuaraan U-10 dan U-12 ini menjadi fondasi untuk mencari bibit baru bagi timnas masa depan," tuturnya.

Menurut Erick, program pembinaan usia dini kini krusial menyusul langkah FIFA meluncurkan turnamen U-15 World Cup and Festival 2026 yang diagendakan bergulir di Azerbaijan pada 22-31 Oktober 2026.

"Saat ini FIFA sudah membuat kejuaraan U-15 yang dimulai di bulan Oktober tahun ini," katanya.

Erick menilai bahwa peluang bagi Indonesia untuk bersaing di kancah internasional kini kian terbuka lebar, sehingga pembinaan pemain mesti digenjot sejak kelompok umur di bawah 15 tahun.

"Ini harus kami persiapkan dari bibit-bibit di bawah U-15 dan bukan tidak mungkin juga ada pemain U-12 bisa bermain di kategori U-15," katanya.

Menurutnya, masing-masing negara menerapkan strategi pembinaan atlet yang berlainan, sementara Indonesia memilih mematangkan kekuatan sepak bolanya lewat kompetisi dan pembinaan yang dimulai dari level terbawah.

"Tiap negara punya strategi masing-masing, di Indonesia kami percaya pembangunan dari bawah," tuturnya.

Erick mengambil contoh strategi pembinaan pemain muda di Belanda, yang memutuskan untuk meniadakan tim nasional kelompok umur U-15 sebagai bagian dari mekanisme berjenjang menuju kelompok usia di atasnya.

"Kemarin Belanda saja sudah menghapuskan tim U-15-nya, bukan mereka tidak percaya pada tim U-15, tetapi mereka akan menjaring U-15 bisa langsung ke U-17," ucapnya.

Di samping Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden, PSSI selama tiga tahun ke belakang juga rutin menyelenggarakan beragam kompetisi kelompok umur, termasuk Piala Soeratin dan Piala Pertiwi, demi menjaga kontinuitas pembinaan usia muda secara berjenjang.

"PSSI tiga tahun terakhir kami selalu ada namanya Piala Soeratin, Pertiwi yang sudah jalan terus karena tidak mungkin kami melakukan pembinaan dari atas saja, tapi juga dari bawah," ujarnya.

Ketika ditanya perihal potensi keterlibatan pemantau bakat dalam Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden, Erick menegaskan bahwa proses penyaringan bakat ini digarap langsung oleh jajaran Komite Eksekutif (Exco) PSSI yang membidangi sektor tersebut.

"Exco-nya langsung, langsung Exco talent scouting, enggak kaleng-kaleng ya," tandasnya.

Festival Grassroot U-10 dan U-12 Piala Presiden tingkat nasional yang dihelat pada 7-12 Juli 2026 ini menghadirkan tim-tim juara regional dari berbagai penjuru tanah air. 

Beberapa di antaranya meliputi FBS Nusantara dari Banjar, Lambhuk FA dari Aceh, serta Perspin dari Pinrang, Sulawesi Selatan, yang bertujuan memperluas jangkauan pembinaan sepak bola usia dini di seluruh penjuru Indonesia.

Terkini