Rupiah Anjlok ke Rp18.014, Tertekan Sentimen Domestik dan Global

Rabu, 08 Juli 2026 | 03:29:02 WIB
ILustrasi - Nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali merosot hingga melewati angka psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari Rabu (8/7/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (8/7/2026), mata uang garuda di pasar spot menyudahi perdagangan di posisi Rp 18.014 per dolar AS. 

Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,19% bila dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.980 per dolar AS. Sepanjang perdagangan harian, rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp 18.018 per dolar AS.

Kondisi searah juga terlihat pada kurs rupiah Jisdor Bank Indonesia (BI) yang terpantau melemah 0,94% secara harian ke level Rp 18.005, dari posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.988 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengungkapkan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah kali ini dominan disebabkan oleh faktor dari dalam negeri. 

Menurut penilaiannya, hasil survei yang memperlihatkan penurunan signifikan pada tingkat kepercayaan konsumen Indonesia periode Juni menjadi salah satu beban bagi laju rupiah.

Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2026 sebenarnya masih di area optimis pada level 117,8, namun capaian tersebut lebih rendah daripada IKK bulan sebelumnya yang berada di posisi 120,9.

Bukan hanya itu, sentimen investor terhadap aset domestik kian tertekan oleh kabar mengenai S&P Dow Jones Indices atau S&P DJI yang memasukkan Indonesia ke dalam 2027 Watchlist. 

Situasi ini memperbesar peluang turunnya klasifikasi pasar ekuitas Indonesia dari yang sebelumnya emerging market menjadi frontier market.

Tekanan tambahan juga datang dari faktor eksternal. "Terlebih harga minyak kembali naik oleh eskalasi di Timur Tengah turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah," ujar Lukman, Rabu (8/7/2026).

Melihat ke depan, Lukman menyampaikan bahwa para pelaku pasar akan mencermati hasil notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan meluncur nanti malam. 

Ia menilai dolar AS berpeluang kembali menguat jika Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh kembali memberikan sinyal kebijakan ketat (hawkish) seperti pada FOMC bulan lalu.

Sementara dari sisi domestik, para investor masih menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dipublikasikan esok hari. Data ini bakal dimanfaatkan sebagai indikator untuk membaca kekuatan konsumsi dalam negeri sekaligus arah pergerakan rupiah berikutnya.

Menghadapi perdagangan hari Kamis (9/7/2026), Lukman memproyeksikan mata uang rupiah akan berfluktuasi dalam rentang Rp17.950 sampai Rp18.050 per dolar AS.

Terkini