Kemendag Kebut Impor Bawang Putih Demi Stabilkan Harga Nasional

Senin, 06 Juli 2026 | 22:42:02 WIB
Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Bambang Wisnubroto. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan bahwa penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penyebab utama melonjaknya harga bawang putih di pasar domestik.

Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada minggu pertama Juli 2026, kenaikan harga komoditas ini telah meluas ke 263 kabupaten/kota, bertambah dari pekan sebelumnya yang tercatat di 251 kabupaten/kota.

Menyikapi situasi tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Bambang Wisnubroto, menegaskan bahwa pemerintah tengah menggeber realisasi impor bawang putih demi mengamankan pasokan sekaligus menekan lonjakan harga.

Hingga 3 Juli 2026, catatan Kemendag menunjukkan impor yang terealisasi baru menyentuh 225.195 ton atau setara 58,55% dari keseluruhan Persetujuan Impor (PI) yang sudah dikeluarkan. 

Padahal, kuota PI bawang putih yang dialokasikan pemerintah untuk tahun ini berada di angka 601.065 ton, dengan total PI yang diterbitkan baru mencapai 384.605 ton melalui 59 PI.

“Dari 601.065 ton ini, kami laporkan realisasi impor per 3 Juli 2026, kami dari Kementerian Perdagangan telah menerbitkan PI sebanyak 384.605 ton atau 59 PI. Kemudian realisasi impor sampai dengan tanggal 3 Juli sebanyak 225.195 ton. Atau realisasi dari PI yang telah diterbitkan saat ini sebesar 58,55%. Memang ini kami terus akan akselerasi,” kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (6/7/2026).

Merujuk pada data Neraca Pangan 2026 milik Badan Pangan Nasional (Bapanas), total kebutuhan bawang putih di dalam negeri untuk sepanjang tahun 2026 diproyeksikan berada di angka 683.136 ton, atau berkisar 56.928 ton saban bulannya. 

Ketersediaan ini disokong oleh stok di awal tahun sebesar 58.298 ton serta hasil panen lokal yang diperkirakan mencapai 23.793 ton setelah dikurangi penyusutan sebanyak 13.590 ton.

Atas dasar kalkulasi itu, pemerintah menetapkan target impor bawang putih sebesar 601.065 ton. Melalui rencana kerja tersebut, cadangan bawang putih nasional di akhir tahun 2026 diprediksi masih menyisakan kurang lebih 13.610 ton.

Bambang mengimbuhkan bahwa pihak Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri pun sudah menginstruksikan para pemegang PI untuk secepatnya mendatangkan komoditas tersebut. Perkembangan di lapangan bakal dipantau secara berkala guna menjamin ketersediaan pasokan.

Ia mengonfirmasi bahwa harga jual bawang putih di lini importir saat ini sudah bertengger di kisaran Rp29.000 per kilogram, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga di level pedagang eceran.

“Karena memang kalau kita lihat harga di tingkat importir sekarang sudah mencapai level Rp29.000. Ini tentunya berdampak ke harga di tingkat eceran,” katanya.

Ia memaparkan bahwa tren kenaikan harga ini tidak sekadar disebabkan oleh tingginya harga jual di negara asal, melainkan turut dipengaruhi oleh perkasa-nya mata uang dolar AS terhadap rupiah. Masa panen di China selaku negara pemasok utama juga ikut andil dalam dinamika pembentukan harga ini.

“Dan memang hal ini dipicu, ini sama halnya seperti kedelai karena memang faktor kurs dolar ini sangat berpengaruh. Kemudian di China juga baru panen, ini sangat berpengaruh terhadap pembentukan harga bawang putih itu sendiri,” ujarnya.

Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan luar negeri untuk komoditas ini memang tergolong tinggi, yakni melampaui 90% dari total kebutuhan domestik. Oleh sebab itu, stabilitas harga bawang putih di dalam negeri sangat rentan terhadap fluktuasi harga global, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga biaya pengiriman internasional.

Selain faktor mata uang, Kemendag mengidentifikasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menghambat jalur pelayaran Selat Hormuz sebagai pemicu melonjaknya ongkos logistik laut dunia. 

Fenomena ini ditunjukkan oleh meroketnya grafik China Containerized Freight Index (CCFI), yang otomatis mendongkrak biaya modal untuk mendatangkan bawang putih.

Oleh karena itu, Bambang menjamin Kemendag bakal mempercepat pemanfaatan PI yang telah dikeluarkan sebesar 384.605 ton, sekaligus memproses sisa alokasi kuota impor yang disesuaikan dengan neraca komoditas.

“Prinsipnya, kami akan segera mendorong para importer untuk segera mereka-alisasikan PI yang sudah diterbitkan, yang 384.000 ton kurang lebih.Jadi akan segera kami ekselerasi, termasuk untuk mengakselerasi penerbitan PI dari alokasi yang sudah ditetapkan sesuai dengan neraca komoditas. Mungkin itu terkait dengan bawang putih yang bisa kami respon,” terangnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir memberikan saran agar jalur pembongkaran muatan bawang putih impor tidak ditumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta saja. 

Ia menilai proses bongkar muat yang diarahkan langsung ke pelabuhan wilayah timur, seperti Balikpapan atau Makassar, akan mempercepat jalur logistik ke daerah tersebut sehingga efektif memotong rantai harga yang tinggi.

“Memang kalau bisa dikumpulkan, disarankan, mereka masuk langsung pelabuhannya di wilayah Timur, Makassar begitu atau Balikpapan, sehingga penyebarannya lebih cepat lagi itu, Pak. Dan itu akan membantu untuk penurunan harga yang cukup signifikan,” pungkasnya.

Terkini