JAKARTA - PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) konsisten memperlebar cakupan layanan dengan menyasar segmen premium lewat Prodia Women’s Health Centre serta Premium Service Prodia Health Care. Inisiatif tersebut dianggap mampu memacu peningkatan kinerja perseroan di masa mendatang.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, memandang strategi tersebut sangat relevan karena menargetkan kalangan menengah atas yang cenderung lebih resilien terhadap tekanan daya beli.
“Segmen ini cenderung lebih bersedia membayar untuk layanan spesialis. Ini juga menjadi diferensiasi yang tidak mudah ditiru oleh pemain di segmen massal,” ujar Wafi, Selasa (23/6/2026).
Terkait aspek pendapatan, ekspansi layanan premium dinilai berpotensi meningkatkan nilai transaksi per pelanggan secara substansial.
“Layanan premium dapat mendorong pendapatan per pemeriksaan naik hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan tes reguler,” jelasnya.
Di samping itu, kenaikan nilai transaksi tersebut berpeluang memperbaiki margin seiring efisiensi biaya tetap laboratorium yang tersebar pada volume dengan nilai lebih besar.
Kendati demikian, Wafi menyoroti adanya risiko dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, mengingat mayoritas bahan baku dan alat medis masih bersifat impor.
“Tekanan margin jangka pendek sulit dihindari jika rupiah berada di kisaran Rp17.800. Untuk mitigasi, perusahaan dapat melakukan penyesuaian tarif secara selektif, terutama di segmen premium yang lebih toleran terhadap kenaikan harga,” paparnya.
Perihal performa keuangan, Wafi mengestimasikan pendapatan PRDA akan tumbuh pada kisaran mid-single digit secara tahunan, yang disokong oleh perluasan layanan premium. Namun, laba bersih berisiko tertekan jika biaya impor membengkak dan nilai tukar rupiah belum stabil.
“Dalam kondisi seperti ini, menjaga margin tetap stabil sudah menjadi pencapaian yang cukup baik,” tutupnya.