Rupiah Menguat, Akhiri Tren Pelemahan 11 Pekan Berturut-turut

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14:01 WIB
Presiden Komisaris HFX Internasional Berjangka, Sutopo Widodo. (Foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di penghujung pekan. Sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik dunia serta masifnya aliran modal asing ke instrumen domestik menjadi motor utama penguatan mata uang Garuda.

Berdasarkan data, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.860 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026), terapresiasi 0,72% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di angka Rp 17.989 per dolar AS. 

Secara akumulasi mingguan, rupiah menguat 0,98% dari posisi Rp 18.188 per dolar AS pada awal pekan. 

Kenaikan serupa juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang bergerak dari Rp 18.171 per dolar AS pada Senin (8/6) ke Rp 17.921 per dolar AS pada Jumat (12/6), atau naik sekitar 1,38% dalam sepekan.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyatakan bahwa apresiasi rupiah didorong oleh perpaduan faktor eksternal dan domestik. 

Dari kancah global, pasar menanggapi positif komentar Presiden AS, Donald Trump, yang mengindikasikan kemajuan dalam diskusi dengan Iran serta peluang tercapainya perdamaian.

"Pasar merespons positif pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan adanya kemajuan dalam diskusi dengan Iran, dengan peluang tercapainya kesepakatan damai di Eropa akhir pekan ini," ujar Sutopo, Jumat (12/6/2026).

Menurut Sutopo, kemajuan tersebut berhasil meredam kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan suplai energi global, khususnya di Timur Tengah. 

Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi kepemilikan aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan kembali menambah eksposur pada aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang.

Dari dalam negeri, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,50% turut meningkatkan daya pikat aset keuangan domestik di mata investor asing. 

Selain itu, masuknya dana asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta Surat Berharga Negara (SBN) ikut mempertebal pasokan valuta asing di pasar. 

Kepercayaan investor juga terdorong oleh proyeksi Bank Dunia yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menyentuh 5% pada 2026, yang memperkuat pandangan bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup solid di tengah ketidakpastian global.

Sutopo menilai perpaduan intervensi Bank Indonesia, peningkatan daya tarik instrumen rupiah, dan meredanya ketegangan geopolitik sukses membantu rupiah keluar dari tren pelemahan yang terjadi selama sebelas pekan berturut-turut.

Walau pergerakan rupiah ke depan masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dunia, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta konsistensi aliran modal asing ke pasar domestik, rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pekan depan jika sentimen risk-on global tetap terjaga. 

Sebaliknya, meningkatnya ketidakpastian geopolitik atau kembali menguatnya dolar AS dapat membatasi ruang apresiasi. Sutopo memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp 17.650 - Rp 18.050 per dolar AS pada pekan depan.

Terkini