Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat ke Rp17.963 per Dolar AS

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:27:32 WIB
Ilustrasi - Pergerakan mata uang garuda. (Foto: NET)

JAKARTA — Pergerakan mata uang garuda diproyeksikan tetap berada di bawah tekanan pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026) akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. 

Tekanan terhadap rupiah ini dipicu oleh penurunan performa sektor manufaktur, meningkatnya kecemasan terhadap situasi ekonomi dalam negeri, serta penantian rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat.

Ibrahim Assuaibi, seorang analis komoditas dan mata uang, memprediksi pergerakan mata uang rupiah hari ini akan berada pada kisaran Rp17.990 sampai Rp18.050 per dolar AS. Pada sesi perdagangan sebelumnya, yaitu Kamis (2/7/2026), mata uang rupiah terpantau ditutup melemah di posisi Rp17.995 per dolar AS.

Pelemahan yang dialami rupiah tersebut sejalan dengan kondisi mayoritas mata uang di kawasan Asia yang turut tertekan. 

Mengacu pada data RTI Infokom, yuan China mencatatkan penguatan 0,06%, yen Jepang naik 0,84%, won Korea Selatan terapresiasi 0,69%, dolar Singapura menguat 0,20%, dan baht Thailand meningkat 0,09%. Di sisi lain, dolar Hong Kong mengalami penurunan 0,01% dan dolar Taiwan terkoreksi 0,07%.

Menurut penjelasan Ibrahim, dinamika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih membayangi sentimen global. Pihak Qatar mengabarkan adanya progres yang positif dari dialog tidak langsung di Doha terkait isu keamanan di Selat Hormuz sekaligus pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.

Di waktu yang sama, para pelaku pasar terus mengamati arah kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Mengacu pada instrumen CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada kebijakan bulan September saat ini berada di angka kisaran 67%.

Melihat indikator ekonomi AS, data Perubahan Ketenagakerjaan sektor swasta dari ADP mencatatkan penambahan 98.000 tenaga kerja pada bulan Juni, angka yang berada di bawah proyeksi pasar sebesar 113.000. Sementara itu, indikator PMI manufaktur dari ISM juga mengalami penurunan dari level 54,0 menjadi 53,3. 

Perhatian para investor kini tertuju pada rilis data nonfarm payrolls AS yang diproyeksikan bertambah 110.000 pada Juni, dengan perkiraan tingkat pengangguran bertahan di angka 4,3%.

Beralih ke situasi dalam negeri, Ibrahim berpendapat bahwa tingkat kepercayaan pasar terhadap Indonesia sedang diuji oleh serangkaian sentimen negatif belakangan ini. 

Hal ini mencakup pengungkapan kasus korupsi bernilai fantastis, kekhawatiran fiskal pasca-defisit neraca perdagangan pada Mei, kenaikan inflasi, hingga penundaan rilis terkait pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global, MSCI.

Beban tambahan juga muncul dari sektor riil. Berdasarkan data S&P Global, PMI manufaktur Indonesia melorot ke posisi 46,9 pada Juni 2026. Level ini mencerminkan kontraksi terdalam dalam setahun terakhir yang dipicu oleh berkurangnya pesanan baru, sehingga mendorong penurunan output terdalam sejak April 2025.

Selain itu, lembaga Fitch Ratings memproeksikan cadangan devisa Indonesia pada tahun 2026 hanya cukup untuk mendanai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan. Posisi ini berada sedikit di bawah angka median negara-negara dengan peringkat BBB yang rata-rata mencapai 5 bulan. 

Fitch menilai merosotnya cadangan devisa ini disebabkan oleh penurunan terms of trade akibat lonjakan harga energi dunia, langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valas demi menstabilkan nilai rupiah, serta pemenuhan kewajiban utang luar negeri.

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.963 Pada akhir perdagangan Jumat (3/7/2026), mata uang rupiah justru ditutup berbalik menguat sebesar 34 poin ke posisi Rp17.963 per dolar AS. Sebaliknya, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah sebesar 0,15% menuju level 100,70.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa situasi konflik di Timur Tengah tetap menjadi salah satu sentimen utama yang menggerakkan nilai tukar rupiah.

"Investor terus memantau negosiasi antara Washington dan Teheran setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia percaya Iran telah menyetujui hampir semua yang AS butuhkan. Ini menandakan kepercayaan bahwa diskusi bergerak ke arah yang benar," kata Ibrahim, Jumat (3/7/2026).

Pada aspek lain, beredar laporan yang mengonfirmasi bahwa pihak Iran menolak usulan untuk membatalkan klaim atas wilayah Selat Hormuz, sekalipun dijanjikan pencairan dana miliaran dolar milik Iran yang saat ini dibekukan.

"Sinyal yang beragam membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang, bahkan ketika kekhawatiran akan gangguan langsung terhadap pasokan minyak mentah Teluk terus mereda," jelas dia.

Kurs Dolar AS Menguat ke Rp17.949 Memasuki pukul 13.22 WIB, pergerakan nilai tukar rupiah terpantau menguat sebesar 34 poin atau setara 0,19% menuju posisi Rp17.949 per dolar AS.

Rupiah Dibuka Menguat Pada pembukaan perdagangan pagi hari, mata uang rupiah langsung mencatatkan penguatan sebesar 0,23% atau naik 42 poin ke level Rp17.941 per dolar AS. Pada waktu yang sama, tepatnya pukul 09.03 WIB, indeks dolar AS terpantau melemah 0,03% atau merosot 0,03 poin ke posisi 100,83.

Dolar AS Melemah Efek Data Tenaga Kerja AS Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan yang cukup dalam pada hari Kamis (2/7/2026). Koreksi tajam ini terjadi setelah publikasi data ketenagakerjaan AS untuk bulan Juni menunjukkan hasil penyerapan tenaga kerja yang jauh di bawah proyeksi pelaku pasar.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mengumumkan bahwa sektor lapangan kerja di AS hanya mencatatkan penambahan sebanyak 57.000 pada Juni, berbanding terbalik dari ekspektasi para ekonom yang mematok angka penambahan sebesar 110.000 lapangan kerja. 

Namun, tingkat pengangguran tercatat mengalami penurunan menjadi 4,2% dari yang sebelumnya berada di level 4,3%.

Merespons publikasi data ekonomi tersebut, indeks dolar AS yang melacak performa greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia (termasuk yen Jepang dan euro) ditutup melemah 0,6% ke level 100,81. Sementara itu, mata uang euro terpantau menguat sebesar 0,6% ke level US$1,1438.

Terkini