Rachmat Pambudy: Polri Perlu Jadi Pelopor Pemanfaatan AI di Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 | 18:36:01 WIB
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy. (Foto: NET)

JAKARTA – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengimbau Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) agar mengoptimalkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) guna meningkatkan efektivitas pengumpulan serta analisis data dalam memecahkan beragam tindak kriminal.

Rachmat menyebutkan bahwa penggunaan AI mampu membantu aparat penegak hukum menyingkap kejahatan yang terjadi jauh di masa lalu melalui penguatan data dan analisis yang lebih akurat.

"Saya contohkan ada di negara lain bahwa kejahatan yang sudah dilakukan 20 tahun yang lalu, dengan bantuan data, penguatan data, pengumpulan data, dan kecerdasan buatan maka kejahatan itu bisa terungkap dengan baik dan tepat dengan presisi," kata Rachmat setelah menjadi pembicara dalam Seminar Sekolah Lemdiklat Polri di Bandung Barat, Jumat (19/6/2026).

Menurutnya, implementasi AI tidak sekadar relevan untuk proses penyelidikan dan penyidikan perkara, tetapi juga bermanfaat bagi pengembangan lembaga pendidikan serta riset di internal Polri.

Ia menegaskan bahwa Polri mesti menjadi garda terdepan dalam penerapan teknologi AI yang bertanggung jawab, sembari tetap mewaspadai risiko penyalahgunaan teknologi tersebut.

"Sebaliknya, kalau tidak hati-hati, AI juga bisa digunakan secara salah. Nah, polisi harus tahu kapan AI digunakan dengan baik dan kapan digunakan untuk kegiatan yang tidak baik," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia melanjutkan, Polri perlu berada di barisan terdepan dalam memahami dinamika teknologi digital agar mampu mengantisipasi berbagai modus kejahatan baru yang memanfaatkan teknologi.

"Karena itu, polisi harus menjadi pelopor, menjadi ujung tombak bagi perkembangan AI di Indonesia," katanya.

Ia menambahkan bahwa penggunaan AI dan internet juga berpotensi membuat Polri semakin akrab dengan masyarakat. Berdasarkan data yang ia miliki, lebih dari 230 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna internet, sehingga interaksi sosial masyarakat kini kian banyak terjadi di ruang digital.

Rachmat berpendapat bahwa pemahaman akan perilaku masyarakat, baik di ruang digital maupun lingkungan sosial, merupakan aspek krusial bagi kepolisian dalam melaksanakan tugas pelayanan serta pemeliharaan keamanan.

"Kalau polisi tahu masyarakat sekitarnya, kondisi masyarakat yang di lingkungan terbawah, maka polisi itu pasti lebih dekat dengan hati masyarakat," kata Rachmat.

Terkini