Dinilai Masih Sepi, IKN Tidak Dipilih Jadi Pusat Finansial RI

Sabtu, 04 Juli 2026 | 15:38:01 WIB
Purbaya Sebut IKN Belum Layak Jadi Pusat Finansial Internasional [FOTO: NET].

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, saat ini belum layak dijadikan lokasi Pusat Finansial Internasional (PFI). Menurutnya, kondisi kawasan IKN yang masih sepi menjadi alasan utama pemerintah tidak memilih lokasi tersebut.

"Mungkin enggak, (IKN) terlalu sepi," ujar Purbaya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, dikutip dari Kompas.com, Kamis (2/7/2026).

Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah belum menentukan lokasi resmi Pusat Finansial Internasional karena pembahasan masih terus berlangsung. Sejumlah daerah masih dipertimbangkan sebagai kandidat lokasi pembangunan pusat keuangan tersebut.

Menurut Purbaya, lokasi yang dipilih nantinya harus mampu memberikan kenyamanan bagi para investor dari berbagai negara.

"Kan masih dibahas ya, ada alternatif ya mungkin beberapa di Bali, tapi mungkin ada beberapa titik juga," jelas Purbaya.

"Tapi yang jelas, kami akan cari tempat yang paling comfortable untuk internasional investor," tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sempat mengungkapkan rencana pemerintah membentuk Special Financial Center (Pusat Finansial Khusus). Langkah ini ditempuh sebagai upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang aman di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik dunia.

"Rencana kami mau bikin Special Financial Center. Kami lagi cari tempat," kata Prabowo saat memberikan taklimat kepada para menteri, wakil menteri, kepala badan, hingga pejabat eselon I kementerian di Istana Kepresidenan Jakarta, dilansir dari Kompas.com, Rabu (8/4/2026).

Prabowo menjelaskan, gagasan tersebut sebelumnya sempat disampaikan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, di mana Bali diusulkan sebagai lokasi pengembangan pusat finansial khusus tersebut. 

Menurut Prabowo, situasi global yang penuh gejolak merupakan peluang bagi Indonesia untuk menghadirkan kebijakan strategis sekaligus mengakselerasi berbagai program prioritas nasional.

"Intinya adalah, kami sangat banyak potensi. Tapi, ini juga, yang saya katakan, membuat kami sekarang harus lebih keras, bekerja lebih teliti," pungkasnya.

Terkini