Kinerja APBN Mei 2026: Defisit 0,7 Persen, Fiskal RI Aman

Senin, 29 Juni 2026 | 22:15:31 WIB
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung. (Foto: NET)

JAKARTA - Kondisi keuangan negara atau fiskal Indonesia sampai detik ini dipastikan tetap berada dalam posisi yang aman dan terkendali oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung.

"Tadi dibahas bahwa kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik," ujar Juda Agung saat melakukan konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Situasi yang positif tersebut ditunjukkan oleh beberapa indikator pada performa APBN hingga periode Mei 2026. Menurut penjelasan Juda, defisit anggaran sampai dengan bulan Mei yang lalu berada di angka 0,7 persen. 

Hingga penghujung tahun nanti, angka defisit ini diproyeksikan bakal tetap berada di bawah batasan 3 persen, sehingga posisinya dinilai masih sangat aman. 

Selain itu, sektor perpajakan juga mengalami pertumbuhan yang positif sebesar 19,1 persen, diikuti oleh realisasi belanja negara yang sudah melampaui angka 30 persen.

Merujuk pada data resmi laporan APBN Kinerja dan Fakta (KiTa) untuk Edisi Juni 2026, kas negara mencatatkan defisit senilai Rp180,4 triliun atau setara 0,70 persen dari produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026. 

Secara akumulatif, negara berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar Rp1.185 triliun, yang berarti sudah memenuhi 37,6 persen dari total target APBN yang dipatok sebesar Rp3.153,6 triliun. Capaian pendapatan ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 19,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pada sektor penerimaan perpajakan, realisasi yang berhasil dikumpulkan menyentuh Rp958,2 triliun dengan sokongan utama dari sektor pajak. Setoran pajak sendiri berhasil terserap hingga Rp834,4 triliun atau mencetak pertumbuhan positif di angka 22,1 persen (yoy). 

Di sisi lain, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mengalami pertumbuhan yang lebih landai sebesar 0,7 persen (yoy) dengan perolehan Rp123,8 triliun. Sementara itu, untuk pos penerimaan negara bukan pajak (PNBP), total dana yang berhasil dihimpun adalah Rp226,4 triliun atau naik 19,9 persen (yoy).

Beralih ke pos pengeluaran, realisasi belanja negara sampai dengan Mei 2026 sudah menyentuh Rp1.365,4 triliun. Angka ini setara dengan 35,5 persen dari target pagu APBN yang sebesar Rp3.842,7 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar 34,4 persen (yoy). 

Lonjakan yang cukup tinggi ditemukan pada realisasi belanja pemerintah pusat yang melesat hingga 52,6 persen (yoy) atau setara dengan Rp1.059,3 triliun.

Untuk realisasi anggaran belanja pada kementerian/lembaga (K/L), jumlah yang sudah disalurkan mencapai Rp517,7 triliun, menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan sebesar 58,9 persen (yoy). Di sisi lain, belanja non-K/L tercatat sudah digelontorkan sebesar Rp541,6 triliun atau tumbuh 47 persen (yoy). 

Sementara itu, untuk penyaluran dana transfer ke daerah justru masih mengalami penurunan sebesar 4,9 persen (yoy) dengan total realisasi sebesar Rp306,1 triliun.

Melalui seluruh capaian performa tersebut, posisi keseimbangan primer berhasil mencatatkan surplus hingga Rp58,6 triliun. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa kapasitas fiskal Indonesia saat ini masih sangat mumpuni dalam mengelola seluruh aspek pendapatan, belanja, serta pembiayaan utang negara.

Terkini