Kemenhut Catat 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis Perlu Dipulihkan

Rabu, 01 Juli 2026 | 18:03:32 WIB
Kemenhut: 12,3 Juta Hektare Lahan Kritis RI Perlu Rehabilitasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Kementerian Kehutanan mendata ada kurang lebih 12,3 juta hektare lahan kritis di Indonesia yang memerlukan penguatan program rehabilitasi guna mengatasi dampak krisis degradasi lahan beserta kekeringan.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki pada kegiatan "Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan" di Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa pemulihan belasan juta hektare lahan kritis itu sangat mendesak demi memelihara kelestarian lingkungan.

"Data lahan kritis di Indonesia mencatat sejak 2024 terdapat sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis yang terdiri dari 6,6 juta hektare di dalam kawasan hutan dan 5,7 juta hektare di luar kawasan hutan," kata dia.

Rohmat memaparkan bahwa masifnya angka luasan itu menjadi peringatan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, beserta segenap pemangku kepentingan untuk memperkuat kerja sama dalam memulihkan daya dukung alam.

Tindakan pelestarian yang menjadi fokus utama di antaranya ialah maksimalisasi manajemen daerah aliran sungai (DAS), pemeliharaan persentase tutupan hutan, serta implementasi praktik pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Kemenhut secara spesifik mengimbau semua pihak untuk mendongkrak kewaspadaan penuh menghadapi fenomena iklim El Nino 2026 yang diperkirakan bakal bergulir dengan durasi waktu yang lebih cepat sekaligus lebih lama di tanah air.

Kekhawatiran itu didasarkan atas data kumulatif fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari sampai Mei 2026 yang didata telah melalap area seluas 81.000 hektare di bermacam daerah.

"Ini kalau dibandingkan dengan periode yang sama pada lima tahun sebelumnya ternyata lebih besar. Jadi ini membuktikan bahwa kami harus mewaspadai El Nino pada tahun ini," ungkapnya.

Sementara itu, data lapangan dari kementerian tersebut sejalan dengan hasil analisis iklim dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang mendeteksi adanya peluang intensitas El Nino kategori kuat menyentuh angka 62 persen dan kategori moderat sebesar 98 persen mulai pertengahan tahun ini.

Terpaan anomali iklim global itu diproyeksikan mengakibatkan akumulasi curah hujan di 482 zona musim atau mencakup 56,18 persen luas wilayah daratan Indonesia berada pada kategori bawah normal atau jauh lebih gersang dari kondisi lazimnya.

Rentang waktu musim kemarau tahun ini pun diperkirakan berlangsung lebih lama dari batas normalnya pada 437 zona musim (48,77 persen daratan), dengan puncak kekeringan yang diprediksi terjadi pada bulan Agustus nanti menerpa 369 zona musim.

Melangkah ke bulan Juli, pergerakan kemarau bakal kembali meluas ke 66 zona musim lainnya yang melingkupi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, sampai Maluku Utara.

Rohmat juga menggarisbawahi selain mengantisipasi dampak El Nino tahun ini, skema mitigasi jangka panjang turut disiapkan demi menghadapi siklus kemarau panjang empat tahunan yang diproyeksikan akan melanda Indonesia pada tahun 2027 mendatang.

Terkini