Google dan UCSD Ubah HP Pixel Bekas Jadi Server Murah

Selasa, 30 Juni 2026 | 02:36:01 WIB
Ilustrasi - Server. (Foto: NET)

JAKARTA - Para peneliti dari University of California San Diego (UCSD) berkolaborasi dengan Google guna mendayagunakan smartphone lawas yang tak terpakai sebagai alternatif server data center dengan biaya terjangkau. 

Daripada menjadi sampah elektronik, HP Pixel bekas kini dialihfungsikan menjadi elemen data center yang beroperasi dengan baik.

Pihak Google Research mengungkapkan bahwa smartphone yang sudah tidak dipakai sejatinya tetap membawa "jejak karbon" dari tahap pembuatannya. Oleh karena itu, memperlama masa pakai perangkat dianggap jauh lebih bersih bagi lingkungan daripada langsung membuangnya begitu saja.

Melalui proyek tersebut, para ahli mendapati bahwa ponsel yang berumur sekitar tiga tahun masih sanggup menorehkan performa single-core yang lebih tangguh daripada beberapa prosesor server kelas data center pada pengujian spesifik memakai SPEC benchmark. 

Para peneliti menguji perbandingan Pixel dengan prosesor server semacam Asus RS720A-E11 yang bisa dikombinasikan dengan GPU Nvidia H200 atau Nvidia RTX Pro 6000, serta sepasang prosesor AMD EPYC. 

Walaupun performa total server masih jauh di atas, temuan ini membuktikan gawai lama tetap cukup mumpuni untuk mengeksekusi beraneka beban komputasi apabila dikonsep lewat metode yang pas.

Cara kerjanya

Untuk mengonversi smartphone menjadi perangkat server, tim peneliti mengeksplorasi gawai terlebih dahulu dengan mencopot elemen yang tidak diperlukan, layaknya layar, baterai, kamera, pengeras suara, hingga bagian sasis. 

Cuma motherboard yang memuat system-on-chip (SoC) yang tetap dipakai. Sistem operasi Android lalu ditukar dengan Linux yang umum dipakai pada ekosistem server, sehingga gawai tersebut dapat mengoperasikan software orkestrasi mirip Kubernetes. 

Berdasarkan data pengujian, kisaran 25-50 smartphone bekas sanggup memproduksi daya komputasi yang sebanding dengan satu prosesor server dual-socket.

Potensi untuk kampus dan lembaga pendidikan

Pihak UCSD memaparkan bahwa kelompok yang berisi 20 smartphone bekas telah memadai untuk mengoperasikan satu aplikasi pembelajaran bagi lebih dari 75 murid sekalian, tanpa harus bergantung pada layanan cloud komersial. 

Tim ahli pun berniat mendirikan data center lokal yang mencakup sekitar 2.000 smartphone bekas, yang dinilai sanggup memfasilitasi keperluan ratusan kelas secara serentak. Metode ini dipandang kian berbobot di kala melonjaknya harga komponen layaknya chip memori dan sektor penyimpanan.

Bukan untuk perusahaan besar

Walau terlihat berpotensi, para peneliti membenarkan kalau inovasi ini agaknya kurang pas untuk korporasi teknologi raksasa semacam Google, Microsoft, atau Nvidia yang memerlukan hardware spesifik dengan tingkat reliabilitas tinggi. 

Sistem yang memanfaatkan smartphone bekas ini lebih ramah untuk area kampus, institusi pendidikan, lab riset, serta organisasi berskala kecil yang memiliki keterbatasan dana. 

Tim UCSD menargetkan sistem utuh ini dapat mulai diaplikasikan tahun ini, sembari terus memantau daya tahan elemen smartphone dalam pemanfaatan jangka panjang selaku perangkat server, seperti yang dirangkum dari Tom's Hardware.

Terkini