S-LCA Jadi Kunci Akselerasi Capaian Target SDGs Indonesia

Selasa, 23 Juni 2026 | 19:01:02 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy. (Foto: NET)

JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menyebutkan bahwa Social Life Cycle Assessment (S-LCA) mampu menerjemahkan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi dampak nyata yang terukur.

S-LCA merupakan sebuah metode analisis yang berfungsi mengukur dampak sosial serta sosio-ekonomi dari sebuah produk, layanan, atau proses selama siklus hidupnya berlangsung.

“Kami perlu mengintegrasikan S-LCA ke dalam seluruh indikator SDGs yang masih tertinggal, sehingga dapat digunakan untuk mengantisipasi risiko sosial, mengarahkan implementasi, serta memaksimalkan dampak dari setiap investasi pembangunan,” ujarnya dalam agenda The 10th International Conference of Social Life Cycle Assessment (S-LCA 2026), di Japfa The Learning Centre (JTLC), Bogor, Jawa Barat, dalam keterangan resmi, di Jakarta, Selasa (23/6/2026).

Rachmat Pambudy mengungkapkan bahwa Indonesia kini sedang mempercepat pencapaian visi Indonesia Emas 2045 lewat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. 

Fokus utama pembangunan meliputi penguatan ketahanan pangan dan energi, percepatan hilirisasi industri, peningkatan mutu sumber daya manusia, serta upaya pengentasan kemiskinan.

Lebih lanjut, Menteri PPN menuturkan bahwa Indonesia telah menuntaskan lebih dari 62 persen target SDGs. Meski demikian, sekitar 24 persen target lainnya, terutama yang berkaitan dengan pilar sosial dan tata kelola, masih membutuhkan perhatian serius sebelum tahun 2030.

Oleh karena itu, Rachmat Pambudy menekankan bahwa penerapan S-LCA perlu diperluas guna membantu mengantisipasi risiko sosial, menguatkan implementasi program, serta memaksimalkan dampak pembangunan bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Pendekatan ini dipandang mampu menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan kebijakan, sekaligus memastikan proses transformasi pembangunan tidak mengabaikan kelompok rentan dan mampu menjangkau setiap lapisan masyarakat. 

“Hal tersebut sejalan dengan prinsip no one left behind sebagai landasan tercapainya SDGs untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Kepala Bappenas.

Perlu diketahui, forum dengan tema “Unity in Diversity” ini kembali digelar untuk pertama kalinya di kawasan Asia Pasifik sejak 2010 oleh Life Cycle Indonesia (LCI) bersama JAPFA. Kegiatan tersebut diikuti oleh 430 peserta dari 35 negara dengan total 169 kontribusi ilmiah.

Terkini