MAPI Andalkan Libur Sekolah Dongkrak Kinerja Kuartal II/2026

Senin, 29 Juni 2026 | 23:10:32 WIB
PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI). (Foto: NET)

JAKARTA — Emiten ritel dari Grup MAP, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), memproyeksikan bahwa momen liburan sekolah pada Juni 2026 bakal menjadi salah satu pemacu utama performa keuangan perusahaan pada kuartal II/2026. 

Masa liburan ini dipandang sebagai pendorong musiman yang efektif untuk menjaga tren pertumbuhan penjualan, terlebih karena waktunya berdekatan dengan masa belanja menyambut tahun ajaran baru pada kuartal III/2026.

Menurut penjelasan VP Investor Relations, Corporate Communications, and Sustainability MAP Group, Ratih Darmawan Gianda, tren penjualan pada bulan April biasanya memperlihatkan penurunan pasca-berakhirnya momentum Lebaran. 

Kendati demikian, situasi tersebut mulai bergerak positif pada bulan Mei dan Juni, yang didorong oleh naiknya pergerakan masyarakat serta aktivitas belanja keluarga.

Ratih menambahkan bahwa berdasarkan data historis, besaran kontribusi performa pada kuartal II/2026 hampir berimbang dengan kuartal III/2026. 

Apabila kuartal ketiga disokong oleh momen kembali ke sekolah pada bulan Juli, maka capaian kuartal II/2026 ditopang oleh gairah belanja selama Mei dan Juni, termasuk di dalamnya masa liburan sekolah.

"Kami perkiraan pada Juni mulai mengalami peningkatan aktivitas. Secara kontribusi kuartalan, kuartal II hampir mirip dengan kuartal III karena ada faktor musiman [libur sekolah] yang cukup kuat," paparnya dalam agenda public expose yang dikutip pada Senin (29/6/2026).

Pihak MAP menilai bahwa ketahanan performa bisnis mereka ditunjang oleh profil konsumen utamanya yang berasal dari kelas menengah hingga atas. Kelompok pelanggan ini dianggap memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi gejolak ekonomi jika dibandingkan dengan segmen konsumen lainnya.

Walau begitu, manajemen emiten ini tetap menyadari bahwa situasi ketidakpastian global maupun domestik merupakan hal yang harus terus diwaspadai. Isu-isu mulai dari konstelasi geopolitik hingga dinamika ekonomi domestik berisiko memberikan pengaruh pada pola konsumsi masyarakat.

"Konsumen yang kami sasar memang lebih resilien. Namun bukan berarti mereka sepenuhnya kebal terhadap berbagai tekanan ekonomi. Karena itu kami tetap berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis," ungkap manajemen.

Pendekatan taktis inilah yang mendasari rasa optimisme MAP untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis di sepanjang tahun 2026, sekalipun kondisi lingkungan usaha masih diselimuti ketidakpastian.

Ekpansi Ritel Tetap Berjalan Secara Lebih Selektif

Wakil Presiden Direktur MAPI, V.P. Sharma, menyampaikan bahwa di tengah situasi makroekonomi yang belum pulih total, perusahaan memilih untuk menerapkan langkah ekspansi yang terukur. 

Emiten ini membidik pembukaan sekitar 550 hingga 600 gerai baru secara bruto di sepanjang tahun ini, dengan mengucurkan dana belanja modal (capex) berkisar Rp2 triliun. Hingga triwulan I/2026, MAP telah merealisasikan pengoperasian sebanyak 200 toko baru.

Sharma menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan mengindikasikan perusahaan sedang mengerem ekspansi secara drastis, melainkan sebuah bentuk adaptasi terhadap peluang yang tersedia di pasar. 

MAP berkomitmen untuk selalu melangsungkan studi kelayakan secara komprehensif sebelum meresmikan jaringan toko baru, termasuk melakukan kalkulasi terhadap aspek demografi, pemilihan lokasi, serta prospek pasar dalam jangka panjang.

"Kami tidak ingin membuka lalu menutup toko. Karena itu setiap ekspansi selalu dilakukan dengan sangat hati-hati dan berbasis studi yang matang," jelas manajemen.

Meski berhasil membukukan pertumbuhan laba yang signifikan pada triwulan pertama, MAP tetap memilih untuk memasang target pertumbuhan yang konservatif, yakni pada kisaran high single digit sepanjang tahun 2026.

Merujuk pada laporan keuangan per Maret 2026, MAPI sukses mengantongi pendapatan bersih senilai Rp12,29 triliun, atau melejit sebesar 32,03% dari perolehan periode sebelumnya yang sebesar Rp9,31 triliun. 

Selaras dengan performa tersebut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk bertengger di angka Rp628,03 miIiar, melesat 32,98% dari capaian sebelumnya sebesar Rp472,26 miIiar.

Perusahaan berpendapat bahwa tingginya capaian pada kuartal I/2026 ini juga dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan pada tahun lalu (low base effect). 

Di samping itu, hadirnya produk-produk gres seperti iPhone 16, meningkatnya andil dari sektor digital, serta membaiknya kinerja pada lini bisnis makanan dan minuman menjadi faktor penggerak utama pertumbuhan tersebut.

Terkini