Amran Sulaiman Pimpin Cetak Sawah 137 Ribu Ha di Papua

Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:27:02 WIB
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Foto: NET)

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memimpin langsung pengerjaan program optimalisasi lahan serta cetak sawah baru seluas 137 ribu hektare di wilayah Papua. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan mandiri sekaligus mendongkrak taraf hidup warga setempat. 

Aksi penanaman padi dengan memanfaatkan teknologi modern seperti pesawat nirawak (drone) dilakukan bersama kelompok tani di Desa Waninggap Kai, Kecamatan Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada Sabtu (4/7/2026).

"Seluruh program cetak sawah dan optimalisasi lahan yang kini berjalan di Papua Selatan sepenuhnya diperuntukkan bagi masyarakat, khususnya putra-putri asli Papua, sebagai bagian dari percepatan swasembada pangan nasional," kata Mentan di Merauke.

Wilayah Papua saat ini diposisikan sebagai salah satu pilar utama pengembangan sektor pangan nasional. Sampai tahun 2026, pihak pemerintah tercatat telah menggarap 83.030 hektare area cetak sawah serta 54.399 hektare area optimalisasi lahan di seluruh pelosok Tanah Papua. 

Dari total luasan tersebut, Provinsi Papua Selatan menjadi titik fokus terbesar dengan cakupan 48.934 hektare cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan, yang berarti menyumbang hampir 100 ribu hektare lahan produktif.

Adapun sebaran pembangunan di daerah Papua lainnya mencakup wilayah Papua induk seluas 24.248 hektare, Papua Barat Daya sebesar 4.675 hektare, Papua Barat menyumbang 3.373 hektare, dan kawasan Papua Pegunungan sebesar 2.000 hektare. 

Tingginya minat dan dukungan dari masyarakat setempat juga teandai dari banyaknya pengajuan untuk pembukaan lahan persawahan baru di berbagai tempat di Papua.

Mentan memberikan kepastian bahwa proyek berskala besar ini sama sekali tidak mengusik hak-hak milik warga lokal, melainkan sengaja dijalankan demi menaikkan derajat ekonomi masyarakat adat serta para petani di Papua.

“Program ini milik rakyat, milik masyarakat putra daerah Papua. Jangan ada yang mengatasnamakan masyarakat mengatakan tidak setuju, karena faktanya setelah program berjalan pendapatan masyarakat naik hingga 300 persen. Bahkan sekarang masyarakat justru meminta tambahan cetak sawah,” tegas Amran.

Ia menyampaikan bahwa pihak eksekutif akan terus konsisten melanjutkan perluasan area lumbung pangan di Papua sesuai dengan apa yang dibutuhkan warga setempat. 

Bahkan, saat mendapati laporan mengenai kendala kelangkaan pasokan bahan bakar solar untuk menggerakkan mesin pertanian di lapangan, Mentan Amran langsung mengambil tindakan cepat dengan menghubungi pihak Pertamina agar pasokan solar bagi para petani bisa segera dipasok kembali.

“Begitu mendapat laporan kekurangan solar, kami langsung berkoordinasi dengan Pertamina dan kuotanya siap ditambah. Yang penting kebutuhan petani terpenuhi agar aktivitas di lapangan tidak terganggu,” ujarnya.

Upaya serius penguatan sektor agraris di wilayah Merauke kini sudah membuahkan hasil yang konkret. Angka indeks pertanaman terpantau naik dari yang semula hanya 1,05 menjadi berada di kisaran 1,82 hingga 2,00. 

Perkembangan positif ini dibarengi pula dengan melonjaknya angka produktivitas tanaman padi. Dampak baiknya, jumlah produksi beras nasional, total luas area panen, serta pendapatan riil para petani lokal merangkak naik secara konsisten.

Mentan menambahkan bahwa kebijakan pemerintah tidak melulu soal pembukaan lahan sawah yang baru, namun juga berfokus pada pembentukan ekosistem pertanian modern yang menyeluruh melalui pendistribusian alat dan mesin pertanian, penyediaan benih berkualitas tinggi, perbaikan sistem irigasi, pembentukan brigade pangan, hingga pemberian pengawalan yang intensif kepada kelompok tani.

“Sekarang petani Merauke sudah mampu mengoperasikan alat pertanian modern. Teknologi yang digunakan negara-negara maju kini juga digunakan di Papua untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani,” katanya.

Mentan Amran menegaskan kembali komitmen kuat pemerintah untuk terus memperlebar jangkauan sentra pangan di Papua sebagai bagian dari skema besar memperkokoh kedaulatan pangan di tingkat nasional. 

Menurut pandangannya, seluruh rangkaian program ini dirancang agar segala keuntungan dan hasilnya kembali dinikmati oleh masyarakat Papua selaku pemilik ulayat sekaligus penggerak roda utama sektor pertanian di daerah mereka sendiri.

Pada kesempatan yang sama, Penjabat Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo mengemukakan bahwa Merauke telah sah menjadi urat nadi utama bagi pengembangan sektor pangan di seantero Tanah Papua. Dari akumulasi sekitar 84 ribu hektare program cetak sawah di Papua, porsi di atas 48 ribu hektare di antaranya berada di Kabupaten Merauke. 

Hal yang serupa juga terjadi pada program optimalisasi lahan, di mana sekitar 53 ribu hektare dari keseluruhan total 54 ribu hektare dipusatkan di Merauke.

“Lebih dari separuh program cetak sawah di Tanah Papua dan hampir seluruh program optimalisasi lahan berada di Merauke. Ini menunjukkan Merauke menjadi pusat pengembangan pangan di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa jajaran Pemerintah Provinsi Papua Selatan memegang komitmen penuh untuk menyukseskan jalannya seluruh Proyek Strategis Nasional, terutama di bidang ketahanan pangan, sebagai wujud konkret implementasi visi Asta Cita dari Presiden Prabowo Subianto demi menjaga stabilitas ekonomi serta ketahanan pangan nasional.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian karena program ini memberi manfaat besar bagi ekonomi masyarakat. Kami siap mendukung penuh agar Papua Selatan menjadi lumbung pangan, bahkan ke depan mampu menjadi pengekspor beras,” katanya.

Terkini