JAKARTA - Pemerintah terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi komoditas lokal. Kali ini, Pemerintah Kota Banda Aceh mengambil langkah strategis untuk mengembangkan industri parfum yang dinilai berpotensi besar dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta menjangkau pasar ekspor.
Demi mengakselerasi rencana tersebut, Banda Aceh menjalin kemitraan dengan Kota Grasse di Prancis, yang telah lama dikenal sebagai pusat industri parfum dunia.
Langkah ini diresmikan melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara kedua pemerintah kota pada 17 Juni 2026. Kerja sama ini menjadi bagian dari strategi untuk mengukuhkan posisi Banda Aceh sebagai Kota Parfum Indonesia sekaligus mengoptimalkan bahan baku unggulan daerah.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini tidak sekadar bertujuan pada sektor parfum, melainkan langkah nyata membangun pilar ekonomi baru berbasis potensi daerah.
“Banda Aceh dan Grasse dipertemukan oleh parfum. Namun lebih dari itu, hari ini kami membangun jembatan kolaborasi antara dua kota yang memiliki semangat yang sama, yaitu mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Illiza dikutip dalam keterangan resminya, Selasa (23/6/2026).
Menurut Illiza, Aceh memiliki modal kuat untuk menggiatkan industri parfum nasional lewat pemanfaatan nilam dan beragam tanaman aromatik yang selama ini menjadi bahan baku industri atsiri dunia.
Lewat kemitraan ini, Banda Aceh berharap dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut melalui pengolahan produk jadi berdaya saing tinggi.
Grasse sendiri memiliki ekosistem industri yang mencakup pendidikan, riset, inovasi, hingga pemasaran internasional yang dapat menjadi rujukan bagi Banda Aceh dalam menyusun rantai industri yang terintegrasi.
Wali Kota Grasse, Jérôme Viaud, menyatakan bahwa kedua kota memiliki visi selaras dalam mengubah sumber daya lokal menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
“Meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer, Grasse dan Banda Aceh memiliki visi yang sama dalam mengembangkan sumber daya lokal dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. LoI ini merupakan titik awal dari kemitraan yang dibangun atas dasar pertukaran, kepercayaan, dan berbagai pengalaman,” ujar Viaud.
Melalui kerja sama ini, fokus utama kedua pihak meliputi pengembangan SDM di sektor parfum dan industri atsiri, penguatan ekonomi kreatif, pengembangan pariwisata berbasis wewangian, serta pertukaran teknologi pengolahan bahan aromatik.
Selain meningkatkan daya saing industri, kemitraan ini diharapkan mampu membuka peluang usaha lebih luas bagi UMKM, memicu investasi, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor ekonomi kreatif.
Konsul Jenderal RI di Marseille, Dian Kusumaningsih, menilai kemitraan ini sebagai contoh nyata sinergi antardaerah lintas negara yang mampu membuka peluang ekonomi lebih luas.
Sejak peluncuran program "Banda Aceh Kota Parfum Indonesia" pada 2025, pemerintah daerah terus membangun kolaborasi dengan UMKM, akademisi, kementerian, hingga mitra internasional.
Dengan menggandeng Grasse, Banda Aceh optimistis industri parfum lokal tidak hanya menjadi penggerak ekonomi daerah, tetapi juga mampu menembus pasar global dan meningkatkan ekspor produk unggulan daerah.