Kimia Farma Bangun Ekosistem Layanan Kesehatan Lansia Terintegrasi

Senin, 15 Juni 2026 | 03:56:07 WIB
PT Kimia Farma (Persero) Tbk. (Foto: NET)

JAKARTA – PT Kimia Farma (Persero) Tbk sedang membangun ekosistem layanan kesehatan terintegrasi khusus untuk warga lanjut usia. Langkah strategis ini diambil guna menangkap peluang ekonomi kelompok lansia yang diproyeksikan menyentuh angka Rp500 triliun hingga Rp700 triliun setiap tahunnya menjelang 2045.

Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, menyatakan bahwa melonjaknya populasi lansia akan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan industri kesehatan nasional dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

"Kimia Farma tidak hanya menyediakan produk dan layanan kesehatan, tetapi juga membangun infrastruktur nasional untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045," ujar Hanadi dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Demi menggapai potensi tersebut, perseroan menerapkan Silver Economy Blueprint atau cetak biru ekonomi penuaan. Hal ini dilakukan seiring prediksi bahwa proporsi penduduk lansia di Indonesia akan melonjak menjadi 20 persen pada 2045, dari posisi sekitar 12 persen pada 2026.

Saat ini, kelompok lansia telah menyerap 30 persen hingga 40 persen dari total belanja kesehatan nasional, atau sekitar Rp190 triliun sampai Rp260 triliun per tahun. 

Menurut Hanadi, tingginya pengeluaran ini disebabkan oleh konsumsi layanan kesehatan lansia yang tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia lain, terutama untuk penanganan penyakit kronis.

Di tengah tren kenaikan harga obat, Kimia Farma melihat pergeseran demografi ini sebagai peluang untuk menciptakan model bisnis kesehatan yang menitikberatkan pada aspek pencegahan dan rehabilitasi. 

Perseroan memproyeksikan bahwa 70 persen nilai pasar sektor kesehatan di masa depan akan terkonsentrasi pada layanan terintegrasi, yang mencakup layanan perawatan jangka panjang (20 persen), pengelolaan penyakit kronis (20 persen), layanan kebugaran dan pencegahan (15 persen), serta layanan diagnostik (15 persen). 

Selain itu, perusahaan memperluas layanan pencegahan dan perawatan personal melalui portofolio Healthspan.

Dalam mendukung inisiatif ini, PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) menghadirkan layanan diagnostik dan deteksi dini risiko penyakit kronis. Bagi lansia dengan keterbatasan mobilitas, tersedia pula layanan home care seperti Home Lab, Home Pharmacy, dan Home Nurse.

Hanadi mengakui bahwa pengembangan ekosistem healthy ageing masih menemui kendala, seperti kurangnya integrasi layanan home care, tantangan pembiayaan preventif, serta minimnya tenaga pendamping lansia dan tenaga kesehatan geriatri. Akses layanan kesehatan spesialis lansia di wilayah di luar kota besar pun masih terbatas.

Oleh karena itu, Hanadi menegaskan bahwa Kimia Farma terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lansia demi menciptakan ekosistem layanan kesehatan yang berkelanjutan. 

Perseroan juga mengupayakan model pembiayaan multisaluran yang memadukan BPJS Kesehatan, program kesehatan perusahaan, asuransi swasta, hingga model co-payment untuk memastikan layanan healthy ageing yang lebih inklusif.

Terkini