Dipicu Sektor Transportasi, Inflasi Bulanan Juni Tembus 0,44%

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:46:32 WIB
BPS: Bensin dan Tarif Pesawat Kerek Inflasi Juni ke 0,44 Persen [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengompilasi bahwa lonjakan harga bensin, tarif maskapai penerbangan, serta produk pelumas/oli mesin bertindak sebagai stimulan primer bagi pergerakan inflasi bulanan Juni 2026 yang menyentuh level 0,44 persen (month to month/mtm).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa persentase inflasi untuk sektor pengeluaran transportasi tersebut berada di angka 2,29 persen (month to month/mtm) dengan menyumbang andil sebesar 0,28 persen pada periode Juni 2026.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok transportasi antara lain bensin, tarif angkutan udara dan pelumas/oli mesin. Bensin memberikan andil inflasi tertinggi sebesar 0,21 persen.

 Selanjutnya, tarif angkutan udara memberikan andil inflasi 0,05 persen, sedangkan pelumas/oli mesin menyumbang 0,01 persen,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Faktor pendorong laju inflasi bulanan Juni 2026 berikutnya datang dari sektor makanan, minuman, dan tembakau yang membukukan angka inflasi di level 0,20 persen (month to month/mtm) dengan sumbangsih andil sebesar 0,06 persen.

Dari klaster pengeluaran ini, sejumlah komoditas yang menorehkan andil terhadap inflasi di antaranya mencakup bawang merah dengan kontribusi 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, beras sebesar 0,02 persen, serta wortel, ikan segar, minyak goreng, cabai merah, daging sapi, dan cabai rawit yang masing-masing menyumbang andil 0,01 persen.

Di sisi yang bertolak belakang, terdapat beberapa komoditas dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang justru memberikan andil sebagai penahan laju inflasi alias mengalami penyusutan harga (deflasi).

Komoditas dimaksud, di antaranya meliputi daging ayam ras yang mencatatkan deflasi di angka 0,06 persen, telur ayam ras sebesar 0,02 persen, serta sawi hijau dan ketimun yang masing-masing mengalami deflasi sebesar 0,01 persen.

Pada periode Juni 2026, Indeks Harga Konsumen (IHK) memperlihatkan adanya eskalasi secara bulanan menjadi bertengger di posisi 111,89 dari angka sebelumnya yang berada di level 111,40 pada Mei 2026, sehingga akumulasi inflasi bertengger di posisi 0,44 persen (month to month/mtm).

Apabila ditinjau dari aspek komponennya, keseluruhan jenis komponen teridentifikasi mengalami inflasi bulanan pada Juni 2026.

Adapun porsi andil inflasi paling dominan secara berturut-turut dikontribusikan oleh komponen harga yang dikendalikan pemerintah sebesar 0,27 persen dengan tingkat inflasi menyentuh 1,41 persen, kemudian disusul oleh komponen inti dengan sumbangsih andil 0,15 persen dan tingkat inflasi di angka 0,23 persen.

Berikutnya, komponen bergejolak memberikan kontribusi andil sebesar 0,02 persen dengan tingkat inflasi yang berada pada level 0,14 persen.

Berdasarkan aspek kewilayahan, inflasi bulanan terdistribusi di seluruh provinsi, dengan indeks inflasi tertinggi melanda Provinsi Maluku Utara sebesar 2,45 persen, sementara itu angka inflasi terendah didapati di Provinsi Sumatera Utara dan Provinsi Kalimantan Tengah dengan masing-masing menorehkan angka 0,23 persen.

Sementara itu, untuk kalkulasi secara tahunan, inflasi Juni 2026 terdokumentasikan berada di level 3,34 persen (year on year/yoy) atau mengalami kenaikan bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang bertengger di angka 1,87 persen.

Berdasarkan klaster pengeluaran, pergerakan inflasi tahunan disokong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi andil inflasi sebesar 1,36 persen serta tingkat inflasi menyentuh angka 4,67 persen.

Selanjutnya, diikuti oleh klaster perawatan pribadi serta jasa lainnya dengan sumbangsih andil inflasi 0,69 persen dan tingkat inflasi bertengger di posisi 10,10 persen.

Berdasarkan breakdown komponen, secara tahunan seluruh lini komponen didapati mengalami inflasi, di mana komponen inti menyumbang andil inflasi sebesar 1,77 persen (year on year/yoy) dengan tingkat inflasi menyentuh 2,76 persen.

Lalu, disusul oleh komponen bergejolak yang menyumbang andil inflasi di angka 0,91 persen, serta komponen harga yang diatur oleh pemerintah dengan kontribusi andil inflasi sebesar 0,66 persen.

Seluruh provinsi di wilayah Indonesia tercatat mengalami inflasi tahunan, di mana tingkat inflasi paling tinggi melanda wilayah Papua Pegunungan sebesar 7,84 persen (year on year/yoy), dan tingkat inflasi paling rendah terjadi di area Sulawesi Barat dengan besaran 2,29 persen.

Terkini