Jangan Salah Kaprah, Ini 7 Mitos Seputar Protein Bagi Wanita

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:19:31 WIB
7 Mitos Konsumsi Protein pada Wanita yang Perlu Diketahui [FOTO: NET].

JAKARTA - Protein memegang peranan sebagai zat gizi mikro yang krusial bagi penunjang stamina dan kesehatan wanita. Pemenuhan zat protein yang ideal berkhasiat mendukung kepadatan tulang, memelihara kilau rambut serta kekuatan kuku, hingga menjaga stabilitas massa otot.

Kendati demikian, cukup banyak beredar kabar yang simpang siur terkait dampak riil protein terhadap metabolisme tubuh wanita. 

Ada kelompok yang berasumsi bahwa kelebihan asupan protein bakal memicu otot tumbuh terlalu besar, sementara di pihak lain ada yang meyakini bahwa sekadar mengonsumsi camilan berlabel protein sudah cukup efektif guna mempertahankan berat badan ideal.

Pada dasarnya, angka kebutuhan rata-rata bagi wanita yang bergerak aktif berkisar di angka 1,2–1,6 gram protein untuk setiap kilogram berat badan per harinya. 

Namun, takaran pasokan nutrisi ini sejatinya sangat variatif, karena bertumpu pada indikator usia, volume aktivitas harian, kondisi kesehatan, hingga tahapan biologis tertentu layaknya masa kehamilan, periode menyusui, atau fase perimenopause.

Berikut ini merupakan jajaran mitos seputar pemenuhan asupan protein bagi tubuh wanita, yang dirangkum dari Everyday Health, Selasa (7/7/2026).

Ragam mitos seputar asupan protein bagi wanita

1. Wanita sangat sulit memenuhi kebutuhan protein harian Seorang ahli gizi sekaligus penyusun buku "DASH Diet for Dummies", Rosanne Rust, RDN, menjabarkan bahwa merealisasikan target pemenuhan protein harian sebetulnya terhitung mudah dijalankan, asalkan diimbangi lewat penerapan taktik yang tepat.

"Tidak sulit untuk mengonsumsi cukup protein jika kamu fokus pada variasi dan porsinya," ungkap dia.

Langkah praktisnya adalah dengan menyisipkan ragam pangan kaya nutrisi ini pada tiap agenda makan besar maupun di sela-sela waktu camilan. Kebutuhan tersebut juga dapat melonjak secara alami pada beberapa kondisi medis tertentu, menurut direktur laboratorium diet dan nutrisi di University of Virginia Sibylle Kranz, PhD, RDN.

"Seseorang yang sedang dalam masa penyembuhan dari cedera, saat demam tinggi, masa pemulihan dari penyakit, atau keadaan lain yang mengharuskan tubuh menggunakan energi akan membutuhkan asupan protein yang lebih tinggi," ujar dia.

2. Protein hanya untuk membesarkan otot Sebagian kaum hawa kerap diselimuti rasa khawatir postur tubuh mereka berubah menjadi terlalu kekar jika terlampau sering mengonsumsi makanan berprotein. Padahal, faedah protein jauh lebih luas dari sekadar urusan otot, termasuk di antaranya menjaga kekuatan struktur tulang, menyokong performa sistem imunitas tubuh, hingga membantu memperpanjang durasi rasa kenyang.

"Protein tidak 'menggemukkan' massa otot. Protein sekadar memelihara, memperbaiki, dan melestarikannya," jelas Rust. "Latihan ketahanan khusus seperti mengangkat beban berat bisa menambah massa otot atau membuat kekar, tetapi itu pun sebagian bergantung pada genetika," tambahnya.

3. Protein hanya untuk wanita muda yang aktif Kebutuhan pasokan gizi pada wanita faktanya justru kerap mengalami peningkatan seiring bertambahnya usia, terlebih sewaktu mulai menginjak fase menopause. Fenomena ini dilatarbelakangi oleh terjadinya penyusutan volume jaringan serta kekuatan otot secara alamiah yang dikenal dengan istilah sarkopenia, yang lajunya berjalan lebih akseleratif pasca-usia 50 tahun.

"Banyak wanita, terutama orang dewasa yang lebih tua, mungkin sebenarnya kekurangan konsumsi protein," sebut Rust.

Merujuk pada pandangannya, besaran takaran yang ideal bagi kelompok wanita lanjut usia adalah di kisaran 20 sampai 25 gram protein pada setiap sajian makanan berat ataupun makanan selingan. Ukuran tersebut secara umum dinilai sudah memadai.

4. Protein nabati kalah unggul dari hewani Kedua rumpun sumber nutrisi tersebut pada dasarnya sama-sama sanggup menyuplai asupan gizi yang proporsional. Garis pembeda utamanya hanyalah terletak pada aspek kelengkapan, di mana sumber hewani merupakan kategori protein lengkap yang telah memboyong sembilan jenis asam amino esensial. Sementara itu, mayoritas dari rumpun nabati diklasifikasikan sebagai protein tidak lengkap, sehingga Anda dituntut untuk mengombinasikan aneka jenis bahan pangan seperti kelompok kacang-kacangan dan biji-bijian agar struktur nutrisinya menjadi utuh.

5. Diet tinggi protein merusak ginjal Asumsi yang terdengar mencemaskan ini sebetulnya hanya berlaku bagi para penyintas penyakit ginjal, di mana organ pembuangan mereka memang sudah mengalami penurunan fungsi untuk memfilter sisa produk limbah tubuh. Sebaliknya, bagi populasi wanita yang memiliki kondisi ginjal normal dan sehat, hasil kajian medis justru mengonfirmasi bahwa konsumsi gizi tinggi hingga menyentuh angka 1,5 gram per kilogram berat badan sama sekali tidak memicu dampak buruk terhadap kinerja organ ekskresi tersebut.

6. Boleh kurangi protein saat konsumsi obat diet Produk obat penurun berat badan berbasis golongan GLP-1 layaknya Ozempic, Wegovy, maupun Rybelsus memiliki sistem kerja yang efektif lewat metode penekanan nafsu makan. Oleh karena porsi makan otomatis merosot secara drastis, para pengguna obat-obatan ini justru diwajibkan untuk mendongkrak kuantitas asupan protein mereka supaya sistem metabolisme tubuh tidak mengikis massa otot bersamaan dengan proses pembakaran lemak.

"Banyak orang yang mengonsumsi GLP-1 kehilangan sejumlah besar massa otot," ungkap Kranz.

7. Bubuk protein harus dihindari Komoditas produk olahan suplemen ini nyatanya tidak sepenuhnya bernilai negatif, melainkan terbilang praktis untuk dikonsumsi pasca-menyelesaikan olahraga atau di kala situasi tidak memungkinkan untuk mengolah makanan segar.

"Bubuk protein bisa mengisi celah tersebut, tetapi tidak disarankan untuk hanya berfokus pada suplemen. Kelebihan memenuhi protein dari makanan adalah sekaligus mengonsumsi nutrisi lainnya," pungkas Kranz.

Terkini