Cara Antisipasi Risiko Kerusakan Mesin Diesel Modern Pakai Biosolar

Selasa, 30 Juni 2026 | 02:18:31 WIB
Ilustrasi - Mesin diesel Toyot innova. (Foto: NET)

JAKARTA - Memanfaatkan biosolar untuk mobil diesel modern sering kali memicu kekhawatiran lantaran kadar air dan kotorannya dianggap lebih melimpah ketimbang solar kualitas tinggi. 

Keadaan ini membuat sejumlah pemilik kendaraan menempuh bermacam cara demi menekan risiko kerusakan pada sistem bahan bakar, yang salah satunya lewat langkah modifikasi.

Muchlis, selaku pemilik bengkel spesifikasi Toyota dan Mitsubishi Garasi Auto Service Sukoharjo, mengungkapkan bahwa modifikasi itu pada dasarnya sekadar bertujuan menekan risiko pemakaian biosolar, bukan menghilangkannya secara total.

"Modifikasi paling umum adalah penambahan filter solar tambahan yang dilengkapi water separator, modelnya sama hanya saja bodinya transparan," ucap Muchlis, belum lama ini.

Berdasarkan penuturan Muchlis, water separator memiliki fungsi untuk memilah air serta kotoran dari biosolar sebelum bahan bakar dialirkan ke sistem injeksi. Lewat cara ini, risiko kerusakan pada komponen bisa dikurangi.

Air yang mengendap pada bagian water separator pun dapat dikuras sebelum volumenya menyentuh batas maksimal, sehingga situasinya menjadi lebih gampang dipantau serta dikendalikan.

Di samping memasang water separator, sejumlah pengguna lebih memilih untuk mengganti filter solar menggunakan ukuran penyaringan yang jauh lebih halus. Filter dengan ukuran mikron yang lebih kecil mempunyai kemampuan menyaring partikel lembut yang berpotensi merusak injektor maupun pompa bahan bakar bertekanan tinggi.

Meski demikian, pemakaian filter yang terlampau rapat juga wajib dipertimbangkan secara matang. Sebab, aliran bahan bakar bisa terganggu sehingga pasokan ke area mesin menjadi berkurang, utamanya saat kendaraan sedang melaju dalam beban yang tinggi.

Demi mengantisipasi situasi tersebut, sebagian pemilik kendaraan memasang pre-fuel pump atau pompa bahan bakar cadangan. Komponen yang satu ini berguna untuk menjaga kestabilan tekanan bahan bakar walaupun sistem filtrasi menjadi semakin rumit.

Muchlis pun menganjurkan para pemilik kendaraan untuk menguras tangki bahan bakar secara total. Pasalnya, biosolar memiliki kecenderungan melarutkan endapan yang selama ini mengendap di dalam tangki, sehingga berisiko ikut terbawa ke dalam sistem bahan bakar.

"Beberapa juga menggunakan fuel additive sebagai pendukung. Zat ini membantu mengurangi kandungan air, mencegah pertumbuhan bakteri, dan meningkatkan kualitas pembakaran biosolar," ucap Muchlis.

Bukan hanya itu, ada pula pengguna yang menempuh langkah remap ECU demi menyelaraskan karakter pembakaran mesin terhadap biosolar. Akan tetapi, tindakan ini tidak bersifat wajib dan sangat disarankan hanya dikerjakan oleh tenaga ahli profesional karena memicu risiko jika penyetelannya tidak akurat.

Di sisi lain, Muchlis tidak menganjurkan modifikasi ekstrem seperti mengganti komponen injektor atau merombak rasio kompresi pada mesin. Selain memerlukan anggaran yang besar, perubahan itu dinilai tidak menyumbang manfaat yang berarti bagi penggunaan biosolar.

"Ganti filter solar lebih sering jadi tiap 5.000 kilometer, tangki jangan sering kosong, sesekali isi Pertamina Dex, pembersihan injektor berkala tiap 20.000 kilometer," ucap Muchlis.

Oleh karena itu, pemanfaatan biosolar bagi mobil diesel modern sebetulnya tetap bisa dilakukan asalkan diimbangi oleh modifikasi yang pas sekaligus perawatan yang rutin. 

Keberadaan filter cadangan, kebersihan area tangki, serta ketepatan waktu dalam melakukan servis menjadi elemen krusial demi mempertahankan performa sekaligus memperpanjang umur komponen sistem bahan bakar.

Terkini