JAKARTA — Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Swiss telah menginjak usia ke-75 pada tahun 2026. Momentum bersejarah ini ditandai dengan peningkatan kerja sama yang lebih serius melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam kegiatan Industry Day di Basel, Swiss, pada 23 Juni 2026.
Salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen kedua negara untuk mempererat kerja sama di sektor hilirisasi.
Untuk mendalami arah kerja sama tersebut, Kompas.com bersama tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya, di KBRI Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Bagi Ngurah Swajaya, kesepakatan MoU ini bukan sekadar perayaan formalitas atas hubungan bilateral yang terjalin sejak 1951, melainkan sebuah titik balik untuk mengangkat kemitraan kedua negara ke tingkatan yang lebih strategis. Guna menandai pentingnya momen ini, KBRI meluncurkan tagar khusus yaitu #RICH_75indonesiaswiss.
Saling Melengkapi
Ngurah menjelaskan bahwa selama 7,5 dekade terakhir, Indonesia dan Swiss telah membangun fondasi kemitraan yang kokoh lewat berbagai kesepakatan, mencakup sektor perdagangan, investasi, hingga bantuan hukum timbal balik.
Fondasi ini menjadi modal krusial di saat dunia sedang menghadapi ketidakpastian akibat eskalasi persaingan dan konflik geopolitik.
Di tengah situasi global tersebut, Indonesia dan Swiss dinilai memiliki karakteristik yang saling melengkapi. Indonesia unggul dalam kekayaan sumber daya alam, pasar yang luas, serta bonus demografi, sementara Swiss memiliki kelebihan di bidang teknologi, inovasi, investasi, dan jaringan perdagangan global.
Oleh karena itu, hubungan kedua negara tidak ditempatkan sebagai persaingan, melainkan sebagai upaya saling memenuhi kebutuhan.
Momentum 75 tahun ini juga diwarnai dengan lahirnya kerja sama baru di bidang pengolahan mineral dan logam yang dipandang membuka babak baru bagi kemitraan ekonomi kedua negara. Menurut Ngurah, kerja sama ini membuktikan bahwa Indonesia dan Swiss mampu menangkap peluang di tengah tantangan global.
Berikut adalah petikan wawancara Kompas.com bersama tim KG Media dengan Duta Besar RI untuk Swiss, Ngurah Swajaya, di Bern, Swiss, dalam format tanya-jawab.
Apa makna 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss?
Tahun ini kami memang merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Switzerland. Hubungan diplomatik dimulai pada 1951, sehingga ini merupakan perjalanan yang cukup panjang.
Selama kurun waktu tersebut, hubungan bilateral berjalan stabil dan kedua negara memiliki hubungan yang sangat baik. Namun, peringatan 75 tahun ini tidak ingin kami jadikan sekadar seremoni. Kami ingin menjadikannya momentum untuk mengoptimalkan seluruh potensi kerja sama yang masih bisa dikembangkan.
Dalam perjalanan itu, kedua negara telah menandatangani sejumlah perjanjian yang menjadi fondasi hubungan bilateral. Yang pertama adalah perjanjian perdagangan melalui Indonesia-European Free Trade Association Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA).
Swiss merupakan bagian dari European Free Trade Association (EFTA), dan perjanjian tersebut memberikan kepastian hukum untuk meningkatkan perdagangan maupun investasi.
Selain itu, Indonesia dan Swiss juga telah memiliki Bilateral Investment Treaty (BIT) yang menjadi dasar perlindungan investasi kedua negara.
Di luar bidang ekonomi, kedua negara juga memiliki Mutual Legal Assistance in Criminal Matters, sehingga terdapat mekanisme kerja sama apabila diperlukan bantuan hukum dalam perkara pidana.
Kami juga mempunyai Young Professionals Exchange Programme, yaitu program yang memungkinkan profesional muda Indonesia bekerja di Swiss dan profesional muda Swiss bekerja di Indonesia selama 18 bulan.
Tujuannya memberikan pengalaman mengenai dunia usaha dan perekonomian masing-masing negara. Kuotanya mencapai 100 orang setiap tahun, meskipun hingga kini belum seluruhnya dimanfaatkan. Sebagian besar pesertanya berasal dari sektor jasa, terutama perhotelan.
Mengapa 75 tahun ini disebut sebagai momentum?
Karena kondisi dunia sekarang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Ketegangan dan konflik geopolitik memang menjadi tantangan, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang baru bagi Indonesia maupun Swiss. Saya melihat ada tiga momentum besar yang bisa dimanfaatkan.
Pertama adalah kerja sama pengolahan sumber daya mineral dan logam yang ditandatangani dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik.
Kerja sama ini menurut saya bersifat saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya mineral yang besar, sementara Swiss memiliki teknologi, inovasi, investasi, jaringan global commodity trading, dan sumber daya manusia yang dapat mendukung hilirisasi industri di Indonesia.
Dengan demikian, Indonesia memperoleh nilai tambah dari pengolahan sumber daya alam, sedangkan Swiss dapat berkontribusi melalui teknologi dan investasi.
Apa yang membuat kerja sama mineral dan logam ini istimewa?
Kerja sama tersebut merupakan langkah yang sangat penting. Bagi Indonesia, kerja sama ini memberikan alternatif sumber teknologi untuk mendukung program hilirisasi nasional.
Artinya, Indonesia tidak hanya bergantung pada satu sumber teknologi dari satu negara, tetapi memiliki lebih banyak pilihan mitra. Teknologi Swiss selama ini identik dengan inovasi, efisiensi, serta upaya mengurangi emisi karbon.
Selain itu, teknologi mereka selalu diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah terhadap suatu produk. Karena itu, kami melihat kerja sama ini sebagai peluang yang sangat besar dan harus dimanfaatkan secara optimal.
Selain hilirisasi, apa momentum kedua yang Bapak maksud?
Momentum kedua berkaitan dengan posisi kedua negara dalam geopolitik dunia. Swiss memiliki prinsip politik luar negeri yang netral, sedangkan Indonesia menganut politik luar negeri bebas aktif.
Posisi tersebut membuat kedua negara sama-sama tidak memiliki hambatan untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak yang saat ini berada dalam kubu-kubu yang saling berkompetisi.
Indonesia memiliki keunggulan karena mampu bekerja sama dengan berbagai negara tanpa harus terjebak dalam blok tertentu. Di sisi lain, Swiss memiliki reputasi sebagai negara netral dengan penguasaan teknologi yang sangat maju. Kombinasi tersebut menurut saya menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama kedua negara.
Apa momentum ketiga yang melihat peluang baru hubungan Indonesia-Swiss?
Selama ini hubungan bilateral memang berjalan sangat baik, tetapi saya melihat Indonesia dan Swiss belum sepenuhnya menempatkan satu sama lain dalam global mindset masing-masing.
Indonesia belum benar-benar melihat Swiss sebagai mitra strategis dalam banyak sektor. Sebaliknya, Swiss juga belum sepenuhnya memandang Indonesia sebagai salah satu prioritas utama.
Padahal situasi geopolitik saat ini membuat banyak negara Eropa, termasuk Swiss, mulai melakukan diversifikasi mitra. Mereka tidak lagi hanya bergantung pada mitra tradisional, tetapi mulai melihat Asia sebagai kawasan yang sangat penting. Dalam konteks itu, Indonesia memiliki posisi yang sangat menarik.
Apa yang membuat Indonesia menarik bagi Swiss?
Indonesia adalah bagian dari pasar ASEAN yang jumlah penduduknya sekitar 700 jiwa. Selain itu, Indonesia berada di kawasan yang relatif stabil dari sisi keamanan maupun politik dibandingkan beberapa kawasan lain di dunia.
Indonesia juga memiliki bonus demografi. Penduduk usia mudanya besar dan siap dilatih untuk memenuhi kebutuhan industri masa depan.
Saya melihat ketiga faktor tersebut menjadi daya tarik yang mulai dipahami oleh Swiss. Salah satu contohnya terlihat ketika Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diundang dalam Swissmem Industry Day, sebuah agenda tahunan yang dihadiri sekitar 2.000 pelaku industri Swiss.
Sepanjang penyelenggahannya, belum pernah ada negara ASEAN lain yang memperoleh undangan seperti Indonesia. Menurut saya, itu menunjukkan perhatian Swiss terhadap Indonesia semakin besar.
Lalu apa yang dimiliki Swiss sehingga penting bagi Indonesia?
Swiss selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia. Mereka juga merupakan sumber investasi yang sangat besar bagi berbagai negara. Keunggulan Swiss bukan hanya pada teknologi, tetapi juga kemampuan melakukan inovasi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, ukuran negaranya relatif kecil sehingga ketika perusahaan-perusahaan Swiss ingin meningkatkan skala produksi, mereka membutuhkan mitra di luar negeri. Indonesia dapat menjadi salah satu tujuan karena memiliki pasar, tenaga kerja, dan sumber daya yang dibutuhkan.
Kalau investasi Swiss masuk ke Indonesia, maka bukan hanya modal yang datang, tetapi juga peluang alih teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia.
Karena itulah saya selalu menekankan bahwa Indonesia dan Swiss memiliki hubungan yang saling melengkapi. Kami tidak bersaing dengan Swiss. Justru masing-masing memiliki keunggulan yang bisa dipadukan untuk menciptakan nilai tambah bagi kedua negara.
Melalui rangkaian kegiatan sepanjang peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, kami berharap pemahaman masyarakat Swiss terhadap Indonesia semakin baik, demikian pula pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Swiss.
Di tengah tantangan geopolitik yang dihadapi dunia saat ini, saya melihat hubungan Indonesia dan Swiss justru memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang menjadi kemitraan ekonomi yang lebih strategis pada masa mendatang.