Cara MIND ID Kurangi Limbah B3 Hingga 38% Lewat Inovasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:51:31 WIB
Mining Industry Indonesia (MIND ID). (Foto: NET)

JAKARTA - Holding Industri Pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mining Industry Indonesia (MIND ID), terus mengoptimalkan pemanfaatan material sisa proses produksi demi menjalankan praktik pertambangan yang berkelanjutan. 

Perusahaan ini telah mengimplementasikan berbagai langkah strategis untuk meminimalisasi limbah, baik yang masuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maupun non-B3.

Division Head of Sustainability MIND ID, Binahidra Logiardi, menyebutkan bahwa kebutuhan akan komoditas mineral seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, dan aluminium terus meningkat seiring dengan perkembangan sektor elektrifikasi, pengembangan baterai, perluasan jaringan energi, serta kendaraan listrik. 

Menurut Binahidra, peningkatan pengelolaan mineral strategis tersebut harus dibarengi dengan penanganan sisa hasil produksi yang bertanggung jawab.

"Karena itu, MIND ID menerapkan kerangka strategi keberlanjutan grup atau Sustainability Pathway. Salah satu fokusnya adalah minimisasi limbah melalui efisiensi operasional dan pemanfaatan kembali material hasil kegiatan pertambangan," kata Binahidra melalui keterangan tertulis pada Senin (15/6/2026).

Upaya ini membuahkan hasil nyata. MIND ID mencatat penurunan volume limbah padat B3 sekitar 38% dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Secara rinci, volume limbah padat B3 berhasil ditekan dari 351 kiloton pada 2023 menjadi 279 kiloton pada 2024, kemudian kembali turun ke angka 217 kiloton pada 2025. 

Pada rentang waktu yang sama, limbah padat non-B3 juga mencatatkan penurunan dari 1.082 kiloton menjadi 956 kiloton.

"Limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien sehingga limbah yang dihasilkan semakin berkurang," ungkap Binahidra.

Binahidra menjelaskan bahwa pengelolaan limbah di lingkungan Grup MIND ID dilakukan secara mandiri atau bermitra dengan pihak ketiga yang memiliki izin resmi. 

Hasil olahan limbah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan atau pembangunan infrastruktur bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Sebagai contoh, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka mengolah slag feronikel menjadi paving block dan batako. 

"Material slag diangkut dari area penampungan, dicampur dengan semen dan air, kemudian dicetak dan dikeringkan untuk menghasilkan produk konstruksi yang memiliki nilai tambah dengan total produksi tahunan mencapai 5.000 ton per tahun," terang Binahidra.

Selain itu, PT Freeport Indonesia memanfaatkan tailing sebagai material agregat campuran paste backfill untuk operasi tambang bawah tanah dengan kapasitas sekitar 1.500 kiloton per tahun. 

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menggunakan slag nikel untuk stabilisasi lahan, pembangunan jalan, dan infrastruktur tambang dengan volume mencapai 5.300 kiloton per tahun.

Binahidra menegaskan bahwa inisiatif-inisiatif tersebut membuktikan bahwa pengelolaan limbah kini bukan sekadar kewajiban kepatuhan, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan risiko dan penciptaan nilai perusahaan.

"Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat," tandasnya.

Terkini