Juli 2026: Puncak Hujan Meteor dan Indahnya Bima Sakti

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:12:31 WIB
Ilustrasi - Fenomena Astronomi. (Foto: NET)

JAKARTA – Bulan Juli 2026 menyajikan serangkaian pemandangan kosmik yang luar biasa. Mulai dari konjungsi planet dengan bulan, puncak dua hujan meteor sekaligus, hingga momen terbaik untuk mengamati inti galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang. 

Berikut panduan lengkap objek langit yang dapat diamati sepanjang Juli 2026, sebagaimana dikutip dari National Geographic.

Pada 7-8 Juli, bulan kuartal ketiga dan Saturnus akan tampak berdekatan di atas cakrawala timur setelah tengah malam. Keduanya akan bergerak beriringan hingga fajar, dengan tambahan kehadiran Mars serta gugus bintang Pleiades sesaat sebelum matahari terbit.

Selanjutnya, pada 11 Juli pagi, bulan sabit tipis akan membentuk formasi segitiga dengan Pleiades dan Mars. Ketiganya bisa ditemukan dua jam sebelum matahari terbit tepat di atas cakrawala timur. Penggunaan teropong sangat disarankan untuk melihat detail gugus Pleiades yang lebih kaya daripada sekadar pandangan mata telanjang.

Tanggal 14 Juli menjadi waktu terbaik untuk berburu Bima Sakti. Pada malam bulan baru ini, langit akan jauh lebih gelap sehingga objek jauh seperti Gugus Herkules Agung dan Nebula Cincin tampak lebih jelas. 

Inti galaksi Bima Sakti pun dapat disaksikan tanpa alat bantu, dengan catatan pengamat harus beradaptasi dengan kegelapan selama 30 menit dan menjauhi polusi cahaya kota.

Pada 17 Juli, bulan sabit akan berada sekitar lima derajat dari planet Venus di langit barat saat senja. Pasangan ini akan terlihat memukau selama kurang lebih dua jam setelah matahari terbenam.

Memasuki 28-29 Juli, akan terjadi fenomena bulan purnama yang dikenal sebagai "Buck Moon". Puncak purnama terjadi pada 29 Juli pukul 10.30 ET. Saat terbit atau terbenam, bulan akan tampak lebih besar dari biasanya akibat ilusi optik.

Puncak aktivitas meteor terjadi pada 30-31 Juli, yakni hujan meteor Southern Delta Aquariid dan Alpha Capricornids. Southern Delta Aquariid dapat menghasilkan hingga 20 meteor per jam, sementara Alpha Capricornids dikenal dengan bola api terangnya. Meskipun sempat terganggu cahaya bulan purnama, kedua fenomena ini tetap layak dinantikan.

Sepanjang bulan Juli, Komet 10P juga akan semakin terang. Pada paruh kedua bulan, komet ini sudah cukup cerah untuk diamati menggunakan teropong binokuler sebelum mencapai kecemerlangan maksimumnya pada awal Agustus mendatang.

Terkini