Kinerja Reksadana Saham Anjlok, Investor Harus Apa?

Senin, 06 Juli 2026 | 01:52:31 WIB
CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra. (Foto: NET)

JAKARTA – Hingga penutupan paruh pertama tahun 2026, performa reksadana saham terpantau masih berada di bawah tekanan. 

Belum optimalnya pemulihan pasar saham dipicu oleh tingginya ketidakpastian ekonomi dunia serta sejumlah tantangan di dalam negeri, yang akhirnya mengoreksi hasil dari produk investasi berbasis ekuitas.

Merujuk pada data yang dirilis oleh Infovesta, sepanjang tahun berjalan hingga Juni 2026 (YtD), reksadana saham mencatatkan kemerosotan mencapai 21,87%. Sementara jika ditinjau secara bulanan (MoM), performanya mengalami penurunan sebesar 5,11%.

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, berpendapat bahwa koreksi yang terjadi pada Juni merupakan kelanjutan dari tren negatif sejak awal tahun. 

"Selain dipengaruhi oleh ketidakpastian global seperti suku bunga yang masih tinggi dan tensi geopolitik, pasar domestik juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian arah kebijakan pemerintah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, hingga potensi penurunan outlook maupun sovereign rating Indonesia," ujar Guntur, Jumat (3/7/2026).

Guntur Putra menambahkan bahwa rentetan sentimen tersebut memicu para pelaku pasar, terutama pemodal asing, untuk mengambil langkah aman. Fenomena ini terlihat dari keluarnya dana asing secara terus-menerus yang mengakibatkan pemulihan pasar saham menjadi tidak merata.

Dampak dari tekanan pasar ini turut berimbas pada produk Pinnacle Dana Prima yang mencatatkan penurunan sebesar 9,65% MoM dan melorot 9,60% YtD. 

Walau begitu, Pinnacle Investment tetap konsisten menerapkan strategi investasi yang menitikberatkan pada pembatasan risiko serta pemilihan aset secara ketat.

"Kami tetap disiplin berinvestasi pada perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat, valuasi yang menarik, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik," kata Guntur.

Guntur Putra menerangkan bahwa pihaknya tidak mengambil langkah investasi cuma berdasarkan sentimen jangka pendek. Proses pengelolaan investasi dijalankan secara sistematis dengan mengutamakan manajemen risiko yang ketat. 

Langkah ini bertujuan agar portofolio tetap kokoh menerjang fluktuasi pasar sekaligus siap menjaring peluang saat harga saham mulai murah.

Menatap paruh kedua tahun 2026, Guntur Putra melihat prospek instrumen ini masih akan sangat bergantung pada dinamika ekonomi dunia dan domestik. Di dalam negeri, kejelasan sikap dan kebijakan pemerintah akan menjadi kunci utama dalam membangun kembali kepercayaan para investor terhadap pasar keuangan nasional.

Ia meyakini komitmen kuat dari pemerintah dalam mengontrol disiplin fiskal, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memupuk keyakinan pasar bakal menjadi pendorong utama bagi kebangkitan pasar saham. 

Jika indikator-indikator tersebut memperlihatkan tren positif, maka potensi pasar untuk berbalik arah (rebound) akan semakin terbuka lebar, terlebih valuasi saham-saham domestik saat ini dinilai sudah jauh lebih murah ketimbang awal tahun.

Dalam situasi pasar yang fluktuatif ini, Guntur Putra mengimbau agar para investor menyelaraskan kembali strategi investasi mereka dengan profil risiko serta tujuan finansial masing-masing. 

Bagi pemilik profil risiko konservatif atau yang memerlukan likuiditas tinggi, reksadana pasar uang dapat menjadi opsi yang aman karena menawarkan stabilitas di tengah situasi yang tidak menentu.

Sementara untuk para investor dengan orientasi jangka panjang, momen koreksi pasar seperti sekarang dapat dimanfaatkan sebagai peluang emas untuk mencicil pembelian secara bertahap lewat reksadana saham menggunakan metode regular investing. 

Strategi ini dipandang efektif dalam membantu pemodal mendapatkan harga rata-rata yang optimal tanpa perlu bersusah payah menebak titik terendah pasar, yang secara praktis sangat sulit diprediksi dengan tepat secara terus-menerus.

Terkini