Manufaktur Kontraksi, GAMMA Desak Percepatan Proyek Pemerintah

Jumat, 03 Juli 2026 | 21:59:32 WIB
Ketua Umum GAMMA Dadang Asikin. (Foto: NET)

JAKARTA — Gabungan Industri Mesin dan Logam Indonesia (GAMMA) mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan berbagai proyek nasional demi mengantisipasi penyusutan di sektor manufaktur yang berisiko memangkas tingkat keterpakaian kapasitas produksi industri. 

Berdasarkan data terbaru, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia melorot ke posisi 46,9 pada Juni 2026 dari yang sebelumnya berada di level 50,0 pada Mei 2026.

Ketua Umum GAMMA Dadang Asikin memaparkan bahwa merosotnya angka PMI manufaktur ke area kontraksi menjadi alarm atas melambatnya pergerakan industri nasional. Kondisi ini menuntut adanya langkah respons cepat lewat regulasi yang tepat sasaran.

"Perlu segera direspons melalui kebijakan yang mampu mengembalikan kepercayaan dunia usaha, meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta menjaga keberlangsungan lapangan kerja," ujar Dadang dalam keterangannya, dikutip Jumat (3/7/2026).

Menurut Dadang, industri mesin dan logam yang memegang peran vital dalam rantai pasok domestik bakal terkena imbas secara langsung jika serapan dari sektor manufaktur terus menurun. 

Padahal, bidang ini menyuplai beraneka kebutuhan industri krusial, mulai dari sektor infrastruktur, energi, pertambangan, minyak dan gas bumi, transportasi, hingga rangkaian proyek strategis nasional.

Oleh sebab itu, GAMMA berpandangan bahwa langkah akselerasi pengerjaan proyek yang didanai Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), proyek strategis nasional (PSN), program kerja BUMN, hingga dana investasi di bawah pengelolaan Danantara bisa menjadi stimulan efektif dalam mengatrol utilisasi kapasitas industri.

Pihak asosiasi meyakini percepatan eksekusi proyek tersebut bakal mendongkrak volume permintaan terhadap aneka lini produk industri lokal, seperti komoditas baja, permesinan, alat industri, fabrikasi logam, pressure vessel, boiler, struktur baja, hingga komponen manufaktur lainnya.

"Dampaknya tidak hanya meningkatkan utilisasi kapasitas industri, tetapi juga menjaga penyerapan tenaga kerja, memperkuat rantai pasok domestik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi," sebutnya.

Di samping meminta akselerasi pengerjaan proyek, Dadang mengutarakan bahwa GAMMA turut mengimbau pemerintah memperkokoh penerapan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada seluruh lini proyek milik pemerintah, BUMN, maupun investasi Danantara agar lebih memprioritaskan hasil produksi manufaktur dalam negeri.

Asosiasi juga memberikan masukan terkait percepatan realisasi belanja modal negara sebagai stimulus bagi pelaku sektor manufaktur, pengetatan pengawasan terhadap aktivitas impor yang curang, serta penyediaan insentif bagi pelaku industri yang menanamkan modal dalam aspek teknologi, peningkatan produktivitas, dan pembinaan sumber daya manusia.

Dadang menegaskan bahwa seluruh pengeluaran anggaran negara beserta investasi strategis sudah sepatutnya menghasilkan nilai tambah yang nyata bagi industri lokal, bukan sekadar berfokus pada pembangunan fisik infrastruktur semata.

"Setiap rupiah APBN, setiap proyek strategis nasional, setiap program BUMN, dan setiap investasi yang dikelola Danantara harus mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat industri dalam negeri, serta membuka kesempatan kerja yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia," katanya.

Terkini