7 Faktor Pemicu Perselingkuhan Menurut Pandangan Psikologis

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:09:01 WIB
Ilustrasi - Tindakan perselingkuhan. (Foto: NET)

JAKARTA – Tindakan perselingkuhan merupakan bentuk pelanggaran komitmen yang dapat merusak stabilitas suatu hubungan. Walaupun sering kali dinilai sebatas akibat dari hilangnya rasa cinta atau ketidaksetiaan, para ahli psikologi memandang bahwa alasan di balik keputusan seseorang untuk berselingkuh sebenarnya jauh lebih rumit.

Berdasarkan studi tahun 2017 yang dimuat dalam The Journal of Sex Research terhadap 495 individu yang pernah berselingkuh, ditemukan bahwa pemicu tindakan tersebut sangatlah variatif. 

Tim peneliti mengelompokkan delapan dorongan utama, yang meliputi rasa amarah pada pasangan, pudarnya rasa cinta, lemahnya komitmen, hingga adanya hasrat untuk berburu pengalaman baru.

Berikut adalah sejumlah faktor yang paling sering memicu seseorang melakukan perselingkuhan ditinjau dari perspektif psikologi:

1. Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi

Salah satu aspek yang paling jamak diulas dalam studi psikologi adalah tidak terpenuhinya kebutuhan emosional. Menurut psikolog Lucia F. O'Sullivan, Ph.D., yang dikutip dari Psychology Today, seseorang dapat terdorong berselingkuh ketika merasa kebutuhan emosionalnya tidak lagi terpenuhi dalam hubungan. 

Perasaan kurang diperhatikan, tidak dihargai, atau kehilangan kedekatan dengan pasangan dapat membuat sebagian orang mencari koneksi emosional dengan orang lain. 

Namun, ia menekankan bahwa kondisi ini bukan berarti perselingkuhan menjadi konsekuensi yang pasti terjadi. Banyak pasangan justru memilih memperbaiki komunikasi atau mencari bantuan profesional ketika menghadapi masalah dalam hubungan.

2. Melemahnya Komitmen terhadap Hubungan

Fondasi utama dalam mempertahankan hubungan jangka panjang adalah komitmen. Saat ikatan komitmen ini mulai mengendur, seseorang bakal cenderung lebih terbuka untuk membangun hubungan dengan pihak lain. 

Melalui data riset The Journal of Sex Research, rendahnya komitmen menjadi salah satu alasan yang paling banyak dilontarkan oleh para responden. Komitmen sendiri tidak sekadar bertahan bersama pasangan, melainkan juga mencakup kesediaan dalam memelihara kepercayaan serta menentukan batasan yang jelas dan sehat dengan orang luar.

3. Keinginan Mengincar Pengalaman Baru

Siklus rutinitas hubungan yang berjalan hingga bertahun-tahun adakalanya memicu kejenuhan, sehingga sebagian individu mendambakan sensasi yang baru. 

Menanggapi fenomena ini, psikolog hubungan dan seksualitas dari University of New Brunswick, Lucia F. O'Sullivan, menjelaskan bahwa sebagian individu memiliki kecenderungan mencari pengalaman baru (novelty seeking). Walau begitu, perselingkuhan bukan hal yang patut dibenarkan.

4. Kebutuhan Memperoleh Validasi

Sisi psikologis lain yang mendorong terjadinya perselingkuhan adalah kuatnya hasrat untuk merasa dihargai atau diinginkan kembali. 

Atensi dari orang lain dinilai mampu mendongkrak rasa percaya diri sekaligus membuat seseorang merasa dirinya lebih atraktif. Senada dengan hal tersebut, studi dari University of Maryland memaparkan bahwa sejumlah responden berdalih berselingkuh demi menaikkan harga diri (self-esteem) serta menjaring validasi dari orang lain.

5. Imbas Kesempatan dan Kondisi Sekitar

Faktor situasional juga memegang peranan dalam terjadinya perselingkuhan. Contohnya, saat seseorang memiliki kedekatan interaksi yang intens dengan rekan kerja, kerap melakukan perjalanan luar kota tanpa pasangan, atau berada di lingkungan yang melonggarkan batasan komitmen. 

Para psikolog berpendapat bahwa peluang atau kesempatan bukanlah pemicu utamanya. Seksama dengan itu, jika kesempatan tersebut berpadu dengan komitmen yang sudah rapuh serta kontrol diri yang rendah, maka potensi perselingkuhan akan melonjak tajam.

6. Konflik Berlarut-larut yang Belum Selesai

Hubungan asmara yang terus-menerus didera konflik berkepanjangan dapat mempertinggi celah perselingkuhan. Perasaan kecewa, amarah, maupun sakit hati yang dipendam sekian lama adakalanya memicu seseorang mencari pelarian ke luar. 

Dalam riset The Journal of Sex Research, kekesalan terhadap pasangan tercatat sebagai salah satu motivasi utama para responden. Kendati demikian, para pakar mewanti-wanti bahwa perselingkuhan bukanlah jalan keluar yang sehat dalam menuntaskan problem. Diskusi yang transparan serta pencarian solusi bersama tetap menjadi opsi yang jauh lebih konstruktif.

7. Pudarnya Rasa Cinta

Menurunnya kadar cinta terhadap pasangan hidup juga menjadi faktor krusial yang jamak dijumpai pada berbagai riset. Disadur dari Psychology Today, psikolog Theresa E. DiDonato, Ph.D., menyebut bahwa kurangnya perhatian dari pasangan menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong perselingkuhan. 

Dalam penelitian yang ia bahas, sekitar 70 persen partisipan menyatakan bahwa perasaan diabaikan berperan, setidaknya dalam tingkat tertentu, terhadap keputusan mereka untuk berselingkuh. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki yang mengaku memiliki motif tersebut.

Kesimpulan: Perselingkuhan Bukan Tindakan yang Benar

Pada dasarnya, menguliti berbagai faktor pemicu perselingkuhan ini bertujuan untuk memetakan rumitnya pola perilaku manusia, bukan sebagai alat untuk melegitimasi tindakan tersebut. 

Ketika sebuah hubungan didera badai masalah, dialog yang jujur, keteguhan komitmen, serta ikhtiar mencari jalan keluar bersama tetap merupakan opsi yang jauh lebih sehat ketimbang mencari pelarian lewat orang lain. Lewat cara inilah, rasa saling percaya yang menjadi pilar utama sebuah hubungan dapat senantiasa dirawat.

Terkini