BRIN & ITB: EV Indonesia Tak Cukup Modal Nikel, Butuh SDM

Kamis, 25 Juni 2026 | 21:46:02 WIB
Ilustrasi - Pemeriksaan panel kontrol yang ada di fasilitas pengolahan nikel berbasis teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) di Sulawesi Tengah. (Foto: NET)

JAKARTA - Indonesia dinilai mempunyai prospek besar guna memegang peran krusial pada sektor kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dunia. Kendati demikian, modal berupa kelimpahan sumber daya mineral seperti nikel selaku komponen utama baterai dianggap belum memadai untuk merealisasikan potensi tersebut.

Kepala Pusat Riset Ekonomi Industri, Jasa, dan Perdagangan (PREIJP) BRIN, Umi Mu'awanah, memaparkan bahwa pembenahan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan ekosistem industri merupakan elemen vital demi mendongkrak daya saing nasional di bidang industri EV.

Menurutnya, laju evolusi teknologi otomotif yang amat cepat menuntut ketersediaan tenaga kerja yang dibekali keahlian relevan dengan keperluan sektor industri.

“Kami tidak bisa hanya mengandalkan potensi alam. Kesiapan SDM adalah prasyarat mutlak untuk menggarap peluang hilirisasi EV," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).

"Ini mencakup peningkatan kualitas kompetensi teknis, kemampuan inovasi yang adaptif, hingga penguatan kapasitas kelembagaan agar mampu merespons dinamika pasar dan teknologi global,” ujar Umi.

Umi menguraikan bahwa BRIN hingga kini terus menggulirkan bermacam studi terkait akselerasi ekosistem kendaraan listrik di dalam negeri. 

Ia memandang sinergi antara otoritas pemerintahan, pelaku industri, akademisi, serta lembaga riset menjadi aspek kunci demi melahirkan regulasi yang sanggup mengokohkan daya saing industri domestik sekalian menyokohkan target peralihan energi.

Pandangan senada turut diutarakan oleh ahli otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Bentang Arief Budiman. Ia berpendapat bahwa peralihan ke ranah kendaraan listrik bukan sekadar urusan menekan emisi karbon, melainkan turut mengemas potensi ekonomi yang masif bagi Indonesia.

Sektor kendaraan listrik dipercaya mampu memicu dampak berganda bagi roda perekonomian lewat ekspansi sektor manufaktur, industri komponen pendukung, lini jasa transisi, sampai penyerapan tenaga kerja.

“Negara-negara maju telah lama membuktikan bahwa industri otomotif yang kuat adalah tulang punggung ekonomi nasional," kata dia.

"Indonesia memiliki modalitas besar, yakni pasar domestik yang luas dan posisi sebagai pemain hulu nikel yang dominan. Tantangannya kini adalah bagaimana mentransformasikan posisi tersebut dari sekadar penyedia bahan mentah menjadi pusat produksi komponen bernilai tambah tinggi,” jelas Bentang.

Ia mengimbuhkan, kecenderungan regulasi emisi yang kian ketat di ranah internasional membuat eksistensi teknologi mesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) secara bertahap mulai terpinggirkan. 

Oleh sebab itu, kendaraan listrik dipandang menjadi alternatif yang jauh lebih hemat energi serta menyuguhkan efisiensi biaya operasional maupun pemeliharaan yang lebih rendah.

Di lain sisi, dinamika transisi ini pun bakal memicu pergeseran kebutuhan tenaga kerja di sektor otomotif. Pada masa depan, industri kendaraan listrik bakal semakin memerlukan para pakar di bidang elektronika, sistem kendali, teknologi baterai, hingga perancangan perangkat lunak kendaraan.

Bentang mengingatkan agar Indonesia tidak sekadar terjebak menjadi lokasi perakitan semata. Arah pengembangan industri kendaraan listrik sepatutnya difokuskan pada penguasaan seluruh mata rantai pasok secara total, mulai dari pemrosesan mineral, pembuatan material baterai, perakitan sel baterai, manufaktur unit kendaraan, hingga tata kelola daur ulang baterai.

“Pengembangan kendaraan listrik adalah proyek jangka panjang yang kompleks. Ini bukan sekadar tentang memproduksi kendaraan, melainkan membangun sebuah ekosistem industri yang tangguh, SDM yang cerdas, dan infrastruktur yang mendukung daya saing Indonesia di kancah global,” pungkas Bentang.

Terkini