Kupon Obligasi Korporasi AAA dan AA Turun Saat Yield SBN Naik

Rabu, 08 Juli 2026 | 02:21:32 WIB
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). (Foto: NET)

JAKARTA – Di tengah melesatnya yield acuan SBN, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) justru melihat imbal hasil surat utang korporasi yang dirilis oleh emiten dengan peringkat investasi tinggi memperlihatkan arah penurunan pada semester I/2026.

Direktur Pemeringkatan Pefindo Hendro Utomo menyebutkan bahwa penyusutan kupon utamanya dijumpai pada obligasi dengan peringkat AAA dan AA di berbagai pilihan tenor.

"Terlihat memang ada tren cenderung penurunan untuk peringkat AAA dan AA. Baik untuk tenor 1 tahun, 3 tahun, maupun 5 tahun, tren besaran kuponnya cenderung menurun sampai dengan semester I/2026," ujar Hendro dalam paparan Pefindo, Rabu (8/7/2026).

Dipaparkannya, koreksi paling tajam didapati pada obligasi dengan peringkat AAA untuk jangka waktu 1 tahun. Di sisi lain, kupon bagi tenor 3 dan 5 tahun ikut merosot, namun dengan ritme yang lebih landai.

"Untuk yang paling dalam penurunannya mungkin tenor satu tahun. Sementara tenor 3 dan 5 tahun lebih landai penurunannya," katanya.

Kondisi yang sejalan juga melanda obligasi yang memegang peringkat AA. Hendro memaparkan tingkat kupon obligasi berjangka 1 tahun mengalami penyusutan yang terbilang dalam. Tren ini turut diikuti oleh tenor 3 dan 5 tahun.

Sementara itu, pada surat utang berkode peringkat single A, ritme pergerakannya terpantau agak berlainan. Imbal hasil obligasi tenor satu tahun malah merangkak naik jika dikomparasikan dengan tahun sebelumnya, sedangkan untuk jangka waktu 3 dan 5 tahun masih memperlihatkan arah penurunan yang cukup terbatas.

"Untuk peringkat single A terlihat agak sedikit berbeda. Tenor satu tahun malah ada kenaikan kupon dibandingkan 2025. Sementara tenor 3 dan 5 tahun bisa dibilang menurun juga, walaupun tidak terlalu besar atau cenderung landai," ujarnya.

Adapun sepanjang masa pemantauan sampai paruh pertama 2026 ini, tidak ditemukan adanya penerbitan instrumen obligasi dengan peringkat BBB.

Penyusutan tingkat kupon surat utang korporasi tersebut bergulir di tengah meroketnya yield SBN selama beberapa bulan terakhir.

Kepala Divisi Riset Ekonomi dan Chief Economist Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto, berpandangan bahwa melandainya rata-rata yield surat utang korporasi selama enam bulan pertama 2026 ini dipicu oleh masifnya volume penerbitan pada kuartal pertama 2026.

Kendati demikian, Suhindarto menggarisbawahi apabila posisi yield tetap bertahan di level tinggi, terdapat potensi rata-rata imbal hasil akan berbalik mendaki pada paruh kedua 2026.

”Sebenarnya untuk risiko korporasi masih stabil di tengah tantangan ekonomi seperti saat ini. Karena memang kalau di sisi pasar keuangan, terutama di pasar surat utang, memang risiko yang ditimbulkan adalah dari pasar surat utang pemerintahnya. Yield benchmarknya yang justru mendorong naik di pasar surat utang korporasinya,” katanya pada momen yang sama.

Terkini